Ar-Rahman, ayat 37-45

Yakni yang disuguhkan dalam keadaan sangat panas lagi tak terperikan panasnya. Sama juga dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{غَيْرَ نَاظِرِينَ إِنَاهُ}

dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya). (Al-Ahzab: 53)

Yaitu kemasakan dan kematangannya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{حَمِيمٍ آنٍ}

air mendidih yang memuncak panasnya. (Ar-Rahman: 44)

Maksudnya, air yang titik didihnya telah mencapai puncak yang tertinggi dan sangat panas.

Mengingat hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka lagi berdosa dan pemberian nikmat kepada orang-orang yang bertakwa merupakan karunia, rahmat, keadilan, dan kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya dan adalah peringatan Allah terhadap mereka tentang azab dan pembalasan-Nya untuk mencegah mereka dari kemusyrikan dan kedurhakaannya dan lain sebagainya, maka dalam ayat berikut Allah Swt. berfirman menyebutkan perihal karunia-Nya itu kepada makhluk-Nya:

{فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ}

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 45

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.