2. SURAT AL-BAQARAH

Rasulullah Saw. membaca surat Alif lam mim sajdah dan Hal ata ‘alal insani dalam salat Subuh hari Jumat.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid yang mengatakan bahwa Alif lam mim, Ha mim, Alif lam mim sad, dan Shad merupakan pembuka-pembuka
surat yang diberlakukan oleh-Nya dalam Al-Qur’an. Hal yang sama dikatakan pula oleh selainnya, dari Mujahid.

Mujahid —menurut riwayat Abu Huzaifah Musa ibnu Mas’ud, dari Syibl, dari Ibnu Abu Nujaih, dari Mujahid sendiri— mengatakan bahwa Alif lam mim merupakan
salah satu asma Al-Qur’an. Hal yang sama dikatakan pula oleh Qatadah dan Zaid ibnu Aslam. Barangkali pendapat ini merujuk kepada pendapat Abdur Rahman
ibnu Zaid ibnu Aslam dalam hal makna, yaitu bahwa nama tersebut merupakan salah satu nama surat yang bersangkutan; karena sesungguhnya setiap surat dinamakan
“Al-Qur’an”. Tetapi tidak masuk akal bila Alif lam mim sad —misalnya— dianggap sebagai nama Al-Qur’an seluruhnya, karena sesungguhnya pengertian yang sampai
terlebih dahulu ke dalam pemahaman seseorang yang mendengar orang lain mengatakan, “Aku telah membaca Alif lam mim sad,” ialah bahwa orang tersebut telah
membaca surat Al-A’raf, bukan Al-Qur’an seluruhnya.

Menurut suatu pendapat, huruf-huruf tersebut merupakan salah satu nama Allah Swt. Asy-Sya’bi mengatakan, fawatihus suwar adalah asma-asma Allah. Hal yang
sama dikatakan pula oleh Salim ibnu Abdullah dan Ismail ibnu Abdur Rahman As-Saddiyyul Kabir. Syu’bah mengatakan dari As-Saddi. telah sampai kepadanya
suatu berita bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “Alif lam mim merupakan salah satu asma Allah Yang Teragung.” Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim
melalui hadis Syu’bah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Bandar, dari Ibnu Mahdi, dari Syu’bah yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada As-Saddi mengenai Hamim ta sin dan
Alif lam mim. Ia menjawab bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah mengatakan, “Hal itu merupakan salah satu asma Allah yang Teragung.” Ibnu Jarir mengatakan. telah
menceritakan kepada kami Muhammad Ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ismail As-Saddi,
dari Murrah Al-Hamadani yang mengatakan bahwa Abdullah pernah mengatakan hal yang serupa. Hal yang sama diriwayatkan pula dari Ali dan Ibnu Abbas.

Ali ibnu Abu Talhah mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa hal itu merupakan qasam (sumpah) yang dipakai oleh Allah dalam sumpah-Nya karena merupakan salah satu
dari asma-asma-Nya. Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir meriwayatkan melalui hadis Ibnu Ulayyah, dari Khalid Al-Hazza, dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Alif
lam mim merupakan qasam (sumpah). Keduanya meriwayatkan pula melalui hadis Syarik ibnu Abdullah, dari Ata ibnus Sa’ib, dari Abud Duha, dari ibnu Abbas,
bahwa makna Alif lam mim ialah Anallahu ‘alam (Aku Allah Yang Maha Mengetahui). Hal yang sama dikatakan pula oleh Sa’id ibnu Jabir, dan As-Saddi mengatakannya
dari Abu Malik.

Abu Saleh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dan Murrah Al-Hamadani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan dari sejumlah orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Saw.,
bahwa Alif lam mim merupakan huruf-huruf yang dipakai untuk pembukaan; semuanya berasal dari ejaan hijaiyyah asma-asma Allah.

Abu Ja’far Ar-Razi mengatakan dari Ar-Rabi’, dari Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman Allah Swt., “Alif lam mim.” Ketiga huruf ini merupakan
bagian dari dua puluh sembilan huruf yang berlaku di kalangan semua bahasa. Tiada suatu huruf pun dari (ketiga)nya melainkan huruf tersebut adalah huruf
pertama dari salah satu asma Allah Swt. Tiada suatu huruf pun darinya melainkan merupakan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya, dan tiada suatu huruf
pun darinya melainkan di dalamnya terkandung masa hidup suatu kaum dan ajal mereka. Isa ibnu Maryam a.s. mengatakan sebagai ungkapan dari keheranannya,
“Aku heran, mereka mengucapkan asma-asma-Nya dan hidup dengan rezeki-Nya, tetapi mengapa mereka kafir terhadap-Nya?” Huruf alif merupakan huruf pertama
dari asma Allah, huruf lam merupakan kunci asma-Nya Latif {Yang Mahalembut), dan huruf mim merupakan kunci dari asma-Nya Majid (Yang Mahaagung). Huruf
alif adalah tanda-tanda kebesaran Allah, huruf lam adalah sifat Latif Allah, sedangkan huruf mim sifat Majdullah. Huruf alif menunjukkan masa satu tahun,
huruf lam menunjukkan masa tiga puluh tahun, dan huruf mim menunjukkan empat puluh tahun.

Ini adalah lafaz Ibnu Abu Hatim. Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, kemudian Ibnu Jarir mengarahkan pendapat-pendapat tersebut dan menyelaraskan
di antara sesamanya, akhirnya dia sampai pada suatu kesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada pertentangan di antara satu pendapat dengan yang lainnya. Semua
pendapat tersebut dapat digabungkan dalam suatu kesimpulan, yaitu “huruf-huruf tersebut merupakan nama surat-surat, nama asma-asma-Nya, dan pendahuluan
surat-surat”. Setiap huruf menunjukkan suatu asma atau suatu sifat Allah Swt., sebagaimana membuka banyak surat dalam Al-Qur’an dengan memuji, bertasbih,
dan mengagungkan nama-Nya. Ibnu Jarir melanjutkan, bahwa tidak menutup kemungkinan bilamana sebagian dari huruf-huruf itu menunjukkan salah satu dari asma-asma
Allah dan salah satu dari sifat-sifat-Nya; juga menunjukkan suatu masa atau lain sebagainya, sebagaimana yang disebut oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dari Abul
Aliyah. Dikatakan demikian karena satu kalimat diucapkan untuk menunjukkan banyak makna, contohnya lafaz al-ummah. Lafaz al-ummah adakalanya bermakna agama,
seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

إِنَّا وَجَدْنا آباءَنا عَلى أُمَّةٍ

Sesungguhnya kami menjumpai bapak-bapak kami menganut suatu agama. (Az-Zukhruf: 22)

Adakalanya diucapkan untuk menunjukkan makna “jamaah”, seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

إِنَّ إِبْراهِيمَ كانَ أُمَّةً قانِتاً لِلَّهِ حَنِيفاً وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya Ibrahim adalah seoraug imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang
yang mempersekutukan Tuhan (An-Nahl: 120)

وَلَقَدْ بَعَثْنا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat. (An-Nahl: 36)

Adakalanya untuk menunjukkan makna “suatu waktu dari suatu masa”, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

وَقالَ الَّذِي نَجا مِنْهُما وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ

Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya. (Yusuf: 45)

Makna yang dimaksud ialah “sesudah lewat beberapa waktu”, menurut pendapat yang paling sahih di antara dua pendapat.

Demikianlah kesimpulan pendapat Ibnu jarir secara terarah, tetapi tidak seperti apa yang dikemukakan oleh Abul Aliyah, karena Abul Aliyah menduga bahwa
huruf tersebut menunjukkan makna anu dan makna ini serta makna itu secara bersamaan. Sedangkan lafaz ummah dan yang sejenis dengannya —termasuk lafaz musytarakah
dalam peristilahan— sesungguhnya menunjukkan kepada suatu makna dalam Al-Qur’an berdasarkan konteks sebelumnya. Jika mengartikannya menurut keseluruhan
makna yang dikandungnya jika diperlukan, maka hal ini merupakan masalah yang masih diperselisihkan di kalangan para ulama usul, pembahasannya bukan termasuk
ke dalam subyek dari kitab ini.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.