Imam Turmuzi dan Ibnu Majah telah mengetengahkan hadis ini melalui Muhammad ibnul Bursani dengan sanad yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، حَدَّثَنَا بَكَّارٌ، حَدَّثَنِي أَبِي -يَعْنِي عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ أَبِي بَكْرَةَ -عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ سمَّع سمَّع اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ رَاءَى رَاءَى اللَّهُ بِهِ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdul Malik, telah menceritakan kepada kami Bakkar telah menceritakan kepadaku ayahku (Abdul Aziz ibnu Abu Bakrah), dari Abu Bakrah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang ingin didengar, maka Allah menjadikannya terkenal dengannya; dan barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan (amal)nya.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ فِرَاسٍ، عَنْ عَطِيَّةَ، عَنْ أبي سعيد الْخُدْرِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعُ اللَّهُ بِهِ”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Firas, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda: Barang siapa yang pamer, maka Allah akan memamerkan amalnya; dan barang siapa yang ingin didengar (amalnya), maka Allah menjadikan (amal)nya terkenal.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ شُعْبَةَ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَجُلًا فِي بَيْتِ أَبِي عُبَيْدَةَ؛ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يُحَدِّثُ ابْنِ عُمَرَ ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ سَمَّع النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّع اللَّهُ بِهِ، سَامَعَ خَلْقَهُ وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ” [قَالَ]: فَذَرَفَتْ عَيْنَا عَبْدِ اللَّهِ
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id dari Syu’bah, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Murrah, bahwa di rumah Abu Ubaidah ia mendengar seorang lelaki mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnu Amr menceritakan hadis berikut dari Ibnu Umar yang telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang amalnya ingin didengar oleh orang lain, maka Allah menjadikannya terkenal di kalangan semua makhluk-Nya, lalu Allah mengecilkan dan menghinakannya. Maka Abdullah menangis mencucurkan air matanya.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى الْأَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ غَسَّانَ، حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “تُعْرَضُ أَعْمَالُ بَنِي آدَمَ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ، عَزَّ وَجَلَّ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي صُحُفٍ مَخْتُومَةٍ ، فَيَقُولُ اللَّهُ: أَلْقُوا هَذَا، وَاقْبَلُوا هَذَا، فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: يَا رَبِّ، وَاللَّهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُ إِلَّا خَيْرًا. فَيَقُولُ: إِنَّ عَمَلَهُ كَانَ لِغَيْرِ وَجْهِي، وَلَا أَقْبَلُ الْيَوْمَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا أُرِيدَ بِهِ وَجْهِي”.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Yahya Al-Aili, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Amal-amal perbuatan Bani Adam dihadapkan kepada Allah Swt. pada hari kiamat terhimpun di dalam buku-buku catatan amal yang telah dilak. Lalu Allah berfirman, “Lemparkanlah yang ini dan terimalah yang itu.” Para malaikat berkata, “Wahai Tuhanku, demi Allah, kami tidak melihat selain kebaikan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya amal perbuatannya itu bukan karena mengharapkan rida-Ku. Pada hari ini Aku tidak mau menerima suatu amal perbuatan kecuali amal yang diniatkan untuk memperoleh rida-Ku.”
Kemudian Al-Haris ibnu Gassan mengatakan bahwa Abu Imran Al-Juni riwayat hadisnya banyak diambil oleh sejumlah ulama, dia adalah seorang yang berpredikat siqah, seorang ulama Basrah, yang tidak ada celanya (dalam periwayatan hadis).
قَالَ ابْنُ وَهْبٍ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ عِيَاضٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْخُزَاعِيِّ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: “مَنْ قَامَ رِيَاءً وَسُمْعَةً، لَمْ يَزَلْ فِي مَقْتِ اللَّهِ حَتَّى يَجْلِسَ”.
Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yazid ibnu Iyad, dari Abdur Rahman Al-A’raj, dari Abdullah ibnu Qais Al-Khuza’i, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang berdiri karena pamer dan harga diri, ia terus menerus dalam murka Allah hingga duduk.
قَالَ أَبُو يَعْلَى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ الْهَجَرِيِّ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ ابْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ أَحْسَنَ الصَّلَاةَ حَيْثُ يَرَاهُ النَّاسُ وَأَسَاءَهَا حَيْثُ يَخْلُو، فَتِلْكَ اسْتِهَانَةٌ اسْتَهَانَ بِهَا رَبَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ”.
Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Dinar, dari Ibrahim Al-Hijri, dari Abul Ahwas, dari Auf ibnu Malik, dari Ibnu Mas’ud r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Barang siapa yang mengerjakan salatnya dengan baik karena dilihat orang lain, dan mengerjakannya dengan buruk bila sendirian, maka hal ini merupakan suatu penghinaan yang dia lakukan terhadap Tuhannya melalui salatnya itu.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Ismail ibnu Amr As-Sukuni, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Qais Al-Kindi, bahwa ia pernah mendengar Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan membaca ayat berikut, yaitu firman-Nya: Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya. (Al-Kahfi: 110) Bahwa sesungguhnya ayat ini merupakan ayat yang paling akhir diturunkan.
Asar ini mengandung kemusykilan, karena sesungguhnya ayat ini berada di akhir surat Al-Kahfi, sedangkan surat Al-Kahfi seluruhnya diturunkan di Mekah. Barangkali Mu’awiyah bermaksud bahwa sesudahnya tidak ada ayat lain yang diturunkan untuk me-mansukh (merevisi)nya, dan tidak ada pula ayat lain yang merubah hukumnya, melainkan ia tetap muhkam. Sehingga pengertian ini agak kabur di mata sebagian para perawi yang akhirnya ia meriwayatkan dengan makna sesuai dengan pemahamannya sendiri. Hanya Allah yang mengetahui kebenarannya.
قَالَ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ شَقِيقٍ، حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شميل، حدثنا أبو قُرَّرة، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَرَأَ فِي لَيْلَةٍ: {فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} ، كَانَ لَهُ مِنْ نُورٍ، مِنْ عَدَنَ أَبْيَنَ إِلَى [مَكَّةَ] حَشْوُهُ الْمَلَائِكَةُ
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan,telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnul Hasan ibnu Syaqiq, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Syamil, telah menceritakan kepada kami Abu Qurrah, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Umar ibnul Khattab yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa di suatu malam membaca firman-Nya, “Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya” (Al-Kahfi: 110), hingga akhir ayat, maka untuknya ada nur (cahaya) yang kelihatan jelas dari Adn sampai ke Mekah, di dalam nur itu penuh dengan para malaikat.