تَفْسِيرُ سُورَةِ الدُّخَانِ
(Kabut)
Makkiyyah 56 atau 57 atau 59 ayat Kecuali ayat 15 Madaniyyah
قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيع، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، عَنْ عُمَر بْنِ أَبِي خَثْعَم، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَرَأَ (حم الدُّخَانَ) فِي لَيْلَةٍ أَصْبَحَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلِكٍ”.
Imam Turmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada Kami Sufyan ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, dari Amr ibnu Abu Khas’am, dari Yahya ibnu Abu Kasir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Ha Mim Ad-Dukhan dalam suatu malam, maka pada pagi harinya ada tujuh puluh ribu malaikat yang memohonkan ampun baginya.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini gharib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui jalur ini. Amr ibnu Abu Khas’am orangnya daif bahkan Imam Bukhari mengatakan bahwa hadisnya berpredikat munkar.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan:
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، عَنْ هِشَامِ أَبِي الْمِقْدَامِ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “من قَرَأَ (حم الدُّخَانَ) فِي لَيْلَةِ الْجُمْعَةِ، غُفِرَ لَهُ”.
telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Abdur Rahman Al-Kufi, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, dari Hisyam Abul Miqdam, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Ha Mim Ad-Dukhan dalam malam jum’at, maka diberikan ampunan baginya.
Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini gharib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui jalur ini. Hisyam Abul miqdam dinilai daif, dan Al-Hasan belum pernah mendengar dari Abu Hurairah r.a. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ayyub, Yunus ibnu Ubaid, dan Ali ibnu Zaid.
Di dalam Musnad Al-Bazzar disebutkan melalui riwayat Abut Tufail alias Amir ibnu Wasilah,
عَنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِابْنِ صَيَّاد: “إِنِّي قَدْ خَبَأْتُ خَبَأً فَمَا هُوَ؟ ” وَخَبَّأَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةَ الدُّخَانِ، فَقَالَ: هُوَ الدُّخ. فَقَالَ: “اخْسَأْ مَا شَاءَ اللَّهُ كَانَ”. ثُمَّ انْصَرَفَ
dari Zaid ibnu Harisah, bahwa Rasulullah Saw. berkata kepada Ibnu Sayyad, “Sesungguhnya aku telah meyembunyikan sesuatu, maka apakah itu?” Rasulullah Saw. menyembunyikan terhadapnya surat Ad-Dukhan. Maka Ibnu Sayyad menjawab, “Ad-Dukh.” Maka Rasulullah Saw. berkata, “Terhinalah engkau, Masya Allah, ” lalu beliau berpaling (darinya).
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
{حم (1) وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ (2) إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ (5) رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (6) رَبِّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (7) لَا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (8) }
Ha Mim. Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.
Allah Swt. befirman, menceritakan tentang Al-Qur’an, bahwa Dia telah menurunkan Al-Qur’an di malam yang penuh dengan keberkatan. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{إِنَّا أَنزلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ}
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (Al-Qadr: 1)
yang dalam istilah lain disebut Lailatul Qadar yang jatuh pada bulan Ramadan, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزلَ فِيهِ الْقُرْآنُ}
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an. (Al-Baqarah: 185)
Kami telah menyebutkan hadis-hadis yang menerangkan tentangnya dalam fafsir surat Al-Baqarah, hingga tidak perlu diulangi lagi di sini.
Ada pula ulama yang mengatakan bahwa sesungguhnya malam yang penuh dengan keberkatan itu adalah malam Nisfu Sya’ban, seperti yang disebutkan di dalam riwayat yang bersumber dari Ikrimah, maka sesungguhnya pendapat ini jauh dari kebenaran. Karena nas Al-Qur’an menyebutkannya di dalam bulan Ramadan.
Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibnu Saleh, dari Al-Laits, dari Aqil, dari Az-Zuhri menyebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Usman ibnu Muhammad ibnul Mugirah ibnu Akhnas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“تُقْطَعُ الْآجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى شَعْبَانَ، حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُولَدُ لَهُ، وَقَدْ أُخْرِجَ اسْمُهُ فِي الْمَوْتَى”
Ajal itu diputuskan dari bulan Sya’ban hingga bulan Sya’ban berikutnya, sehingga seorang lelaki benar-benar kawin dan mempunyai anak, sedangkan daftar namanya telah dikeluarkan termasuk orang-orang (yang akan) mati.
Maka hadis ini berpredikat mursal, dan hadis yang seperti ini tidak dapat dijadikan sebagai dalil untuk menentang nas yang jelas.
***********
Firman Allah Swt.:
{إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ}
dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. (Ad-Dukhan: 3)
Yakni memberitahukan kepada manusia segala apa yang bermanfaat dan yang mudarat bagi mereka melalui hukum syara’ agar alasan Allah Swt. telah ditegakkan terhadap hamba-hamba-Nya.
Firman Allah Swt.:
{فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ}
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Ad-Dukhan: 4)
Di malam Lailatul Qadar dijelaskan dari Lauh Mahfuz kepada para malaikat pencatat perihal urusan satu tahun dan ajal-ajal yang akan terjadi di tahun itu, dan rezeki-rezeki yang di turunkan tahun itu, serta semua peristiwa yang akan terjadi padanya, dan lain sebagainya. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Abu Malik, dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf.
Firman Allah Swt.:
{حَكِيمٌ}
yang penuh hikmah. (Ad-Dukhan: 4)
Yakni dengan keputusan yang tetap, tidak dapat diganti, tidak dapat pula diubah. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا}
(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. (Ad-Dukhan: 5)
Semua urusan yang akan terjadi yang telah ditetapkan oleh takdir Allah Swt. dan apa yang telah diwahyukan oleh-Nya adalah berdasarkan perintah, izin, dan sepengetahuan-Nya.
{إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ}
Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul. (Ad-Dukhan: 5)
Yakni Kamilah yang mengutus rasul kepada manusia untuk membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang jelas, karena sesungguhnya keperluan manusia akan hal ini sangat membutuhkannya, untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya: