Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam Kitabut Talaq dengan sanad yang sama dan lafaz yang mirip dengan hadis di atas.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan bahwa magafir mirip dengan getah yang terdapat pada batang kayu, getah ini rasanya manis. Bila dikatakan agfarar ramsu artinya batang kayu itu mengeluarkan getahnya. Bentuk tunggalnya ialah magfur, ada juga yang mengatakan magafir. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Jauhari, bahwa adakalanya getah yang dimaksud berasal dari pohon aysr, sammam, salam, dan talh. Al-Jauhari mengatakan bahwa ar-rimsi adalah sejenis semak yang sering dimakan oleh ternak unta. Al-Jauhari mengatakan bahwa ‘urfut adalah nama sebuah pohon dari jenis pohon ‘udah yang biasa mengeluarkan getah putih yang disebut magfur.
Imam Muslim telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab Talaq, bagian dari kitab sahihnya, dari Muhammad ibnu Hatim, dari Hajjaj ibnu Muhammad, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Ubaid ibnu Umair, dari Aisyah dengan sanad yang sama, sedangkan lafaznya sama dengan apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari di dalam Kitabul Aiman wan Nuzur.
Kemudian Imam Bukhari mengatakan di dalam Kitabut Talaq-nya, bahwa telah menceritakan kepada kami Farwah ibnu Abul Migra, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Misar, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah yang mengatakan bahwa dahulu Rasulullah Saw. menyukai manisan dan madu. Tersebutlah pula bahwa apabila beliau selesai dari salat Asarnya selalu mampir di rumah istri-istri beliau, lalu mendekati salah seorang dari mereka. Dan beliau masuk ke dalam rumah Siti Hafsah binti Umar, lalu tinggal di dalam rumahnya dalam waktu yang lebih lama dari istri-istri lainnya. Hal ini menimbulkan kecemburuan pada istri beliau yang lainnya. Kemudian Aisyah r.a. menanyakan hal tersebut, maka dijawab bahwa Hafsah menerima hadiah dari kaumnya berupa semangkuk madu, maka Hafsah memberikan sebagian darinya sebagai sajian minuman. Aku (Aisyah) berkata, “Ingatlah, demi Allah, kami benar-benar akan membuat tipu daya terhadapnya (Nabi).” Kemudian kukatakan kepada Saudah binti Zam’ah, “Sesungguhnya Nabi Saw. akan mendekatimu. Dan bila beliau mendekatimu, katakanlah kepadanya bahwa engkau telah minum magafir. Maka pasti beliau akan menjawabmu, ‘Tidak.’ Bila demikian, maka katakanlah kepada beliau, ‘Lalu bau apakah ini?’ Dan beliau pasti akan mengatakan kepadamu, ‘Hafsah telah memberiku minuman madu.’ Maka jawablah olehmu, ‘Rupanya lebahnya telah mengisap getah kayu ‘urfut,’ dan aku pun akan mengatakan hal yang sama kepada beliau. Dan engkau juga, hai Safiyyah, katakanlah kepada beliau kalimat yang sama.” *
Siti Aisyah melanjutkan kisahnya, Saudah mengatakan bahwa demi Allah tidak lama kemudian Rasulullah Saw. muncul di depan pintu rumahnya, maka dengan serta merta aku hendak mengatakan apa yang diajarkan olehku kepadanya karena dia merasa takut kepadaku. Dan ketika Rasulullah Saw. mendekatinya, Saudah langsung bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau telah makan magafir?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak.” Saudah bertanya lagi, “Lalu bau apakah ini yang aku cium darimu?” Maka Nabi Saw. berterus terang kepadanya, “Hafsah telah memberiku minuman madu.” Saudah berkata, “Kalau begitu, berarti lebahnya telah mengisap sari getah pohon ‘urfut (yang menghasilkan magafir)!”
Ketika Nabi Saw. datang kepada giliranku, maka kukatakan kepadanya hal yang sama. Dan ketika sampai di rumah Safiyyah, maka Safiyyah pun mengatakan hal yang sama.
Kemudian di lain hari ketika Nabi Saw. mendatangi Hafsah, Hafsah menawarkan kepadanya, “Maukah engkau kusuguhkan minuman madu?” Nabi Saw. menjawab, “Aku tidak memerlukannya lagi.” Lalu Saudah berkata, “Demi Allah, beliau pasti telah mengharamkannya atas dirinya.” Maka aku katakan kepadanya, “Diamlah kamu!” Demikianlah menurut lafaz Imam Bukhari.
Imam Muslim telah meriwayatkannya dari Suwaid ibnu Sa’id, dari Ali ibnu Mis-har dengan sanad yang sama, juga dari Abu Kuraib, Harun ibnu Abdullah, dan Al-Hasan ibnu Bisyr; ketiganya dari Abu Usamah Hammad ibnu Usamah, dari Hisyam ibnu Urwah dengan sanad yang sama.
Dan dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Siti Aisyah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. adalah seorang yang merasa sangat tidak enak (tidak suka) bila dari dirinya tercium bau yang tidak enak. Yang dimaksud dengan bau yang tidak enak ialah bau yang busuk. Karena itulah mereka mengatakan, “Engkau telah makan magafir” mengingat bau magafir tidak enak. Dan ketika Nabi Saw. menjawab, “Tidak, aku hanya minum madu.” Mereka (istri-istri beliau) menjawab, “Barangkali lebahnya mengisap getah pohon ‘urfut,” yang getahnya menghasilkan magafir. Karena itulah maka baunya terasa di madu yang diminumnya.
Al-Jauhari mengatakan bahwa jarasatin nahlu al-‘urfuta artinya lebah itu mengisap sari getah ‘urfut. Karena itulah maka lebah disebut pula dengan istilah jawaris. Seorang penyair mengatakan:
تَظَلّ عَلَى الثَّمْرَاء مِنها جَوَارسُ …
Lebah-lebah itu mengerumuni salah satu dari pohon-pohon yang berbuah.
Dikatakan sami’tu jarasat tairi artinya aku telah mendengar suara patukannya pada sesuatu yang dimakannya. Di dalam sebuah hadis disebutkan:
“فَيَسْمَعُونَ جَرْشَ طَيْرِ الْجَنَّةِ”
Maka mereka mendengar suara patukan burung surga.
Al-Asmu’i mengatakan bahwa ia berada di majelis pengajian Syu’bah, lalu ia mengatakan, “Maka mereka mendengar suara patukan burung surga,” kata al-jaras diungkapkannya dengan jarasy memakai syin. Maka aku mengatakan jaras, lalu ia menoleh ke arahku dan berkata, “Turutilah apa katanya, karena sesungguhnya dia lebih mengetahui hal ini daripada aku.”
Tujuan mengungkapkan riwayat ini untuk menjelaskan bahwa berdasarkan riwayat ini istri yang memberi Nabi Saw. madu adalah Hafsah.
Hal ini diriwayatkan melalui jalur Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari bibinya (yaitu Siti Aisyah).
Tetapi menurut hadis yang diriwayatkan melalui jalur Ibnu Juraij, dari Ata, dari Ubaid ibnu Umair, dari Aisyah, disebutkan bahwa istri yang memberi minum madu itu adalah Siti Zainab binti Jahsy. Dan sesungguhnya sesudah itu Aisyah dan Hafsah mengadakan kesepakatan untuk memprotes Nabi Saw. atas perlakuannya itu; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Adakalanya dikatakan bahwa kedua peristiwa ini terjadi, dan tidak mustahil pula bila memang benar terjadi. Tetapi bila dikatakan bahwa keduanya merupakan peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat ini, masalahnya masih perlu diteliti lagi; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa kedua istri yang melakukan protes itu adalah Aisyah dan Hafsah adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepadaku Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Abu Saur, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa sudah lama ia ingin menanyakan kepada Umar r.a. tentang dua orang wanita dari kalangan istri-istri Nabi Saw. yang disebutkan di dalam firman-Nya: Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan). (At-Tahrim: 4) Hingga ketika Umar mengerjakan haji dan aku ikut haji bersamanya. Di tengah perjalanan Umar menepi, lalu aku pun menepi pula bersamanya dengan membawa wadah air, kemudian Umar membuang air besar. Setelah itu Umar datang kepadaku, maka kutuangkan kepadanya air, dan Umar berwudu dengannya. Lalu kutanyakan kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, siapakah dua orang wanita dari istri-istri Nabi Saw. yang disebutkan di dalam firman Allah Swt.: Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan) (At-Tahrim: 4)?”