Maka Umar berkata, “Pertanyaanmu aneh, hai Ibnu Abbas.” Az-Zuhri memberi komentar, bahwa demi Allah, Umar tidak suka dengan pertanyaan itu, (sebab anaknya sendiri —yaitu Hafsah— terlibat), sedangkan ia tidak boleh menyembunyikannya (bila ada yang bertanya). Akhirnya Umar menjawab, “Aisyah dan Hafsah.”
Kemudian Umar melanjutkan kisahnya dengan panjang lebar, “Dahulu kami orang-orang Quraisy adalah suatu kaum yang tidak memberi kesempatan kepada wanita untuk berperan. Dan ketika kami tiba di Madinah, kami jumpai suatu kaum yang kaum wanita mereka mempunyai peran. Akhirnya kaum wanita kami setelah bergaul dengan kaum wanita mereka belajar dari mereka.”
Umar melanjutkan kisahnya bahwa tempat tinggalnya berada di perkampungan Bani Umayyah ibnu Zaid, yaitu di tempat yang tinggi. Umar melanjutkan bahwa pada suatu hari ia marah terhadap istrinya, tetapi tiba-tiba istrinya itu melawannya sehingga Umar kaget melihat sikapnya yang demikian, ia tidak menyukai sifat tersebut. Istrinya menjawab, “Mengapa engkau merasa kaget bila aku berani melawanmu. Demi Allah, sesungguhnya istri-istri Rasulullah Saw. sendiri berani melawan beliau, bahkan salah seorang dari mereka berani tidak berbicara dengan beliau hari ini sampai malam harinya.”
Umar melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia pergi dan masuk ke dalam tempat Hafsah (putrinya), lalu bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah berani menentang Rasulullah?” Hafsah menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Apakah benar ada seseorang dari kalian yang mendiamkan beliau hari ini sampai malam harinya?” Hafsah menjawab, “Ya.” Umar berkata, “Sungguh telah kecewa dan merugilah orangyang berani berbuat demikian dari kalian terhadapnya. Apakah dia dapat menyelamatkan dirinya bila Allah murka terhadap dirinya karena murka Rasulullah? Sudah dapat dipastikan dia akan binasa. Dan kamu janganlah sekali-kali berani memprotes Rasulullah Saw. dan jangan pula kamu meminta sesuatu darinya, tetapi mintalah kamu kepadaku dari hartaku menurut apa yang kamu sukai. Dan jangan sekali-kali kamu teperdaya oleh madumu yang lebih cantik serta lebih dicintai oleh Rasulullah Saw. daripada kamu (maksudnya Aisyah).”
Umar melanjutkan kisahnya, “Dahulu aku mempunyai seorang tetangga dari kalangan Ansar, dan kami biasa siiih berganti turun menemui Rasulullah Saw. Di suatu hari gilirannya dan di hari yang lain giliranku. Maka tetanggaku itu menyampaikan kepadaku tentang berita wahyu dan hal penting lainnya, begitu pula yang kulakukan kepadanya bila tiba giliranku.”
Umar melanjutkan kisahnya, bahwa kami mendapat berita bahwa orang-orang Gassan sedang mempersiapkan pasukan berkuda untuk menyerang kami, berita ini menjadi topik pembicaraan yang hangat di kalangan kami. Kemudian di suatu hari tiba giliran temanku itu untuk turun, kemudian di waktu isya ia datang dan langsung mengetuk pintu rumahku seraya memanggilku. Maka aku keluar menemuinya, dan ia langsung berkata, “Telah terjadi peristiwa yang besar.” Aku bertanya memotongnya, “Apakah pasukan Gassan telah datang?” Lelaki Ansar tetangganya menjawab, “Bukan, tetapi peristiwanya lebih besar dan lebih panjang daripada itu. Rasulullah Saw. telah menceraikan istri-istrinya.”
Umar melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa Hafsah benar-benar telah kecewa dan merugi. Aku telah menduga kuat bahwa peristiwa ini pasti terjadi. Dan setelah ia menyelesaikan salat Subuhnya, lalu ia langsung turun dan menuju ke rumah Hafsah, kemudian masuk menemuinya yang saat itu Hafsah dijumpainya sedang menangis. Umar bertanya, “Apakah Rasulullah telah menceraikanmu?” Hafsah menjawab, “Tidak tahu, tetapi beliau sedang menyendiri di ruangan itu.”
Maka aku (Umar) menemui pelayan beliau Saw. yang berkulit hitam dan kukatakan kepadanya, “Mintakanlah izin kepadanya buat Umar.” Pelayan itu masuk untuk meminta izin, kemudian ia keluar lagi dan menemuiku, lalu berkata, “Aku telah menyebutkan namamu, tetapi beliau hanya diam.” Maka aku pergi hingga sampai di mimbar. Ternyata di dekat mimbar terdapat sekumpulan orang-orang yang sedang duduk, sebagian dari mereka ada yang menangis. Maka aku duduk sebentar di tempat itu, kemudian aku tidak tahan lagi karena penasaranku, maka kudatangi lagi pelayan itu dan kukatakan kepadanya, “Mintakanlah izin masuk buat Umar.” Maka pelayan itu masuk, kemudian keluar lagi dan mengatakan, “Aku telah menyebutkan namamu, tetapi beliau hanya diam saja.”
Maka aku keluar lagi dan menuju ke mimbar, kemudian rasa penasaranku kembali mendorongku dengan dorongan yang kuat. Akhirnya kudatangi lagi pelayan itu dan kukatakan kepadanya, “Mintakanlah izin masuk buat Umar.” Pelayan itu masuk, kemudian kembali lagi kepadaku dan mengatakan, “Aku telah sebutkan namamu, tetapi beliau masih diam saja.” Akhirnya aku berpaling untuk pergi, tetapi tidak lama kemudian si pelayan itu memanggilku dan mengatakan, “Masuklah, beliau telah mengizinkanmu untuk menemuinya.”
Aku masuk dan mengucapkan salam penghormatan kepada Rasulullah Saw. dan kujumpai beliau sedang bersandar pada tumpukan pasir yang beralaskan tikar.
Imam Ahmad mengatakan bahwa menurut apa yang diceritakan kepada kami oleh Ya’qub dalam hadis Saleh, tumpukan pasir yang diberi alas tikar, sedangkan anyaman tikar telah membekas pada lambung beliau Saw.
Maka kutanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu?” Rasulullah Saw. mengangkat kepalanya memandang ke arahku seraya menjawab, “Tidak.” Aku berkata, “Allah Mahabesar. Wahai Rasulullah, sebagaimana yang engkau ketahui bahwa kita ini orang-orang Quraisy adalah suatu kaum yang tidak memberikan peran kepada wanita. Tetapi ketika kita tiba di Madinah, kita menjumpai .suatu kaum yang kaum wanita mereka mempunyai peran di kalangan mereka. Maka kaum wanita kita langsung belajar dari kaum wanita mereka. Dan di suatu hari aku marah terhadap istriku, tetapi tiba-tiba dia berani menjawabku, maka aku tidak suka dengan sikapnya itu. Tetapi ia berkata, “Mengapa engkau tidak suka dengan sikapku ini? Demi Allah, sesungguhnya istri-istri Nabi Saw. sendiri berani menentang beliau dan ada salah seorang dari mereka yang berani mendiamkannya hari ini sampai dengan malam harinya.” Maka kukatakan kepadanya, “Sesungguhnya telah merugi dan kecewalah wanita yang berani berbuat demikian. Apakah seseorang dari kalian dapat menyelamatkan dirinya bila Allah murka karena murka Rasulullah Saw. Dia pasti akan binasa.”
Rasulullah Saw. tersenyum mendengar ceritaku, lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah menemui Hafsah dan telah kukatakan kepadanya, ‘Jangan sekali-kali kamu terpengaruh oleh madumu yang lebih cantik dan lebih dicintai oleh Rasulullah Saw. daripadamu’.” Rasulullah Saw. tersenyum lagi. Maka aku berkata kepadanya, “Aku merasa rindu kepada engkau, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. menjawab, “Ya.”
Maka aku duduk dan kutengadahkan pandanganku ke atas rumah. Demi Allah, aku tidak melihat sesuatu pun di dalam rumah beliau sesuatu yang menarik pandanganku kecuali aku merasa segan dengan kedudukan beliau Saw. Lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah semoga Allah memberikan keluasan kepada umatmu. Karena sesungguhnya Dia telah memberi keluagan kepada orang-orang Persia dan orang-orang Romawi, padahal mereka tidak menyembah Allah.”