Hal yang sama telah diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalailun Nubuwwah, dari Al-Hakim secara ijazah, lalu ia menuturkan kisah tersebut, sanad dari kisah ini tidak ada celanya.
قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَر، حَدَّثَنَا فُلَيْح، عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: لَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو فَقُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي التَّوْرَاةِ. قَالَ: أَجَلْ وَاللَّهِ، إِنَّهُ لَمَوْصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ كَصِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: “يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّينَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ، وَلَا صخَّاب فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللَّهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ، بِأَنْ يَقُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيَفْتَحَ بِهِ قُلُوبًا غُلفا، وَآذَانًا صُمًّا، وَأَعْيُنًا عُمْيًا” قَالَ عَطَاءٌ: ثُمَّ لَقِيتُ كَعْبًا فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، فَمَا اخْتَلَفَ حَرْفًا، إِلَّا أَنَّ كَعْبًا قَالَ بِلُغَتِهِ، قَالَ: “قُلُوبًا غُلوفيًا وَآذَانًا صُمُومِيًا وَأَعْيُنًا عُمُومِيًا”.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Falih, dari Hilal ibnu Ali, dari Ata ibnu Yasar yang menceritakan bahwa ia pernah bersua dengan Abdullah ibnu Amr, lalu ia bertanya kepadanya, “Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah Saw. di dalam kitab Taurat.” Abdullah ibnu Amr menjawab, “Memang benar, demi Allah, sesungguhnya sifat beliau tertera di dalam kitab Taurat,” sebagaimana yang didapat di dalam Al-Qur’an: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, serta menjadi benteng bagi orang-orang yang ummi. Engkau adalah hamba dan Rasul-Ku, namamu muiawakkil (orang yang berserah diri), tidak bersikap keras, dan tidak berhati kasar. Allah tidak akan mewafatkannya sebelum meluruskan agama yang bengkok dengan melaluinya. sehingga mereka mengucapkan kalimat, “Tidak ada Tuhan selain Allah”, dan membuka hati-hati yang tertutup, telinga-telinga yang tuli serta mata-mata yang buta dengan melaluinya. Selanjutnya Ata mengatakan bahwa kemudian ia menjumpai Ka’b dan menanyakan hal itu kepadanya, ternyata ia pun mengatakan hal yang sama tanpa ada perbedaan satu huruf pun, hanya Ka’b mengungkapkannya menurut dialeknya, yakni dia mengatakan gulufiyan, sumumiyan, dan ‘umumiyan.
Imam Bukhari telah meriwayatkannya di dalam kitab Sahih-nya, dari Muhammad ibnu Sinan, dari Falih, dari Hilal ibnu Ali, lalu ia menyebutkan hadis berikut dengan sanadnya dengan lafaz yang semisal, tetapi dalam riwayatnya ditambahkan sesudah ‘tidak bersikap keras dan tidak berhati kasar”, yaitu kalimat berikut: ‘tidak membuat keributan di pasar-pasar dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan lagi, tetapi penyantun dan pemaaf.
Imam Bukhari pun menuturkan hadis Abdullah ibnu Amr, lalu mengatakan, “Menurut peristilahan kebanyakan ulama Salaf, pengertian kitab Taurat ditujukan kepada semua kitab orang-orang Ahli Kitab.”
Hal-hal yang serupa dengan ini telah disebutkan pada sebagian hadis.
Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan: telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Idris ibnu Warraq ibnul Humaidi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Ibrahim (salah seorang putra Jubair ibnu Mut’im) yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Ummu Usman, putri Sa:id (yaitu nenekku), dari ayahnya (Sa’id ibnu Muhammad ibnu Jubair), dari ayahnya (Muhammad ibnu Jubair ibnu Mut’im) yang menceritakan, “Pada suatu hari ia berangkat menuju negeri Syam untuk berniaga. Ketika sampai di dataran rendah negeri Syam, saya ditemui oleh seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab. Lelaki Ahli Kitab itu berkata, ‘Apakah di kalangan kalian terdapat seorang lelaki yang menjadi nabi?’ Saya menjawab,’Ya.’ Ia bertanya, ‘Apakah engkau mengenalnya jika aku perlihatkan gambarnya kepadamu?’ Saya menjawab, ‘Ya’, Lalu ia memasukkanku ke dalam sebuah rumah yang di dalamnya banyak terdapat gambar, tetapi saya tidak melihat gambar Nabi Saw. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba masuklah seorang lelaki, lalu bertanya, ‘Sedang apakah kalian?’ Maka kami ceritakan kepadanya perihal urusan kami. Lalu lelaki yang baru datang ini mengajak kami ke rumahnya. Ketika saya memasuki rumahnya, saya melihat gambar Nabi Saw., dan ternyata dalam gambar itu terdapat gambar seorang lelaki yang sedang memegang tumit Nabi Saw. Saya bertanya, ‘Siapakah lelaki yang sedang memegang tumitnya?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun melainkan sesudahnya ada nabi yang lain. Kecuali nabi ini, karena sesungguhnya tidak ada nabi lagi sesudahnya, dan lelaki yang memegang tumitnya ini adalah khalifah sesudahnya.’ Dan ternyata gambar lelaki itu sama dengan Abu Bakar r.a.”
Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Hafs Abu Amr Ad-Darir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, bahwa Sa’id ibnu Iyas Al-Jariri telah menceritakan kepada mereka, dari Abdullah ibnu Syaqiq Al-Uqaili, dari Al-Aqra’ —muazzin Umar ibnul Khattab r.a.— yang menceritakan, “Khalifah Umar menyuruhku untuk memanggil seorang uskup. Lalu Umar bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu menjumpai diriku dalam kitabmu?’ Uskup itu menjawab, ‘Ya’, Umar bertanya, ‘Bagaimanakah engkau menjumpai diriku?’ Uskup menjawab, ‘Saya menjumpai dirimu bagaikan tanduk.’ Maka Umar mengangkat cambuknya seraya bertanya, ‘Tanduk apakah yang kamu maksudkan?’ Uskup menjawab, ‘Tanduk besi, amir yang keras.’ Umar bertanya, ‘Bagaimanakah kamu jumpai orang yang sesudahku?’Uskup menjawab, ‘Saya menjumpainya sebagai khalifah yang saleh, hanya dia lebih mementingkan kaum kerabatnya (untuk menduduki jabatan pembantu-pembantu khalifah).’ Umar berkata, ‘Semoga Allah merahmati Usman,* sebanyak tiga kali. Umar bertanya,’Bagaimanakah engkau jumpai orang yang sesudahnya?’ Uskup menjawab. ‘Saya jumpai dia besi karatan’, Maka Umar meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata, ‘Aduhai celakanya, aduhai celakanya’ Uskup berkata, ‘Hai Amirul Mu’minm, sesungguhnya dia adalah khalifah yang saleh, hanya saja dia diangkat menjadi khalifah dalam situasi yang kacau di mana pedang terhunus dan darah teralirkan’.”
*******************
Firman Allah Swt.:
{يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ}
yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar. (Al-A’raf: 157)
Demikianlah sifat Rasulullah Saw. yang termaktub di dalam kitab-kitab terdahulu. Demikian pula keadaan Nabi Saw. pada kenyataannya, beliau tidak memerintahkan kecuali kepada kebaikan, dan tidak melarang kecuali terhadap perbuatan jahat, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah ibnu Mas’ud, “Apabila engkau mendengar firman Allah Swt.:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا}
Hai orang-orang yang beriman.
Maka bukalah lebar-lebar telingamu, karena sesungguhnya hal itu merupakan kebaikan yang diperintahkan atau kejahatan yang dilarang. Dan hal yang paling penting dan paling besar daripada itu ialah apa yang disampaikan oleh Nabi Saw. dari Allah, berupa perintah menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan larangan menyembah selain-Nya. Perihalnya sama dengan risalah yang disampaikan oleh nabi-nabi lain sebelumnya.” seperti apa yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: