Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi Imam Turmuzi meriwayatkannya dengan singkat dan ia menilainya hasan. Makna lahiriah konteks hadis ini menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sesudah kisah Aus ibnus Samit dan istrinya (Khuwailah binti Sa’labah), sebagaimana yang tersimpulkan dari konteks hadis ini dan hadis yang sebelumnya setelah direnungkan secara mendalam.
Khasif telah meriwayatkan dari Mujahid dan Ibnu Abbas, bahwa lelaki yang mula-mula men-zihar istrinya adalah Aus ibnus Samit, saudara lelaki Ubadah ibnus Samit. Istrinya bernama Khuwailah binti Sa’labah ibnu Malik. Disebutkan bahwa setelah suaminya men-zihar-nya, ia merasa takut bila zihar itu merupakan suatu talak, lalu ia mendatangi Rasulullah Saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Aus telah men-zihar-ku; dan sesungguhnya jika kami bercerai, niscaya binasalah kami. Sesungguhnya telah kugelarkan perutku untuknya, dan dengan setia aku menemaninya.” Khuwailah mengadukan hal tersebut seraya menangis, sedangkan wahyu masih belum ada yang menerangkan masalah tersebut. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. (Al-Mujadilah: 1) sampai dengan firman-Nya: dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang sangat pedih. (Al-Mujadilah: 4) Maka Rasulullah Saw. memanggil Aus ibnus Samit dan bersabda, “Mampukah kamu membeli seorang budak untuk kamu merdekakan?” Aus menjawab, “Tidak, demi Allah, ya Rasulullah, aku tidak mempunyai kemampuan untuk itu.” Maka Rasulullah Saw. menghimpun dana untuknya hingga cukup untuk membeli budak, lalu budak yang telah dibeli itu dimerdekakan oleh Rasulullah Saw. untuk kifarat Aus, setelah itu Aus kembali lagi kepada istrinya. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.
Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama berpendapat seperti apa yang telah kami kemukakan di atas; dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
*******************
Firman Allah Swt.:
{الَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْكُمْ مِنْ نِسَائِهِمْ}
Orang-orang yang men-zihar istrinya di antara kamu. (Al-Mujadilah: 2)
Kata zihar berasal dari zahar, artinya punggung, Dahulu di masa Jahiliah apabila seseorang dari mereka men-zihar istrinya, ia mengatakan kepada istrinya, “Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku,” yakni punggungnya sama dengan punggung ibunya. Kemudian menurut istilah syara’ kata zihar ini bisa saja diberlakukan terhadap anggota tubuh lainnya secara analogi (kias). Dahulu di masa Jahiliah zihar dianggap sebagai talak, kemudian Allah Swt. memberikan kemurahan bagi umat ini. Dia tidak menjadikannya sebagai talak, dan pelakunya hanya dikenai sanksi membayar kifarat, berbeda dengan apa yang berlaku di kalangan mereka di masa Jahiliah. Hal yang sama telah dikatakan oleh bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Abu Hamzah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu di masa Jahiliah apabila seorang lelaki berkata kepada istrinya, “Engkau menurutku sama dengan punggung ibuku,” maka istrinya itu haram baginya. Dan orang yang mula-mula men-zihar istrinya di masa Islam adalah Aus. Saat itu istrinya adalah anak perempuan pamannya yang dikenal dengan nama Khuwailah binti Sa’labah. Di suatu hari ia men-zihar istrinya, lalu ia menyesali perbuatannya, dan berkata, “Menurutku dirimu tiada lain telah haram dariku,” dan istrinya mengatakan hal yang sama. Akhirnya
Aus berkata kepada istrinya, “Pergilah kepada Rasulullah Saw.” Maka istri Aus datang menghadap kepada Rasulullah Saw. dan ia menjumpai di sisi Rasulullah Saw. terdapat sisir yang beliau gunakan untuk menyisiri rambutnya Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Khuwailah, Allah tidak memerintahkan sesuatu pun kepada kami sehubungan dengan kasusmu itu ” Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah Saw., dan Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Khuwailah, bergembiralah!” Khuwailah menjawab, “Semoga kebaikan saja adanya.” Maka Rasulullah Saw. membacakan kepadanya firman Allah Swt. yang mengatakan: Sungguh, Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. (Al-Mujadilah: 1) sampai dengan firman-Nya: Dan orang-orang yang men-zihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang telah mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu bercampur. (Al-Mujadilah: 3) Khuwailah berkata, “Dari manakah kami mendapatkan budak? Demi Allah, dia tidak mempunyai seseorang selain diriku.” Allah Swt. berfirman: Barang siapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut. (Al-Mujadilah: 4) Khuwailah berkata, “Demi Allah, seandainya dia (suaminya) tidak minum sebanyak tiga kali seharinya, niscaya pandangannya hilang (kabur, karena kelaparan).” Allah Swt. berfirman: Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. (Al-Mujadilah: 4) Khuwailah berkata lagi, “Dari manakah kami mendapatkan makanan sebanyak itu, sedangkan makanan kami hanyalah satu kali seharinya?” Maka Rasulullah Saw. memerintahkan agar diambilkan kurma sebanyak setengah wasaq, yaitu tiga puluh sa’, karena satu wasaq sama dengan enam puluh sa’. Lalu beliau Saw. bersabda, “Hendaklah ia memberi enam puluh orang miskin (dengan kurma ini) setelah itu ia boleh rujuk kembali kepadamu.”
Sanad hadis ini dinilai baik lagi kuat, tetapi konteksnyagarib. Telah diriwayatkan pula hal yang semisal dari Abul Aliyah.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman Al-Harawai, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Asim, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa Khaulah binti Dulaij adalah istri seorang lelaki dari kalangan Ansar yang matanya telah rabun, miskin, lagi buruk perangainya. Dan tersebutlah bahwa di masa Jahiliah dahulu apabila seorang lelaki hendak menceraikan istrinya, ia mengatakan kepadanya, “Engkau bagiku sama seperti punggung ibuku.” Tersebutlah pula bahwa Khaulah mempunyai seorang anak atau dua orang anak dari suaminya itu. Dan pada suatu hari Khaulah bertengkar dengan suaminya mengenai sesuatu, maka suaminya berkata kepadanya, “Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku.”
Lalu Khaulah pergi dengan pakaian yang seadanya hingga masuk ke rumah Siti Aisyah r.a., saat itu Rasulullah Saw. sedang berada di rumahnya. Khaulah menjumpai Aisyah sedang membasuh sebagian dari kepala Rasulullah Saw., lalu Khaulah menghadap kepada beliau dengan ditemani anaknya dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya suamiku matanya sudah rabun, miskin, tidak punya apa-apa, lagi buruk perangainya. Dan sesungguhnya aku bertengkar dengannya tentang sesuatu, lalu dia marah dan mengatakan, ‘Engkau bagiku sama dengan punggung ibuku,’ sedangkan dia tidak bermaksud menceraikanku, dan aku mempunyai seorang atau dua orang anak darinya.” Rasulullah Saw. bersabda, “Sepanjang pengetahuanku, tiada lain kamu telah menjadi haram baginya.” Khaulah berkata, “Aku mengadukan perihalku kepada Allah semoga Dia menurunkan wahyu berkenaan dengan masalahku dan ayah dari anak perempuanku ini.”