18. SURAT AL-KAHFI

Makna yang dimaksud menurut qiraat jumhur ulama lebih jelas, bah­wa sesungguhnya ungkapan ini dimaksudkan kecaman terhadap ucapan mereka, dan bahwa apa
yang mereka katakan itu merupakan kebohongan yang besar. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

{كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ}

Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. (Al-Kahfi: 5)

Yakni tidak berdasarkan kepada suatu bukti pun melainkan hanya semata-mata dari ucapan mereka sendiri yang dibuat-buat oleh mereka sebagai suatu kedustaan.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

{إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا}

mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusla. (Al-Kahfi: 5)

Muhammad ibnu Ishaq telah menyebutkan tentang latar belakang turun­nya ayat ini. Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang syekh (guru)
dari kalangan ulama Mesir yang telah tinggal bersa­ma kaumnya sejak empat puluh tahun yang lalu, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang
kafir Quraisy mengutus An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu’h kepada orang-orang alim Yahudi di Madinah. Kaumnya berpesan kepada mereka, “Tanyakan­lah
kepada orang-orang Yahudi itu tentang Muhammad, dan ceritakanlah kepada mereka tentang sifatnya serta beritahukanlah kepada mereka tentang apa yang diucapkannya,
karena sesungguhnya mereka adalah Ahli Kitab yang terdahulu. Mereka mempunyai pengetahuan yang tidak kita miliki tentang para nabi.”

Keduanya berangkat meninggalkan kota Mekah menuju Madinah. Setelah sampai di Madinah, keduanya bertanya kepada ulama Yahudi tentang Rasulullah Saw. dan
menceritakan kepada mereka sifat-sifatnya serta sebagian dari ucapannya. Untuk itu keduanya mengatakan, “Se­sungguhnya kalian adalah Ahli Kitab Taurat,
kami datang kepada kalian untuk memperoleh informasi tentang teman kami ini (maksudnya Nabi Saw.)”

Ulama Yahudi itu menjawab, “Tanyakanlah oleh kalian kepada dia tentang tiga perkara yang akan kami terangkan ini. Jika dia dapat menja­wabnya, berarti
dia benar-benar seorang nabi yang diutus. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, berarti dia adalah seseorang yang mengaku-aku dirinya menjadi nabi;
saat itulah kalian dapat memilih pendapat sendiri terhadapnya. Tanyakanlah kepadanya tentang beberapa orang pemuda yang pergi meninggalkan kaumnya di masa
silam, apakah yang dialami oleh mereka? Karena sesungguhnya kisah mereka sangat menakjubkan. Dan tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang melanglang
buana sampai ke belahan timur dan barat, bagaimanakah kisahnya. Dan tanyakanlah kepadanya tentang roh, apakah roh itu? Jika dia mencerita­kannya kepada
kalian, berarti dia adalah seorang nabi dan kalian harus mengikutinya. Tetapi jika dia tidak menceritakannya kepada kalian, maka sesungguhnya dia adalah
seorang lelaki yang mengaku-aku saja. Bila demikian, terserah kalian, apa yang harus kalian lakukan terhadapnya.”

Maka An-Nadr dan Uqbah kembali ke Mekah. Setelah tiba di Me­kah, ia langsung menemui orang-orang Quraisy dan mengatakan kepada mereka, “Hai orang-orang
Quraisy kami datang kepada kalian dengan membawa suatu kepastian yang memutuskan antara kalian dan Muham­mad. Ulama Yahudi telah menganjurkan kepada kami
untuk menanyakan kepadanya beberapa perkara,” lalu keduanya menceritakan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada mereka.

Mereka datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Hai Muham­mad, ceritakanlah kepada kami!’ Lalu mereka menanyainya dengan per­tanyaan-pertanyaan yang
dianjurkan oleh para pendeta Yahudi tadi. Dan Rasulullah Saw. menjawab mereka, “Aku akan menceritakan jawaban dari pertanyaan kalian itu besok,” tanpa
menentukan batas waktunya.

Mereka bubar meninggalkan Nabi Saw., dan Nabi Saw. tinggal selama lima belas hari tanpa ada wahyu dari Allah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut
Malaikat Jibril pun tidak turun kepadanya selama itu, hingga penduduk Mekah ramai membicarakannya. Mereka mengatakan, “Muhammad telah menjanjikan kepada
kita besok, tetapi sampai lima belas hari dia tidak menjawab sepatah kata pun tentang apa yang kami tanyakan kepadanya.”

Karenanya Rasulullah Saw. bersedih hati, wahyu terhenti darinya dan beliau merasa berat terhadap apa yang diperbincangkan oleh pendu­duk Mekah tentang
dirinya. Tidak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril kepadanya dengan membawa surat yang di dalamnya terkandung kisah Ashabul Kahfi (para penghuni gua),
dan surat itu mengandung teguran pula terhadap diri Nabi Saw. yang bersedih hati atas sikap mere­ka. Surat itu juga mengandung jawaban dari pertanyaan
mereka tentang kisah para pemuda yang menghuni gua serta lelaki yang melanglang buana (Zul Qarnain), juga firman Allah Swt. yang mengatakan: Dan mereka
bertanya kepadamu tentang roh, katakanlah, “Roh itu, (Al-Isra: 85), hingga akhir ayat.”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.