Al-An’am, ayat 71-73

Selanjutnya Allah memerintah kepada neraka Jahannam, maka keluarlah darinya sesuatu seperti leher yang kelihatan hitam legam (gelap) oleh semuanya. Kemudian Allah Swt. membacakan firman-Nya:

{أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ * وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ * وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ * هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ}

Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, hai Bani Adam, supaya kalian tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian, dan hendaklah kalian menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian. Maka apakah kalian tidak memikirkan? Inilah Jahannam yang dahulu kalian diancam (dengannya). (Yasin: 60-63)

Atau dikatakan, “Yang dahulu kalian dustakan,” ragu dari pihak Abu Asim.

{وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ}

Dan (dikatakan kepada mereka), “Berpisahlah kalian (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang jahat.” (Yasin: 59)

Maka Allah memisah-misahkan manusia (antara ahli surga dan ahli neraka), dan saat itu semua umat manusia berlutut. Allah Swt. berfirman:

{وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}

Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan. (Al-Jasiyah: 28)

Lalu Allah Swt. memutuskan peradilan di antara makhluk-Nya. kecuali jin dan manusia. Allah memutuskan peradilan di antara semua hewan liar dan binatang ternak, hingga Dia memutuskan untuk kemenangan hewan yang tidak bertanduk terhadap hewan bertanduk (yang dahulu pernah menanduknya). Apabila Allah Swt. telah selesai dari hal tersebut dan tidak ada lagi utang bagi seekor hewan atas hewan lainnya, maka Allah berfirman kepada semua binatang, “Jadilah kalian tanah!” Maka pada saat itu orang kafir mengatakan, seperti yang disitir oleh firman-Nya:

{يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا}

Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah. (An-Naba:40)

Kemudian barulah Allah memutuskan peradilan di antara semua hamba. Peradilan yang mula-mula dilakukan-Nya ialah masalah yang berkaitan dengan darah. Setiap orang yang terbunuh di jalan Allah datang, lalu Allah memerintahkan kepada setiap orang yang membunuh untuk membawa kepala orang yang dibunuhnya, sedangkan urat leher si terbunuh penuh berlumuran darah. Lalu ia berkata, “Wahai Tuhanku, karena apakah orang ini membunuhku?” Allah Swt. —Yang Maha Mengetahui— bertanya, “Karena apakah kamu membunuh mereka?” Maka si pembunuh menjawab, “Saya membunuh mereka agar keagungan hanyalah bagi-Mu (yakni membela agama Allah).” Allah Swt. berfirman, “Kamu benar.” Maka Allah menjadikan wajahnya bercahaya seperti sinar matahari, selanjutnya para malaikat menuntunnya masuk ke dalam surga.

Setelah itu datanglah setiap orang yang membunuh bukan karena niat tersebut seraya membawa kepada orang yang dibunuhnya dalam keadaan berlumuran darah dari urat lehernya. Lalu ia berkata, “Wahai Tuhanku, mengapa orang ini membunuhku?” Allah Swt.,Yang Maha Mengetahui, bertanya, “Mengapa kamu membunuh mereka?” Ia menjawab, “Saya membunuh mereka agar keagungan hanyalah bagi saya, wahai Tuhanku.” Maka Allah berfirman, “Celakalah kamu!”

Kemudian tiada seorang pun yang pernah membunuh orang lain melainkan ia balas dibunuh karenanya, dan tidak ada suatu perbuatan zalim yang dilakukan seseorang melainkan ia mendapat hukumannya. Hal ini sepenuhnya berada di dalam kehendak Allah. Dengan kata lain, jika Dia hendak mengazabnya, niscaya Dia mengazabnya; dan jika Dia hendak merahmatinya, niscaya Dia merahmatinya.

Selanjutnya Allah Swt. memutuskan peradilan di antara makhluk-Nya yang perkara mereka masih belum diputuskan, hingga tiada suatu perbuatan aniaya pun yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain melainkan Allah membalaskannya bagi si teraniaya terhadap si penganiaya. Pada saat itu seorang penjual susu yang mencampuri susunya dengan air (ketika di dunia) benar-benar disuruh memurnikan susunya dari air.

Apabila Allah Swt. telah selesai dari hal tersebut, maka terdengarlah suara seruan yang terdengar oleh semua makhluk, “Ingatlah, hendaklah masing-masing kaum bergabung dengan tuhan-tuhan mereka dan segala sesuatu yang mereka sembah selain Allah!” Saat itu tidak ada seorang pun yang menyembah selain Allah kecuali ditampakkan baginya tuhan yang disembahnya itu di hadapannya. Pada hari itu ada malaikat yang diserupakan bentuknya seperti Uzair, ada pula yang diserupakan dengan Isa putra Maryam. Maka orang-orang Yahudi mengikuti Uzair, dan orang-orang Nasrani mengikuti Isa. Kemudian tuhan-tuhan sesembahan mereka menggiring mereka ke dalam neraka, dan Allah Swt. berfirman:

{لَوْ كَانَ هَؤُلاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا وَكُلٌّ فِيهَا خَالِدُونَ}

Andaikata berhala-berhala itu Tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya. (Al-Anbiya: 99)

Apabila tidak ada yang tersisa kecuali hanya orang-orang mukmin yang di dalamnya terdapat orang-orang munafik, maka Allah mendatangi mereka dalam bentuk menurut apa yang dikehendaki-Nya, lalu Dia berfirman, “Hai manusia, semua orang telah pergi, maka sekarang bergabunglah dengan tuhan-tuhan kalian dan apa yang kalian sembah.” Mereka berkata, “Demi Allah, kami tidak mempunyai Tuhan selain Allah, dan kami sama sekali tidak pernah menyembah selain-Nya.”

Maka Allah pergi meninggalkan mereka, dan Dialah yang mendatangi mereka. Kemudian Allah tinggal selama yang dikehendaki-Nya untuk tinggal, setelah itu Dia datang lagi kepada mereka dan berfirman, “Hai manusia, semua orang telah pergi, maka bergabunglah kalian dengan tuhan-tuhan kalian dan apa yang kalian sembah!” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak mempunyai Tuhan selain Allah, dan kami sama sekali tidak pernah menyembah selain-Nya.”

Maka Allah menampakkan sebagian dari betis-Nya dan sebagian dari kebesaran-Nya sehingga mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan mereka. Lalu mereka menyungkur di atas muka mereka seraya bersujud, sedangkan semua orang munafik menyungkur di atas tengkuknya (terbalik), dan Allah menjadikan tulang iga mereka mencuat seperti tanduk sapi (menjangan). Kemudian Allah mengizinkan mereka untuk mengangkat mukanya.

Allah memasang sirat di antara kedua tepi neraka Jahannam, tajamnya seperti pisau cukur atau pedang yang tajam. Sirat- (jembatan) itu mempunyai banyak pengait, belalai, dan duri-duri seperti duri pohon sa’dan, dan di bagian bawahnya terdapat jembatan yang licin sekali. Maka mereka melaluinya, ada yang cepat seperti kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang seperti cepatnya angin, seperti cepatnya kuda balap, seperti cepatnya unta yang baik, atau seperti orang yang berjalan cepat. Di antara mereka ada yang selamat sampai ke tepi yang lain, ada yang selamat tetapi dalam keadaan terluka, ada pula yang terperosok di bawah mukanya, masuk ke dalam neraka Jahannam,

Manakala ahli surga telah sampai di depan pintu surga, maka semua ahli surga berkata, “Siapakah orang yang mau memohon syafaat kepada Tuhan kita buat kita semua hingga kita dapat masuk surga?”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.