An-Nur, ayat 11

{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ (11) }

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kahan, bahkan ia baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar.

Ayat ini hingga sembilan ayat berikutnya yang jumlah seluruhnya adalah sepuluh ayat diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah Ummul Mukminin r.a. ketika ia dituduh berbuat serong oleh sejumlah orang yang menyiarkan berita bohong dari kalangan orang-orang munafik, padahal berita yang mereka siarkan itu bohong dan dusta belaka serta buat-buatan mereka sendiri. Peristiwa tersebut membuat Allah cemburu (murka) demi Siti Aisyah dan Nabi-Nya. Maka Allah Swt. menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Siti Aisyah demi memelihara kehormatan Rasulullah Saw. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ}

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari segolongan kalian juga, (An-Nur: 11)

Yakni sejumlah orang dari kalangan kalian sendiri; bukan satu atau dua orang, melainkan segolongan orang. Orang yang pertama menyebar isu keji ini adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin kaum munafik. Dialah orang yang mempunyai prakarsa menyebarkan isu dusta itu sehingga ada sebagian dari kalangan kaum muslim yang termakan dan terhasut oleh isu yang disebarkannya, yang akhirnya menjadi bahan pergunjingan mereka. Sedangkan sebagian kaum muslim lainnya tidak mempunyai tanggapan apa pun terhadap peristiwa itu. Keadaan ini berlanjut sampai hampir satu bulan lamanya. Akhirnya turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Keterangan mengenai kisah ini secara rinci didapat di dalam hadis-hadis sahih.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, telah menceritakan kepadaku Sa’id ibnul Musayyab dan Urwah ibnuzZubair, Alqamah ibnu Waqqas, serta Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud tentang kisah Aisyah istri Nabi Saw. saat para penyiar berita bohong melemparkan tuduhan mereka terhadapnya, lalu Allah mem­bersihkan nama Siti Aisyah r.a. melalui wahyu-Nya. Perawi mengatakan bahwa semua sumber menceritakan kepadaku sejumlah hadis mengenai kisah Siti Aisyah ini. Tetapi sebagian dari mereka ada yang lebih rinci dalam mengemukakan kisahnya dan lebih kuat daripada lainnya. Aku telah menghafal semua hadis yang diriwayatkan masing-masing dari mereka yang bersumber dari Siti Aisyah. Pada garis besarnya sebagian dari kisah mereka membenarkan sebagian lainnya.

Mereka mengisahkan bahwa Siti Aisyah r.a. istri Nabi Saw. pernah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. apabila hendak bepergian terlebih dahulu melakukan undian di antara para istrinya. Maka siapa pun di antara mereka yang keluar namanya dalam undian itu, Rasulullah Saw. mem­bawanya pergi.

Aisyah r.a. menceritakan bahwa lalu Rasul Saw. melakukan undian di antara kami untuk menentukan siapa yang akan menemaninya di antara kami dalam peperangan yang akan dilakukannya. Maka keluarlah bagianku, lalu aku berangkat bersama Rasulullah Saw. Demikian itu terjadi sesudah diturunkan ayat hijab; dan aku dibawa di atas sekedupku dan beristirahat di dalamnya.

Maka kami berangkat, dan manakala Rasulullah Saw. telah me­nyelesaikan tugasnya dalam perang itu, dan kamipun kembali serta berada di dekat Madinah, maka di suatu malam beliau menyerukan kepada rombongan untuk berangkat. Ketika seruan berangkat telah dikumandang­kan aku bangkit dan berjalan sampai melewati barisan pasukan, setelah kupenuhi hajatku, maka aku kembali ke sekedupku dan aku memegang dadaku, ternyata kalung manik-manikku telah terputus dan terjatuh, maka aku kembali ke tempat aku buang hajat dalam rangka mencari kalung itu, sehingga aku terlambat karena mencarinya.

Lalu datanglah rombongan yang membawaku dan mereka langsung mengangkat sekedupku lalu menaikkannya ke punggung unta yang menjadi kendaraanku, sedang mereka mengira bahwa aku berada di dalamnya.

Aisyah mengatakan, bahwa kaum wanita pada saat itu bertubuh kurus-kurus, tidak berat dan tidak gemuk karena daging, mereka hanya makan sedikit. Maka kaum yang mengangkat sekedupku tidak merasa aneh dengan keringanan sekedupku ketika mereka mengangkatnya dan menaikkannya ke punggung unta. Sedang aku adalah seorang wanita yang berusia sangat muda. Mereka langsung memberangkatkan untaku dan melanjutkan perjalanannya.

Aku baru menemukan kalungku setelah pasukan melanjutkan perjalanannya, dan aku mendatangi tempat mereka, yang ternyata sudah kosong tiada seorangpun yang tertinggal. Maka aku menuju ke tempat aku beristirahat dengan harapan bahwa kaum akan merasa kehilangan­ku lalu akan kembali menjemputku.

Ketika aku sedang duduk di tempat peristirahatanku itu tiba-tiba mataku mengantuk akhirnya aku tertidur. Dan tersebutlah bahwa Safwan ibnul Mu’attal Az-Zakwani beristirahat di belakang pasukan, dan dia melanjutkan perjalanannya di malam hari, lalu ia sampai ke tempat aku berada, dan dia melihat sosok manusia yang sedang tidur dalam kegelapan malam.

Ia mendatangiku dan mengenalku ketika dia melihatku, karena dia pernah melihatku sebelum diturunkan ayat yang memerintahkan berhijab, dan aku terbangun ketika mendengar ucapan istirja’-nya (kalimat Inna Lillahi wainna ilaihi raji’un) begitu ia mengenalku.

Maka dengan segera aku tutupi wajahku dengan kain jilbabku; demi Allah dia tidak berkata kepadaku barang sepatah katapun dan aku tidak pernah mendengar ucapan yang keluar darinya selain dari bacaan istirja’-nya tadi saat dia merundukkan unta kendaraannya, dan unta kendaraannya merundukkan kaki depannya lalu aku menaikinya.

Safwan berangkat seraya menuntun unta kendaraannya hingga kami sampai ke tempat pasukan berada sesudah mereka turun untuk istirahat di waktu tengah hari, maka binasalah orang yang binasa berkenaan dengan peristiwa yang kualami itu. Dan orang yang menjadi sumber berita bohong itu adalah Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, dialah yang berperan bagi tersiarnya berita tersebut.

Kami tiba di Madinah dan saya sakit selama kurang lebih satu bulan sejak kedatangan saya itu, sedangkan orang-orang ramai membicarakan tentang isu yang disebarkan oleh para penyiar berita bohong, dan saya sendiri tidak merasakan adanya berita bohong itu.

Dalam sakit itu saya merasakan bahwa Rasulullah Saw. berbeda dengan kebiasaannya. Saya tidak melihat lagi kasih sayang beliau saat saya sedang sakit. Melainkan beliau hanya masuk dan bersalam serta mengucapkan, ‘Bagaimanakah keadaanmu sekarang?’

Sikap tersebut membuat saya curiga dan saya tidak merasakan adanya berita buruk yang ditujukan terhadap diri saya. Dan ketika saya telah sembuh dari sakit, saya keluar bersama Ummu Mistah menuju ke arah Manasi tempat kami biasa membuang hajat. Kami tidak keluar ke tempat itu melainkan hanya malam hari. Demikian itu terjadi sebelum kami membuat kakus di dekat rumah-rumah kami. Saat itu keadaan kami sama dengan keadaan orang-orang Arab dahulu dalam hal membuang hajat, yaitu di tempat yang jauh dari keramaian manusia, karena kami merasa terganggu dengan adanya kakus di dekat rumah kami.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.