An-Nur, ayat 11

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Abdullah ibnu Abu Bakar, dari Amrah, dari Siti Aisyah yang mengatakan, “Setelah diturunkan wahyu yang membersihkan diriku, Rasulullah Saw. berdiri, lalu menceritakan hal tersebut dan beliau membacakannya. Setelah turun (dari mimbarnya) beliau memerintahkan agar menangkap dua orang laki-laki dan seorang wanita, kemudian mereka dijatuhi hukuman dera sebagai had mereka.”

Para pemilik kitab sunan yang empat orang telah meriwayatkan hadis ini, selanjutnya Imam Turmuzi (salah seorang dari mereka) menilai bahwa hadis ini hasan. Dalam teks hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud disebutkan nama mereka yang dihukum dera itu, yaitu Hassan ibnu Sabit, Mistah ibnu Asasah, dan Hamnah binti Jahsy.

Demikianlah jalur-jalur yang meriwayatkan hadis ini melalui berbagai sumber dari Siti Aisyah Ummul Mu’minin r.a. yang terdapat di dalam kitab-kitab musnad, kitab-kitab sahih, kitab-kitab sunan, dan kitab-kitab hadis lainnya.

Telah diriwayatkan pula melalui hadis ibunya, yaitu Ummu Ruman r.a. Untuk itu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami, Ali ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Abu Wa-il, dari Masruq, dari Ummu Ruman yang mengatakan bahwa ketika kami berada di dalam rumah Aisyah, tiba-tiba masuklah kepada Aisyah seorang wanita dari kalangan Ansar, lalu wanita itu berkata, “Semoga Allah membalas putranya (keponakannya) dengan pembalasan yang setimpal.”

Maka Aisyah bertanya, “Mengapa?” Wanita itu berkata, “Sesungguh­nya dia termasuk orang yang mempergunjingkan berita dusta tersebut.” Siti Aisyah bertanya, “Cerita tentang apa?” Wanita itu menerangkan segala sesuatunya kepada Aisyah. Lalu Aisyah bertanya, “Apakah berita itu telah sampai juga kepada Rasulullah?” Wanita Ansar itu menjawab, “Ya.” Aisyah bertanya lagi, “Dan sampai pula kepada Abu Bakar?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Maka Aisyah jatuh terjungkal dalam keadaan pingsan, dan tidaklah ia sadar dari pingsannya kecuali badannya dalam keadaan demam dan menggigil.

Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia bangkit dan menyelimuti tubuh putrinya itu. Kemudian datanglah Nabi Saw., dan Nabi Saw. bertanya, “Ada apa dengan dia?” Ummu Ruman menjawab, “Wahai Rasulullah, dia terkena demam dan badannya menggigil.” Nabi Saw. bersabda, “Barangkali setelah dia mendengar berita yang dipergunjingkan mengenai dirinya.”

Ummu Ruman melanjutkan kisahnya, bahwa Siti Aisyah bangkit duduk, lalu berkata “Demi Allah, seandainya aku bersumpah kepada kalian (untuk membela diriku), kalian tidak akan percaya kepadaku. Dan seandainya aku meminta maaf kepada kalian, maka kalian tidak akan memaafkanku. Maka perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah sama dengan Ya’qub dan anak-anaknya saat dia mengatakan kepada mereka seperti yang disitir oleh firman-Nya: ‘maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’ (Yusuf: 18).”

Ummu Ruman kembali melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah Saw. keluar dan Allah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatan Aisyah. Kemudian Rasulullah Saw. kembali dengan ditemani oleh Abu Bakar, maka Rasulullah Saw. masuk (menemui Aisyah) dan bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menurunkan wahyu yang membersihkan kehormatanmu, hai Aisyah.”

Aisyah berkata, “Saya akan memuji kepada Allah dan tidak akan memujimu.” Maka Abu Bakar berkata, “Beraninya kamu katakan demikian kepada Rasulullah Saw.?” Siti Aisyah menjawab, “Ya.”

Tersebutlah bahwa di antara mereka yang membicarakan berita bohong itu adalah seorang lelaki yang penghidupannya dijamin oleh Abu Bakar, maka Abu Bakar bersumpah tidak akan bersilaturahmi lagi kepadanya. Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah. (An-Nur: 22), hingga akhir ayat.

Lalu Abu Bakar berkata, “Benar.” Maka Abu Bakar kembali ber­silaturahmi kepada lelaki itu.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara tunggal tanpa Imam Muslim melalui jalur Husain.

Imam Bukhari telah meriwayatkannya pula melalui Musa ibnu Isma’il, dari Abu Uwanah dan dari Muhammad ibnu Salam, dari Muhammad ibnu Fudail; keduanya dari Husain dengan sanad yang sama. Di dalam teks hadis yang diriwayatkan oleh Abu Uwanah disebutkan bahwa Ummu Ruman telah menceritakan kepadaku. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Masruq mendengar hadis ini langsung darinya. Akan tetapi, hal ini disangkal oleh sejumlah huffaz (ahli hadis yang hafal) yang antara lain ialah Al-Khatib Al-Bagdadi. Demikian itu karena pernyataan yang dikatakan oleh ahli tarikh (sejarah) bahwa Ummu Ruman meninggal dunia di masa Nabi Saw. (sedangkan Masruq adalah seorang tabi’in yang ada sesudah Nabi Saw. wafat).

Al-Khatib mengatakan bahwa Masruq adalah orang yang me-mursal-kan hadis ini; dia mengatakan bahwa Ummu Ruman pernah ditanya, lalu ia menyebutkan hadis ini hingga selesai. Barangkali seseorang dari mereka menulis suilat (ditanya) dengan memakai alif sehingga menjadi sa-altu (aku bertanya). Lalu orang yang menerima hadis ini menduga bahwa lafaz tersebut adalah sa-altu (aku bertanya) sehingga ia menduganya berpredikat muttasil.

Al-Khatib mengatakan juga bahwa Imam Bukhari telah meriwayat­kannya pula seperti itu dan dia tidak menyadari kealpaannya. Demikianlah apa yang dikutip dari perkataan Al-Khatib, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Sebagian dari mereka meriwayatkan hadis ini melalui Masruq, dari Abdullah ibnu Mas’ud, dari Ummu Ruman. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ}

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu. (An-Nur: 11)

Yakni kedustaan, kebohongan, dan berita buat-buatan itu.

{عُصْبَةٌ}

segolongan orang. (An-Nur: 11)

Maksudnya sejumlah orang dari kalian.

{لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ}

Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian. (An-Nur: 11)

Hai keluarga Abu Bakar.

{بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ}

Bahkan ia adalah baik bagi kalian. (An-Nur: 11)

Yaitu mengandung kebaikan bagi kalian di dunia dan akhirat; di dunia membuktikan kejujuran lisan kalian, dan di akhirat kalian akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Sekaligus menonjolkan kehormatan mereka karena Aisyah memperoleh perhatian dari Allah Swt. saat Allah menurun­kan wahyu yang membersihkan dirinya di dalam Al-Qur’an yang mulia.

{لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ}

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Fushshilat: 42), hingga akhir ayat.

Karena itulah ketika Siti Aisyah sedang menjelang ajalnya, kemudian Ibnu Abbas masuk menjenguknya, maka Ibnu Abbas berkata menghibur hatinya, “Bergembiralah kamu, sesungguhnya kamu adalah istri Rasulullah Saw. dan beliau sangat mencintaimu. Beliau belum pernah kawin dengan seorang perawan selain engkau, dan pembersihan namamu diturunkan dari langit.”

Ibnu Jarir mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Usman Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Aun, dari Al-Ma’la ibnu Irfan, dari Muhammad ibnu Abdullah ibnu Jahsy yang mengatakan bahwa Aisyah dan Zainab saling membanggakan diri. Zainab berkata, “Aku adalah wanita yang perintah perkawinanku diturunkan dari langit.” Aisyah berkata, “Aku adalah wanita yang pembersihan namaku termaktub di dalam Kitabullah saat Safwan ibnul Mu’attal membawaku di atas kendaraannya.” Zainab berkata, “Hai Aisyah, apakah yang kamu katakan ketika kamu menaiki unta kendaraannya?” Siti Aisyah menjawab, “Aku ucapkan, ‘Cukuplah Allah bagiku, Dia adalah sebaik-baik Pelindung’.” Zainab berkata, “Engkau telah mengucapkan kalimat orang-orang mukmin”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.