Al-A’raf, ayat 132-135

Abul Qasim Al-Bagawi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Rasyid, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, dari Yahya ibnu Yazid Al-Qa’nabi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sada ibnu Ajian, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Maryam binti Imran a.s. pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia memberinya makan daging yang tidak ada darahnya. Maka Allah memberinya makan belalang, dan Maryam berdoa, “Ya Allah, berilah ia kehidupan tanpa menyusu (yakni lsa), dan lahirkaanlah ia tanpa bersuara.”

Menurut Numair, syiya’ artinya suara tangisan.

وَقَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَبُو تَقِيٍّ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ اليَزَني حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ ضَمْضَم بْنِ زُرْعَة، عَنْ شُرَيْح بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِي زُهَيْر النُّمَيْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا تُقَاتِلُوا الْجَرَادَ، فَإِنَّهُ جُنْدُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ”.

Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Baqi Hisyam ibnu Abdul Malik Al-Muzani, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ayyasy, dari pamdam ibnu Zur’ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Abu Zuhair An-Numatri yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Janganlah kalian membunuh belalang, karena sesungguhnya belalang itu adalah balatentara Allah yang sangat besar.

Hadis ini berpredikat garib sekali.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman Allah Swt. Maka Kami kirimkan kepada mereka topan dan belalang. (Al-A’raf: 133) Bahwa belalang-belalang itu memakan habis semua paku pintu-pintu mereka tanpa memakan kayunya.

Ibnu Asakir telah meriwayatkan melalui hadis Ali ibnu Zaid Al-Kharaiti, dari Muhammad ibnu Kasir, ia pernah mendengar Al-Auza’i mengatakan bahwa ia pernah keluar menuju Padang Sahara, tiba-tiba ia melihat seorang lelaki di dalam kumpulan belalang di langit. Ternyata lelaki itu menaiki seekor belalang dari kumpulan belalang yang ada bersamanya, sedangkan lelaki itu menyandang senjatanya. Setiap kali lelaki itu mengisyaratkan tangannya (seperti ini), maka pasukan belalangnya mengarah ke tujuan yang diisyaratkan oleh tangannya. Sedangkan lelaki itu tiada hentinya mengatakan, “Dunia ini batil, batillah semua yang ada padanya. Dunia ini fana, fanalah semua yang ada padanya. Dunia ini batil, dan batillah semua yang ada padanya.”‘

Al-Hafiz Abul Faraj Al-Mu’afa Ibnu Zakaria Al-Hariri mengatakan, mengatakan dan menceritakan kepada kami Al Hasan Ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahim, telah menceritakan kepada kami Waki, dari Al-A’masy, telah menceritakan kepada kami Amir yang mengatakan bahwa Syuraih Al-Qadi pernah ditanya mengenai belalang. Maka ia menjawab, “Semoga Allah memburukkan belalang, padanya terdapat tujuh ciri khas makhluk yang angkuh, kepalanya mirip kepala kuda, lehernya mirip leher banteng, dadanya mirip dada harimau (singa), sayapnya mirip sayap burung elang, kakinya mirip kaki unta, jantan, ekornya mirip ekor ular, dan perutnya mirip perut kalajengking.”

Dalam tafsir firman Allah Swt. yang lalu, yaitu:

{أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ}

Dihalalkan bagi kalian binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagi kalian dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. (Al-Maidah: 96)

telah disebutkan hadis Hammad ibnu Salamah, dari Abul Mihzam, dari Abu Hurairah yang di dalamnya disebutkan, “Kami berangkat bersama Rasulullah Saw. untuk menunaikan ibadah haji atau umrah. Maka kami bersua dengan sekumpulan belalang. Lalu kami memukulinya dengan tongkat-tongkat yang ada pada kami, sedangkan kami dalam keadaan ihram. Kemudian kami bertanya kepada Rasulullah Saw. (tentang perbuatan kami itu), maka beliau Saw. menjawab:

“لَا بَأْسَ بِصَيْدِ الْبَحْرِ”

‘Tidak mengapa dengan binatang buruan laut’.”

وَرَوَى ابْنُ مَاجَهْ، عَنْ هَارُونَ الْحَمَّالِ عَنْ هَاشِمِ بْنِ الْقَاسِمِ، عَنْ زِيَادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُلاثة، عَنْ مُوسَى بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَنَسٍ وَجَابِرٍ [رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا] عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَعَا عَلَى الْجَرَادِ قَالَ: “اللَّهُمَّ أَهْلِكْ كِبَارَهُ، وَاقْتُلْ صِغَارَهُ، وَأَفْسِدْ بَيْضَهُ، وَاقْطَعْ دَابِرَهُ، وَخُذْ بِأَفْوَاهِهِ عَنْ مَعَايِشِنَا وَأَرْزَاقِنَا، إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ”. فَقَالَ لَهُ جَابِرٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَدْعُو عَلَى جُنْدٍ مِنْ أَجْنَادِ اللَّهِ بِقَطْعِ دَابِرِهِ؟ فَقَالَ: “إِنَّمَا هُوَ نَثْرَةُ حُوتٍ فِي الْبَحْرِ”

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Harun Al-Hamani, dari Hisyam ibnul Qasim, dari Ziyad ibnu Abdullah ibnu Ilasah dan dari Musa ibnu Muhammad ibnu Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Anas dan Jabir, dari Rasulullah Saw. Disebutkan bahwa apabila Rasulullah Saw. berdoa dalam menghadapi wabah belalang, beliau mengucapkan: Ya Allah, binasakanlah yang besar-besarnya, matikanlah yang kecil-kecilnya, rusakkanlah telur-telurnya, hancurkanlah keturunannya serta hindarkanlah mulutnya dari tempat penghidupan kami dan dari rezeki kami. Sesungguhnya Engkau Maha Memperkenankan doa. Maka Jabir bertanya kepadanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mendoakan untuk kebinasaan suatu pasukan dari balatentara Allah agar mereka dihancurkan?” Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya belalang itu bersumber dari apa yang disebarkan oleh ikan di laut.

Hisyam mengatakan, telah menceritakan kepadanya Ziyad. Ziyad mendapat berita dari seseorang yang pernah melihat ikan menyebarkan belalang, bahwa belalang itu disebarkan oleh ikan di laut. Ziyad melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya ikan itu apabila bertelur di tepi pantai, lalu airnya mengalami surut sehingga telur-telur itu terkena sinar mentari, maka semuanya menetaskan belalang yang langsung terbang.”

Dalam tafsir firman-Nya yang mengatakan:

{إِلا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ}

melainkan umat-umat (juga) seperti kalian. (Al-An’am: 38)

Telah disebutkan hadis Umar r .a., bahwa Allah Swt. telah menciptakan seribu umat; enam ratus di antaranya di laut, sedangkan yang empat ratusnya hidup di daratan. Dan sesungguhnya umat yang mula-mula dibinasakan (punah) adalah belalang.

قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي دَاوُدَ: حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ قَيْس، حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ سَالِمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ الْجَوْزَجَانِيُّ مُحَمَّدُ بْنُ مَالِكٍ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لَا وَباء مَعَ السَّيْفِ، وَلَا نَجَاءَ مَعَ الْجَرَادِ”.

Abu Bakar ibnu Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Qais, telah menceritakan kepada kami Salim ibnu Salim, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah Al-Jaurjani Muhammad ibnu Malik, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda : Tidak ada wabah (penyakit) bersama pedang, dan tidak ada janggut bersama belalang.

Hadis ini garib.

Adapun mengenai kutu, maka disebutkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan kutu ialah semacam ulat yang keluar dari biji gandum. Dari Ibnu Abbas pula disebutkan bahwa kutu adalah belalang kecil yang tidak bersayap. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah. Disebutkan pula dari Al-Hasan serta Sa’id ibnu Jubair bahwa kutu ialah hewan kecil lagi hitam.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.