Al-Kahfi, ayat 60-65

Musa kembali ke tempat batu besar itu dan menjumpai ikan itu se­dang melompat-lompat di laut. Maka Musa mengikutinya dan menjadikan tongkatnya berada di depannya untuk menguakkan air laut guna mengikuti ikan. Sedangkan ikan itu tidak sekali-kali menyentuh air laut melainkan airnya menjadi kering dan keras seperti batu. Musa a.s. merasa kagum melihat pemandangan itu, hingga ikan itu sampai ke sebuah pulau di laut, sedangkan Musa mengikutinya.

Di pulau itu Musa bersua dengan Khidir dan mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab, “Wa’alaikas salam, dimanakah ada kese­jahteraan di bumi ini, dan siapakah kamu?” Musa menjawab, “Saya Mu­sa.” Khidir bertanya, “MusaNabi Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya.” Khidir menyambutnya dengan sambutan yang hangat, lalu bertanya, “Apakah yang mendorongmu datang kemari?” Musa menjawab: “Supaya kamu mengajarkan kepadaku Umu yang benar di an­tara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu.” Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.” (Al-Kahfi: 66-67)

Khidir menjawab, “Kamu tidak akan kuat menguasai ilmu itu.” Insya Allah kamu akan mendapati aku sefbagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun. (Al-Kahfi: 69)

Maka Khidir membawa Musa pergi, lalu berkata kepadanya, “Janganlah kamu bertanya kepadaku tentang sesuatu pun yang aku lakukan sebelum aku jelaskan kepadamu duduk perkara yang sebenarnya.” Yang demikian itu adalah firman Allah Swt.: sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu. (Al-Kahfi: 70)

Az-Zuhri telah meriwayatkan dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Utbah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah berdebat dengan Al-Hurr ibnu Qais ibnu Hisn Al-Fazzari tentang teman Musa ini. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ia adalah Khidir. Saat itu lewatlah Ubay ibnu Ka’b. Maka Ibnu Abbas memanggilnya dan menceritakan kepadanya, “Sesung­guhnya aku dan temanku ini berdebat tentang teman Musa yang mendo­rong Musa meminta kepada Tuhan agar dipertemukan dengannya. Apa­kah kamu pernah mendengar Rasulullah Saw. menceritakan tentangnya?”

Ubay ibnu Ka’b menjawab, sesungguhnya ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda bahwa ketika Musa sedang berada di tengah-tengah para pemuka kaum Bani Israil, tiba-tiba datanglah kepadanya seorang lelaki yang bertanya, “Tahukah kamu tempat seorang lelaki yang lebih alim daripada kamu?” Musa menjawab, “Tidak tahu.”

Allah mewahyukan kepada Musa, “Memang benar, dia adalah ham-ba-Ku bernama Khidir.” Maka Musa meminta kepada Tuhannya agar menunjukkan jalan untuk bersua dengannya. Allah menjadikan seekor ikan sebagai pertanda, seraya berfirman kepada Musa, “Jika kamu mera­sa kehilangan ikan ini, kembalilah ke tempatnya, maka sesungguhnya kamu akan menjumpainya di tempat itu.”

Musa mengikuti jalan ikan itu di laut. Murid Musa berkata kepada Musa, “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa ikan itu di tempat tersebut.” Musa berkata seperti yang disitir oleh firman-Nya: Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. (Al-Kahfi: 64) Keduanya menjumpai hamba Allah, yaitu Khidir. Mengenai perihal kedua­nya adalah seperti apa yang dikisahkan oleh Allah Swt. di dalam kitab (Al-Qur’an)-Nya

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.