Al-A’raf, ayat 172-174

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. Imam Hakim telah meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadis Abu Na’im Al-Fadl ibnu Dakin dengan sanad yang sama. Ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadis Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan hadis ini dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah r .a., dari Rasulullah Saw. Lalu ia menuturkan hadis ini semisal dengan hadis di atas sampai ia menyebutkan:

“ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: يَا آدَمُ، هَؤُلَاءِ ذَرِّيَّتُكَ. وَإِذَا فِيهِمُ الْأَجْذَمُ وَالْأَبْرَصُ وَالْأَعْمَى، وَأَنْوَاعُ الْأَسْقَامِ، فَقَالَ آدَمُ: يَا رَبِّ، لِمَ فَعَلْتَ هَذَا بِذُرِّيَّتِي؟ قَالَ: كَيْ تُشْكَرَ نِعْمَتِي. وَقَالَ آدَمُ: يَا رَبِّ، مِنْ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ أَرَاهُمْ أظْهَرَ النَّاسِ نُورًا؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الْأَنْبِيَاءُ يَا آدَمُ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ”.

Kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam. dan Allah berfirman “Hai Adam Mereka adalah keturunanmu” Ternyata di antara mereka terdapat orang yang berpenyakit lepra, supak, buta, dan berpenyakit lainnya. Maka Adam berkata, “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau lakukan ini terhadap keturunanku?” Allah berfirman, “Agar mereka mensyukuri nikmat-Ku.” Adam bertanya, “Wahai Tuhanku, siapakah mereka yang saya lihat memiliki nur (cahaya) yang paling menonjol di kalangan mereka? Allah berfirman, “Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, hai Adam.”

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri, dari ayahnya, dari Hisyam ibnu Hakim r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw., “Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan itu baru muncul kemudian, ataukah telah ditetapkan oleh takdir sebelumnya?” Rasulullah Saw. bersabda:

“إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَخَذَ ذُرِّيَّةَ آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ، ثُمَّ أَشْهَدُهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ، ثُمَّ أَفَاضَ بِهِمْ فِي كَفَّيْهِ” ثُمَّ قَالَ: “هَؤُلَاءِ فِي الْجَنَّةِ وَهَؤُلَاءِ فِي النَّارِ، فَأَهْلُ الْجَنَّةِ مُيَسَّرون لِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَأَهْلُ النَّارِ مُيَسَّرون لِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ”.

Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Kemudian Allah meraup mereka dalam kedua telapak tangan-Nya, lalu berfirman, “Mereka ini adalah ahli surga, dan mereka ini adalah ahli neraka.” Maka ahli surga dipermudahkan untuk mengamalkan amalan ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Murdawaih melalui berbagai jalur dari Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri.

Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ja’far ibnuz Zubair yang orangnya daif, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ، وَقَضَى الْقَضِيَّةَ، أَخَذَ أَهْلَ الْيَمِينِ بِيَمِينِهِ وَأَهْلَ الشِّمَالِ بِشِمَالِهِ، فَقَالَ: يَا أَصْحَابَ الْيَمِينِ. فَقَالُوا: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: يَا أَصْحَابَ الشِّمَالِ. قَالُوا: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ؟ قَالُوا: بَلَى ثُمَّ خَلَطَ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَبِّ، لِمَ خَلَطْتَ بَيْنَهُمْ؟ قَالَ: لَهُمْ أَعْمَالٌ مِنْ دُونِ ذَلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ، أَنْ يَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ، ثُمَّ رَدَّهُمْ فِي صُلْبِ آدَمَ [عَلَيْهِ السَّلَامُ].

Setelah Allah menciptakan makhluk-Nya dan menetapkan takdir­Nya, maka Dia mengambil golongan kanan dengan tangan kanan-Nya dan golongan kiri dengan tangan kiri-­Nya. Allah berfirman, “Hai golongan kanan! ” Mereka menjawab, “Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan,” Allah berfirman, “Bukankah Aku adalah Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, ya Tuhan kami” Allah berfirman, “Hai golongan kiri!” Mereka menjawab, “Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan.” Allah berfirman, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, ya Tuhan kami.” Kemudian Allah mencampurkan mereka menjadi satu di antara sesama mereka. Maka ada yang bertanya kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, mengapa Engkau campur adukkan di antara sesama mereka?” Allah berfirman, “Amal perbuatan mereka datang sesudah itu, dan mereka masing-masing akan mengamalkan amalannya agar mereka nanti kelak di hari kiamat tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini’.” Kemudian Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbi Adam.

Hadis riwayat Ibnu Murdawaih.

Asar yang lain diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Razi, dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka’b sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. (Al-A’raf: 172) Pada hari itu Allah mengumpulkan seluruh manusia yang akan ada sampai hari kiamat nanti, lalu Allah menjadikan mereka dalam rupanya masing-masing dan membuat mereka dapat berbicara hingga mereka dapat berbicara, kemudian Allah mengambil janji dan ikrar dari mereka: dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami).” (Al-A’raf: 172), hingga akhir ayat. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku mempersaksikan terhadap kalian tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan Aku telah mempersaksikan Adam kakek moyang kalian terhadap kalian, agar kalian kelak di hari kiamat tidak mengatakan, ‘Kami tidak mengetahui.” Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan tidak ada Rabb selain Aku, maka janganlah Engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian rasul-rasul untuk memberikan peringatan kepada kalian akan janji dan ikrar-Ku ini, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku.” Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan Rabb kami, tidak ada Rabb dan tidak ada Tuhan selain Engkau.” Pada hari itu mereka mengakui bersedia untuk taat, lalu Allah mengangkat kakek moyang mereka, Adam; dan Adam memandang mereka, maka ia melihat bahwa di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, dan ada yang rupanya baik, ada pula yang tidak. Maka Adam berkata, “Wahai Tuhanku, mengapa tidak Engkau samakan hamba-hamba-Mu itu?” Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku suka bila dipanjatkan rasa syukur kepada Ku. Nabi Adam melihat adanya para nabi di antara mereka yang bagai­kan pelita karena memancarkan nur (cahaya), lalu mereka secara khusus diikat dengan janji lain, yaitu berupa risalah dan kenabian. Hal inilah yang diungkapkan oleh Allah Swt. dalam firman-firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi (Al-Ahzab: 7), hingga akhir ayat. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar-Rum: 30) Ini adalah seorang pemberi peringatan di antarapemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An-Najm: 56) Termasuk pula ke dalam pengertian ini firman Allah Swt. yang mengatakan: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. (Al-A’raf: 102)

Semuanya itu diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad di dalam kitab Musnad ayahnya. Ibnu Abu Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsir masing-masing melalui riwayat Ibnu Ja’far Ar-Razi dengan sanad yang sama.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.