An-Nisa, ayat 163-165

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abul Mugirah, dari Ma’an ibnu Rifa’ah, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, bahwa Abu Zar pernah bertanya kepada Nabi Saw. Maka Nabi Saw. menye­butkan perkara salat, puasa, sedekah, keutamaan ayat Kursi, dan kali­mati la haula wala quwwata illa billahi (tidak ada upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), syuhada yang paling utama, hamba sahaya yang paling utama, kenabian Nabi Adam, dan bahwa dia diajak bicara langsung oleh Allah, serta bilangan para nabi dan para rasul, seperti yang disebutkan di atas.

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْإِمَامِ أَحْمَدَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِ أَبِي بِخَطِّهِ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمُتَعَالِي بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأمَوي، حَدَّثَنَا مُجَالِد عَنْ أَبِي الوَدَّاك قَالَ: قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: هَلْ تَقُولُ الْخَوَارِجُ بِالدَّجَّالِ؟ قَالَ: قُلْتُ: لَا. فَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنِّي خاتمُ ألفِ نَبِيٍّ أَوْ أكثرَ، وَمَا بُعِثَ نبيٌّ يُتَّبعُ إِلَّا وَقَدْ حَذَّرَ أُمَّتَهُ مِنْهُ، وَإِنِّي قَدْ بُيِّنَ لِي مَا لَمْ يُبَيَّن [لِأَحَدٍ] وَإِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَعَيْنُهُ الْيُمْنَى عَوْرَاءُ جَاحِظَةٌ لَا تَخْفَى، كَأَنَّهَا نُخَامَةٌ فِي حَائِطٍ مُجَصَّص، وَعَيْنُهِ الْيُسْرَى كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ، مَعَهُ مِنْ كُلِّ لِسَانٍ، وَمَعَهُ صُورَةُ الْجَنَّةِ خَضْرَاءُ يَجْرِي فِيهَا الْمَاءُ، وَصُورَةُ النَّارِ سَوْدَاءُ تَدْخُن”

Abdullah ibnul Imam Ahmad mengatakan bahwa ia menjumpai dalam kitab ayahnya yang ditulis oleh tangan ayahnya sendiri, telah menceritakan kepadaku Abdul Muta’ali ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id Al-Umawi, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak yang mengatakan bahwa Abu Sa’id pernah bertanya, “Apakah menurut pendapatmu Khawarij adalah Dajjal?” Abul Wadak menjawab, “Bukan.” Lalu Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya aku adalah penutup seribu nabi atau lebih, dan ti­dak sekali-kali seorang nabi yang diutus kecuali dia pasti mem­peringatkan umatnya terhadap Dajjal. Dan sesungguhnya telah dijelaskan kepadaku hal-hal yang belum pernah diterangkan. Se­sungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhan kalian tidaklah buta. Mata Dajjal yang sebelah kanan buta lagi menonjol tampak jelas seakan-akan seperti dahak yang ada pada tembok yang diplester, sedangkan mata kirinya seakan-akan se­perti bintang yang berkilauan, pada tiap-tiap anggota tubuhnya terdapat lisan, dan ia selalu membawa gambaran surga yang hi­jau di dalamnya mengalir air. dan gambaran neraka yang hitam lagi berasap.

Kami meriwayatkannya pada bagian yang di dalamnya terdapat riwa­yat Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Yahya ibnu Mu’in, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“إِنِّي أَخْتِمُ ألفَ ألفَ نبيٍّ أَوْ أكثرَ، مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَى قَوْمِهِ إِلَّا حذَّرهم الدجالَ….”

Sesungguhnya aku mengakhiri sejuta nabi atau lebih. Tidak seka­li-kali Allah mengutus seseorang nabi kepada kaumnya, melain­kan memperingatkan kepada mereda terhadap Dajjal.

Lalu ia menuturkan hadis ini hingga selesai, demikianlah menurut la­faz yang diketengahkannya, yaitu dengan tambahan lafaz alfun (hing­ga maknanya menjadi satu juta, bukan seribu).

Tetapi adakalanya lafaz tersebut merupakan sisipan, hanya Allah yang lebih mengetahui. Tetapi konteks riwayat Imam Ahmad lebih kuat dan lebih berhak untuk dinilai sahih, Semua perawi yang disebutkan dalam sanad hadis ini tidak ada masalah.

Hadis ini diriwayatkan pula melalui jalur Jabir ibnu Abdullah r.a.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا مُجَالد، عَنِ الشَّعبي، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنِّي لخاتمُ أَلْفِ نبيٍّ أَوْ أَكْثَرَ، وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْهُمْ نبيٌّ إِلَّا وَقَدْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ الدَّجالَ، وَإِنِّي قَدْ بُيِّن لِي مَا لَمْ يُبَيَّن لِأَحَدٍ مِنْهُمْ وَإِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بأعورَ”

Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah ber­sabda: Sesungguhnya aku benar-benar merupakan penutup seribu nabi atau lebih, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah memperingatkan umatnya akan Dajjal Dan se­sungguhnya telah dijelaskan kepadaku apa-apa yang belum per­nah dijelaskan kepada seseorang pun dari mereka (para nabi). Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan se­sungguhnya Tuhan kalian itu tidaklah buta.

*******************

Firman Allah Swt,:

{وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا}

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa: 164)

Hal ini merupakan suatu penghormatan kepada Nabi Musa a.s. Kare­na itu, Nabi Musa dikenal dengan julukan ‘Kalimullah’.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan, telah menceritakan ke­pada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sulaiman Al-Maliki, telah menceritakan kepada kami Masih ibnu Hatim, telah menceritakan ke­pada kami Abdul Jabbar ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Abu Bakar ibnu Ayyasy, lalu ia menga­takan bahwa dirinya mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya dengan bacaan seperti berikut:

“وَكَلَّمَ اللَّهَ مُوسَى تَكْلِيمًا”

“Dan Musa berbicara kepada Allah dengan langsung.”

Maka Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata, “Tidak sekali-kali mem­baca ayat ini dengan bacaan itu, melainkan hanyalah orang kafir.” Abu Bakar mengatakan bahwa ia belajar qiraah dari Al-A’masy, dan Al-A’masy belajar qiraah dari Yahya ibnu Wasab, Yahya ibnu Wasab belajar qiraah dari Abu Abdur-Rahman As-Sulami. dan Abu Abdur­Rahman As-Sulami belajar qiraah dari Ali ibnu Abu Talib, dan Ali ibnu Abu Talib belajar qiraah dari Rasulullah Saw. Mengenai ayat ini yang bunyinya mengatakan:

{وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا}

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (An-Nisa: 164)

Abu Bakar ibnu Ayyasy marah terhadap orang yang membaca ayat tersebut tiada lain karena orang tersebut membacanya dengan bacaan yang mengubah maknanya. Ternyata lelaki tersebut dari kalangan mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara kepada Musa a.s. atau berbicara kepada seseorang dari makhluk-Nya. Seperti yang kami riwayatkan dari salah seorang mu’tazilah, bahwa ia membaca­kan firman berikut kepada salah seorang syekh dengan bacaan beri­kut:

“وَكَلَّمَ اللَّهَ مُوسَى تَكْلِيمًا”

Dan Allah diajak bicara oleh Musa dengan langsung.

Maka syekh itu berkata kepadanya, “Hai Ibnul Lakhna, apakah yang akan engkau lakukan terhadap firman Allah Swt. yang mengatakan:

{وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ}

‘Dan tatkala datang Musa untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya’ (Al-A’raf: 143)?”

Dengan kata lain, makna ayat tersebut tidak mengandung takwil dan perubahan makna.

قَالَ ابْنُ مَرْدُوَية: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ بَهْرَام، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا هَانِئُ بْنُ يَحْيَى، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ، عَنْ قَتَادَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّاب، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَما كَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى كَانَ يُبْصِرُ دبيبَ النَّمْلِ عَلَى الصَّفَا فِي اللَّيْلَةِ الظَّلْمَاءِ”.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.