Al-A’raf, ayat 172-174

Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, As-Saddi, dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf telah meriwayatkan asar-asar yang teks-teksnya bersesuaian dengan hadis-hadis ini. Kami cukupkan dengan apa yang telah kami sebutkan agar pembahasannya tidak bertele-tele, dan hanya kepada Allah-lah Kami memohon pertologan.

Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt. mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbinya, lalu Dia memisahkan antara ahli surga dan ahli neraka di antara mereka. Adapun mengenai pengambilan kesaksian yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, maka tiada lain hanya terdapat di dalam hadis Kalsum ibnu Jubair, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, juga dalam hadis Abdullah ibnu Amr. Kami telah menjelaskan bahwa keduanya mauquf, bukan marfu’ seperti yang telah disebutkan di atas. Karena itulah ada sebagian ulama Salaf dan ulama Khataf yang mengatakan bahwa persaksian ini tiada lain adalah fitrah mereka yang mengakui keesaan Tuhan, seperti yang disebutkan di dalam hadis Abu Hurairah dan Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi’i. Juga seperti yang disebutkan melalui riwayat Al-Hasan Al-Basri, dari Al-Aswad ibnu Sari’; dan Al-Hasan menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut. Mereka mengatakan bahwa karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

{وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ}

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam. (Al-A’raf: 172)

tidak disebutkan dari Adam.

{مِنْ ظُهُورِهِمْ}

Dari sulbi mereka. (Al-A’raf: 172)

tidak disebutkan dari sulbinya (Adam).

{ذُرِّيَّاتِهِمْ}

anak cucu mereka. (Al-A’raf: 172)

Yakni Allah menjadikan keturunan mereka generasi demi generasi, satu kurun demi satu kurun, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat-ayat lain, yaitu:

{وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ}

Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi. (Fathir: 39)

{وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ}

dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An-Naml: 62)

{كَمَا أَنْشَأَكُمْ مِنْ ذُرِّيَّةِ قَوْمٍ آخَرِينَ}

sebagaimana Dia menjadikan kalian dari keturunan orang-orang lain. (Al-An’am: 133)

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى}

Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami).” (Al-A’raf: 172)

Maksudnya, Allah menjadikan mereka menyaksikan hal tersebut secara keadaan dan ucapan. Kesaksian itu adakalanya dilakukan dengan ucapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt.:

{قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا}

Mereka berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.”(Al-An’am: 130)

Adakalanya pula dilakukan dengan keadaan (yakni dengan sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah Swt:

{مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ}

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At-Taubah: 17)

Artinya, sedangkan keadaan mereka atau sikap dan perbuatan mereka menunjukkan kekafiran mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya. Demikianlah pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:

{وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ}

dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkaran­nya. (Al-‘Adiyat: 7)

Demikian pula permintaan, adakalanya dengan ucapan, adakalanya dengan keadaan (sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang ter­kandung di dalam firman Allah Swt.:

{وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ}

Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya (Ibrahim: 34)

Mereka mengatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan ‘persaksian ini’ adalah fitrah, yakni bila hanya persaksian saja yang dijadikan hujah terhadap kemusyrikan mereka, seandainya memang keadaannya demikian, maka niscaya yang terkena hujah hanyalah orang-orang yang telah mengucapkannya saja.

Dan jika dikatakan bahwa penyampaian Rasulullah Saw. akan ketauhidan Allah sudah cukup untuk dijadikan bukti bagi keberadaan kesaksian ini, maka sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendustakan-Nya dari kalangan kaum musyrik, mendusta­kan pula semua apa yang telah disampaikan oleh para rasul lainnya, baik yang menyangkut hal ini (keesaan Tuhan) ataupun masalah lainnya. Maka hal ini menjadikannya sebagai hujah tersendiri terhadap diri mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna yang dimaksud dari ‘persaksian ini’ adalah fitrah yang telah ditanamkan di dalam jiwa mereka menyangkut masalah ketauhidan Allah. Karena itulah disebutkan didalam firman Nya:

{أَنْ يَقُولُوا}

agar kalian tidak mengatakan. (Al-A’raf: 172)

Maksudnya, agar di hari kiamat kelak, kalian tidak mengatakan:

{إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا}

Sesungguhnya kami (bani Adam) terhadap ini. (Al-A’raf: 172)

Yakni terhadap masalah tauhid atau keesaan Allah ini.

{غَافِلِينَ أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا} الْآيَةَ.

adalah orang-orang yang lengah, atau agar kalian tidak mengata­kan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan.” (Al-A’raf: 172-173), hingga akhir ayat

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.