{قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ}
Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedangkan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.” (Fushshilat: 44)
Masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah Swt. menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk buat orang-orang yang bertakwa. Dengan Al-Qur’an itu Dia menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya, dengan Al-Qur’an pula Dia memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَكَذَلِكَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ وَلِيَقُولُوا دَرَسْتَ وَلِنُبَيِّنَهُ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ}
Demikianlah Kami mengulang-ulangi ayat-ayat Kami supaya (orang-orang yang beriman mendapat petunjuk) dan supaya orang-orang yang musyrik mengatakan, “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab), “dan supaya Kami menjelaskan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang mengetahui. (Al-An’am: 105)
Sebagian ulama ada yang membaca firman-Nya, “Darasta” dengan pengertian ‘engkau baca dan engkau pelajari’; demikianlah menurut At-Tamimi, dari Ibnu Abbas. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Mujahid, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Abdur Razzaq telah mengatakan dari Ma’mar, bahwa Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan supaya orang-orang musyrik mengatakan, “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab).”(Al-An’am: 105) Bahwa darasta dibaca darasat sehingga artinya menjadi kuno dan telah berlalu atau sudah usang.
Abdur Razzaq telah mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr ibnu Dinar; ia pernah mendengar tbnuz Zubair mengatakan bahwa sesungguhnya ada anak-anak yang membaca ayat ini dengan bacaan darasat, padahal sesungguhnya bacaan yang sebenarnya adalah darasat.
Syu’bah mengatakan, Abu Ishaq Al-Hamdani telah menceritakan kepada kami bahwa lafaz ini menurut qiraat Ibnu Mas’ud dibaca darasat.
Sa’id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah, bahwa ia membacanya darasta dengan makna ‘engkau telah membaca dan mempelajarinya’.
Menurut Ma’mar, dari Qatadah, disebutkan darasta dengan makna ‘engkau telah membacanya’. Menurut dialek bacaan Ibnu Mas’ud disebutkan darasa. Abu Ubaid Al-Qasim ibnu Salam mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Harun yang mengatakan bahwa lafaz ini menurut dialek Ubay ibnu Ka’b dan Ibnu Mas’ud ialah darasa.
Harun mengatakan bahwa mereka bermaksud bahwa Nabi Saw. telah membacanya.
Tetapi pendapat ini garib, karena sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ubay ibnu Ka’b hal yang berbeda dengan hal tersebut.
Abu Bakar ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Lais, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Buzzah Al-Makki, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Zam’ah, dari ayahnya, dari Humaid Al-A”raj, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah membacakan kepadaku ayat ini dengan bacaan berikut: dan supaya orang-orang musyrik mengatakan, “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu (dari Ahli Kitab).” (Al-An’am: 105)
Diriwayatkan oleh Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Wahb ibnu Zam’ah. Imam Hakim mengatakan bahwa bacaan yang dimaksud ialah darasta. Kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim yang dijadikan standar bagi predikat sahih suatu hadis) tidak mengetengahkannya