Ar-Ra’d, ayat 27-29

{وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنزلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (27) الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28) الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29) }

Orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (Mukjizat) dari Tuhannya?” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya, ” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Allah Swt. menceritakan perkataan orang-orang musyrik melalui firman-Nya:

{لَوْلا} أَيْ: هَلَّا {أُنزلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ}

Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya? (Ar-Ra’d: 27)

Ayat tersebut semakna dengan yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:

{فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الأوَّلُونَ}

maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus. (Al-Anbiya: 5)

Pembahasan mengenai hal ini telah disebutkan bukan hanya sekali saja pada kesempatan yang lalu, bahwa Allah mampu memperkenankan apa yang mereka minta itu.

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Rasul-Nya ketika kaumnya meminta beliau mengubah Bukit Safa menjadi emas buat mereka, dan mengalirkan buat mereka mata air yang berlimpah sumber airnya, serta menggeserkan bukit-bukit yang ada di sekitar Mekah, lalu menggantikan kedudukannya menjadi kebun-kebun dan lapangan-lapangan rumput yang hijau, “Jika kamu suka, hai Muhammad, Aku akan memberi mereka apa yang mereka minta itu. Tetapi jika mereka tetap kafir (sesudahnya), Aku akan mengazab mereka dengan azab yang belum pernah Aku timpakan kepada seorang pun dari penduduk dunia ini. Dan jika kamu suka, Aku bukakan atas mereka pintu tobat dan rahmat.” Maka Rasulullah Saw. berkata:

“بَلْ تَفْتَحُ لَهُمْ بَابَ التَّوْبَةِ وَالرَّحْمَةِ”

Tidak, bukakanlah oleh-Mu pintu tobat dan rahmat buat mereka.

Karena itulah dalam ayat ini Allah Swt. berfirman kepada Rasul-Nya:

قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ}

Katakanlah, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra’d: 27)

Artinya, Dialah yang menyesatkan dan yang memberi petunjuk, baik Dia memberikan mukjizat kepada Rasul-Nya sesuai dengan apa yang mereka minta ataupun tidak memperkenankan permintaan mereka; karena sesungguhnya hidayah dan penyesatan tiada kaitannya dengan keberadaan dan ketiadaan hal tersebut. Di dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:

{وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ}

Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman. (Yunus: 101)

{إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الألِيمَ}

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (Yunus: 96-97)

{وَلَوْ أَنَّنَا نزلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ}

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-An’am: 111)

Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

{قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ}

Katakanlah, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertobat kepada-Nya.” (Ar-Ra’d: 27)

Yakni Allah memberikan petunjuk kepada orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya serta memohon pertolongan kepada-Nya dengan berendah diri kepada-Nya.

{الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ}

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. (Ar-Ra’d: 28)

Maksudnya, hati mereka senang dan tenang berada di sisi Allah, merasa tenteram dengan mengingat-Nya, dan rela kepada-Nya sebagai Pelindung dan Penolong(nya). Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ}

Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d: 28)

Ayat di atas bermakna bahwa Allah berhak untuk diingati.

*******************

Firman Allah Swt.:

{الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ}

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (Ar-Ra’d: 29)

Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna tuba ialah ‘gembira dan sejuk hati’. Menurut Ikrimah, artinya ‘alangkah nikmatnya apa yang mereka peroleh’. Menurut Ad-Dahhak, artinya ‘ungkapan rasa keinginan beroleh kenikmatan seperti mereka’. Menurut Ibrahim An-Nakha’i, artinya ‘kebaikanlah bagi mereka’.

Qatadah mengatakan bahwa kata ini merupakan kata dari bahasa Arab. Bila seseorang mengatakan kepada temannya, “Tuba Laka” artinya ‘engkau telah beroleh kebaikan’. Menurut riwayat lain, ia mengatakan bahwa tuba lahum artinya kebaikanlah bagi mereka.

{وَحُسْنُ مَآبٍ}

tempat kembali yang baik. (Ar-Ra’d: 29)

Yakni tempat kembali. Semua pendapat yang telah disebutkan di atas pada prinsipnya sama, tiada pertentangan di antaranya.

Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna tuba lahum, bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang ada di negeri Habsyah. Sa’id ibnu Masju’ mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah taman yang terletak di India. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh As-Saddi, dari Ikrimah, bahwa tuba lahum artinya surga (taman). Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa setelah Allah menciptakan surga dan telah merampungkannya, berfirmanlah Dia: Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik (Ar-Ra’d: 29) Demikian itu sebagai ungkapan rasa takjub akan keindahannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ja’far, dari Syahr ibnu Hausyab yang mengatakan bahwa tuba adalah nama sebuah pohon di dalam surga; semua pepohonan surga berasal darinya, ranting-rantingnya berasal dari balik tembok surga.

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Mugis ibnu Summi, Abi Ishaq As-Subai’i, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf yang bukan hanya seorang. Mereka mengatakan bahwa tuba adalah sebuah pohon di dalam surga, pada tiap-tiap rumah (gedung) surga terdapat ranting yang berasal darinya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah, Mahasuci lagi Mahatinggi telah menanamnya sendiri dengan tangan kekuasaan-Nya dari butir mutiara, lalu Allah memerintahkan kepadanya untuk menjalar; maka pohon itu menjalar menurut yang dikehendaki oleh Allah Swt. Dari bawah akarnya memancar sumber air sungai-sungai surga yang berasa madu, khamr, dan air susu.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.