Al-A’raf, ayat 157

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut.” (An-Nahl:36)

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ -هُوَ الْعَقَدِيُّ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو -حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ -هُوَ ابْنُ بِلَالٍ -عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ، عن أبي حميد وأبي أسيد، رضي اللَّهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِذَا سَمِعْتُمُ الْحَدِيثَ عَنِّي تَعْرِفُهُ قُلُوبُكُمْ، وَتَلِينُ لَهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ قَرِيبٌ، فَأَنَا أَوْلَاكُمْ بِهِ. وَإِذَا سَمِعْتُمُ الْحَدِيثَ عَنِّي تُنْكِرُهُ قُلُوبُكُمْ، وَتَنْفُرُ مِنْهُ أَشْعَارُكُمْ وَأَبْشَارُكُمْ، وَتَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْكُمْ بَعِيدٌ، فَأَنَا أَبْعَدُكُمْ مِنْهُ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir (yaitu Al-Aqdi alias Abdul Malik ibnu Amr); telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Bilal, dari Rabi’ah ibnu Abu Abdur Rahman, dari Abdul Malik ibnu Sa’id, dari Abu Humaid dan Abu Usaid r.a., bahwa Rasulullah Saw pemah bersabda: Apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ketahui melalui hati kalian dan membuat perasaan serta kulit kalian menjadi lembut karenanya, serta kalian memandang bahwa hal itu dekat dengan kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang lebih utama daripada kalian terhadapnya. Dan apabila kalian mendengar suatu hadis dariku yang kalian ingkari oleh hati kalian dan perasaan serta kulit kalian merasa jijik terhadapnya, dan kalian memandang bahwa hal itu jauh dari kalian, maka (ketahuilah bahwa) aku adalah orang yang paling jauh terhadapnya daripada kalian.

Imam Ahmad meriwayatkannya dengan sanad yang jayyid (baik), tetapi tidak ada seorang pun dari pemilik kitab-kitab hadis yang mengetengah­kannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Ali r.a. yang mengatakan, “Apabila kalian mendengar dari Rasulullah Saw. suatu hadis, maka yakinilah oleh kalian bahwa diri Rasulullah Saw. adalah orang yang paling mendapat petunjuk tentangnya, beliaulah yang paling dahulu mengamalkannya dan yang paling bertakwa.”

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Yahya, dari Ibnu Sa’id, dari Mis’ar, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Abdur Rahman, dari Ali r.a. yang mengatakan, “Apabila kalian mendengar suatu hadis dari Rasulullah Saw., maka yakinilah bahwa beliaulah orang yang paling mendapat petunjuk, paling dahulu mengamalkannya dan paling bertakwa.”

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ}

dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharam­kan bagi mereka segala yang buruk. (Al-A’raf: 157}

Maksudnya, Nabi Saw. menghalalkan bagi mereka apa yang dahulunya mereka haramkan atas diri mereka sendiri —seperti bahirah, saibah, wasilah, ham, dan lain-lainnya yang sejenis— yang dahulu mereka ada-adakan untuk mempersempit diri mereka sendiri. dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (Al-A’raf: 157)

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ‘segala yang buruk’ ialah seperti daging babi, riba, dan semua barang haram yang dahulunya mereka halalkan, yaitu makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah Swt.

Sebagian ulama mengatakan bahwa semua jenis makanan yang dihalalkan oleh Allah adalah baik lagi bermanfaat bagi tubuh dan agama, dan semua yang diharamkan oleh-Nya adalah buruk lagi membahayakan tubuh dan agama. Ayat ini dijadikan pegangan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa nilai baik dan buruk itu berdasarkan rasio. Tetapi pendapat ini dibantah, pembahasannya tidak termuatkan dalam kitab ini. Ayat ini pun dijadikan hujah oleh ulama yang berpendapat bahwa hal yang dijadikan rujukan dalam menghalalkan makanan-makanan yang penghalalan dan pengharamannya tidak disebutkan oleh suatu nas pun ialah apa yang dianggap baik oleh orang-orang Arab dalam menghalalkannya, dan dalam mengharamkannya pun merujuk kepada penilaian mereka. Pembahasan mengenainya cukup panjang.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ}

dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (Al-A’raf: 157)

Artinya, Nabi Saw. datang dengan membawa kemudahan dan toleransi, seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Rasulullah Saw., bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ”

Saya diutus dengan membawa agama yang hanif lagi penuh toleransi.

Nabi Saw. pernah bersabda pula dalam pesannya kepada dua orang amirnya —yaitu Mu’az dan Abu Musa Al-Asy’ari— ketika beliau Saw. mengutus mereka ke negeri Yaman, yaitu:

“بَشِّرَا وَلَا تُنَفِّرَا، وَيَسِّرَا وَلَا تُعَسِّرَا، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا”

Sampaikanlah berita gembira oleh kalian berdua, janganlah kalian membuat hati (mereka) antipati; dan bersikap mudahlah kalian berdua, janganlah mempersulit; dan saling bantulah kalian, janganlah berselisih.

Abu Barzah Al-Aslami —salah seorang sahabat— pernah mengatakan bahwa ia telah menemani Rasulullah Saw. dan menyaksikan kemudahannya. Di masa lalu pada umat-umat terdahulu syariat-syariat yang ditetapkan atas mereka mempersempit diri mereka, kemudian Allah memberikan keluasan kepada umat ini dalam semua urusannya dan mempermudahnya bagi mereka. Karena itulah Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِأُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَقُلْ أَوْ تَعْمَلْ”

Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku hal-hal yang dibisikkan oleh hatinya, selagi ia tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.

Dalam hadis lain disebutkan:

“رُفِعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ”

Telah dimaafkan dari umatku kekeliruan, kelupaan, dan hal-hal yang dipaksakan kepada mereka.

Karena itulah Allah Swt. memberikan petunjuk kepada umat ini agar dalam doanya mereka senantiasa mengucapkan seperti apa yang disebutkan oleh firman-Nya:

{رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ}

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (Al-Baqarah: 286}

Di dalam kitab Sahih Muslim telah disebutkan pula bahwa Allah Swt. berfirman setelah permohonan tersebut dipanjatkan kepada-Nya, “Aku lakukan, Aku lakukan.”

*******************

Firman Allah Swt.:

{فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ}

Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya. (Al-A’raf: 157)

Yaitu beriman kepadanya, mengagungkannya, dan menghormatinya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزلَ مَعَهُ}

dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-A’raf: 157)

Artinya Al-Qur’an dan wahyu yang disampaikan kepadanya untuk ia sampaikan kepada umat manusia.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.