18. SURAT AL-KAHFI

قَدْ أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ عَنْ أَبِي بَكْرٍ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُؤَمَّلِ، حَدَّثَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الشَّعراني، حَدَّثَنَا نُعَيم بْنُ حمَّاد، حَدَّثَنَا هُشَيْم، حَدَّثَنَا أَبُو هَاشِمٍ، عَنْ أَبِي مِجْلَز، عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَاد، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ ”

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya telah mengetengahkan­nya dari Abu Bakar Muhammad ibnul Mu-ammal, bahwa telah mencerita­kan kepada kami Al-Fudail ibnu Muhammad Asy-Sya’rani, telah menceri­takan kepada kami Na’im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Abu Hasyim, dari Abu Mijlaz, dari Qais ibnu Abbad, dari Abu Sa’id, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka memancarlah cahaya baginya sejak mulai membacanya sampai Jumat berikutnya.

Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab sunnahnya, dari Imam Hakim.

Kemudian Imam Baihaqi mengatakan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Yahya ibnu Kasir, dari Syu’bah, dari Abu Hasyim berikut dengan sanadnya, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ كما أنزلت كانت لَهُ نُورًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ”

Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi sebagaimana ia diturunkan, maka surat Al-Kahfi akan menjadi cahaya baginya kelak di hari kiamat.

Di dalam kitab Al-Mukhtarah karya Al-Hafiz Ad-Diyaul Maqdisi dise­butkan dari Abdullah ibnu Mus’ab, dari Manzur ibnu Zaid ibnu Khalid Al-Juhani, dari Ali ibnul Husain, dari ayahnya, dari Ali secara marfu’, yaitu:

” مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَهُوَ مَعْصُومٌ إِلَى ثَمَانِيَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ، وَإِنْ خَرَجَ الدَّجَّالُ عُصِمَ مِنْهُ ”

“Barang siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka ia dipelihara selama delapan hari dari segala fitnah; dan jika Dajjal keluar, maka ia dipelihara dari fitnahnya.”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah Yang Maha pemurah lagi Maha Penyayang.

{الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (1) قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ
الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (2) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (3) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ
اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (5) }

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebeng­kokan di dalamnya, sebagai bimbingan
yang lurus, untuk mem­peringatkan akan siksaan yang sangat pedih di sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan
amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk sela­ma-lamanya. Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang
yang berkala, “Allah mengambil seorang anak.” Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah
jeleknya kata-kata yang kelu­ar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecua­li dusta.

Dalam pembahasan terdahulu pada permulaan kitab tafsir telah disebut­kan bahwa Allah Swt. memuji diri-Nya sendiri Yang Mahasuci pada permulaan semua urusan
dan pungkasannya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Terpuji dalam semua keadaan; bagi-Nya sesala puji, baik di dunia maupun di akhirat. Maka dalam permulaan
surat ini Dia memulainya de­ngan pujian terhadap diri-Nya sendiri, bahwa Dia telah menurunkan Kitab­Nya (Al-Qur’an) yang mulia kepada rasul-Nya yang mulia,
yaitu Muham­mad Saw. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah nikmat yang paling besar yang dianugerahkan oleh Allah Swt. kepada penduduk bumi, karena berkat
Al-Qur’an mereka dikeluarkan dari kegelapan menuju kepada cahaya yang terang. Kitab Al-Qur’an adalah kitab yang iurus, tiada kebengkokan dan tiada penyimpangan
di dalamnya, bahkan Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada manusia ke jalan yang lurus. Kitab Al-Qur’an adalah kitab yang jelas, terang, dan gamblang, memberikan
peringatan terhadap orang-orang kafir dan menyampaikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Karena itulah Allah Swt. berfirman:

{وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا}

dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (Al- Kahfi: 1)

Artinya. Allah tidak menjadikannya mengandung kebengkokan, tidak pula kesesatan, tidak pula penyimpangan, bahkan Al-Qur’an dijadikan-Nya pertengahan lagi
lurus. Seperti yang disebutkan firman-Nya:

{قَيِّمًا}

sebagai bimbingan yang lurus. (Al-Kahfi: 2)

Yakni lurus tidak bengkok.

{لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ}

untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2)

terhadap orang-orang yang menentang-Nya dan mendustakan-Nya serta tidak beriman kepada-Nya. A!-Qur’an memperingatkan mereka akan pembalasan yang keras
dan siksaan yang disegerakan di dunia serta yang ditangguhkan sampai hari akhirat nanti.

{مِنْ لَدُنْهُ}

dari sisi Allah. (Al-Kahfi: 2)

Yaitu dari sisi Allah yang berupa siksaan yang tiada seorang pun dapat mengazab seperti azab yang ditimpakan oleh-Nya, dan tiada seorang pun dapat mengikat
seperti ikatan-Nya.

{وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ}

dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman. (Al-Kahfi: 2)

Maksudnya, dengan Al-Qur’an ini mereka yang imannya dibuktikan de­ngan amal saleh mendapat berita gembira.

{أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا}

bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik. (Al-Kahfi: 2)

Yakni balasan pahala yang baik dari sisi Allah.

{مَاكِثِينَ فِيهِ}

mereka kekal di dalamnya. (Al-Kahfi: 3)

Mereka mendapat pahala yang kekal di sisi Allah, yaitu surga mereka kekal di dalamnya.

{أَبَدًا}

untuk selama-lamanya. (Al-Kahfi: 3)

Yakni mereka kekal dan abadi di dalamnya untuk selama-lamanya, tidak pernah hilang dan tidak pernah habis nikmat yang diperolehnya.

Firman Allah Swt.:

{وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا}

Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” (Al-Kahfi: 4)

Ibnu Ishaq mengatakan, makna yang dimaksud ialah orang-orang musyrik Arab, karena mereka mengatakan, “Kami menyembah malaikat-malaikat, mereka adalah anak-anak
perempuan Allah.”

{مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ}

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan. (Al-Kahfi: 5)

Yaitu dengan ucapan yang mereka buat-buat dan mereka dustakan dari diri mereka sendiri itu.

{وَلا لآبَائِهِمْ}

begitu pula nenek moyang mereka. (Al-Kahfi: 5)

Yakni para pendahulu mereka,

{كَبُرَتْ كَلِمَةً}

Alangkah jeleknya kata-kata. (Al-Kahfi: 5)

Lafaz kalimatan di-nasab-kan sebagai tamyiz, bentuk lengkapnya ialah ‘Alangkah buruknya kalimat mereka yang ini’. Menurut pendapat yang lain, ungkapan
ini adalah sigat (bentuk) ta’ajjub, bentuk lengkapnya ialah ‘Alangkah buruknya kata-kata mereka itu’, seperti kalimat, “Akrim bizaidin rajutan,” yakni
alangkah mulianya Zaid sebagai seorang laki-laki. Demikianlah menurut sebagian ulama Basrah, dan sebagian ahli Qiraat Mekah membacanya demikian, yaitu
kaburat kalimatan. Perihal­nya sama dengan kalimat kabura syanuka dan azuma qauluka, yakni ‘alangkah buruknya keadaanmu’ dan ‘alangkah buruknya ucapanmu’.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.