“هَذَا مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ”
Ini termasuk nikmat yang kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban mengenainya
Hadis berpredikat garib bila ditinjau dari segi jalurnya.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Husain ibnu Ali As-Sada’i, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnul Qasim, dari Yazid ibnu Kaisan,
dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa ketika Abu Bakar dan Umar sedang duduk,’ maka datanglah Nabi Saw. kepada keduanya, lalu beliau
Saw. bertanya, “Apakah yang membuat kamu berdua duduk di sini?” keduanya menjawab, “Demi Tuhan Yang telah mengutus engkau dengan hak, tiada yang menyebabkan
kami keluar melainkan rasa lapar.” Nabi Saw. bersabda; “Demi Allah yang telah mengutusku dengan hak, tidak ada yang mendorongku keluar selain dari alasan
yang sama.” Lalu mereka pergi hingga sampai di rumah seorang lelaki dari kalangan Ansar, maka mereka disambut oleh seorang wanita, dan Nabi Saw. bertanya
kepada wanita itu, “Kemanakah si Fulan (suaminya)?” Wanita itu menjawab bahwa suaminya sedang pergi untuk menyejukkan air minum buat dia dan keluarganya.
Tidak lama kemudian datanglah orang yang dicari mereka dengan membawa qirbah wadah airnya, dan ia langsung berkata menyambut mereka, “Marhaban (selamat
datang), tiada seorang tamu pun berkunjung kepada seseorang lebih afdal daripada Nabi yang hari ini datang berkunjung kepadaku.” Lalu ia menggantungkan
qirbah wadah airnya ke pohon kurma dan ia pergi, kemudian datang lagi dengan membawa setandan buah kurma. MakaNabi Saw. bersabda kepadanya, “Bukankah engkau
telah memetik buah kurmamu?” Lelaki itu menjawab “Aku ingin menghormati kalian dengan rnenyajikan makanan yang masih segar menurut kesukaan kalian.” Kemudian
ia mengambil pisau besar (untuk menyembelih kambing), maka Nabi Saw. bersabda, “Janganlah kamu sembelih kambing yang sedang menyusui.” Ia menyembelih kambing
buat mereka di hari itu dan mereka makan makanan yang telah disajikan, lalu Nabi Saw. bersabda:
“لَتُسْأَلُنَّ عَنْ هَذَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمُ الْجُوعُ، فَلَمْ تَرْجِعُوا حَتَّى أَصَبْتُمْ هَذَا، فَهَذَا مِنَ النَّعِيمِ”
Sungguh kamu akan ditanyai mengenai hal ini kelak di hari kiamat. Kamu keluar karena terdorong oleh rasa lapar, dan sebelum pulang kamu telah mendapatkan
semua ini, dan ini termasuk dari nikmat.
Imam Muslim meriwayatkannya melalui hadis Yazid ibnu Kaisan dengan sanad yang sama. Abu Ya’la dan Ibnu Majah telah meriwayatkan melalui hadis Al-Mukari,
dari Yahya ibnu Ubaidillah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Abu Bakar dengan lafaz yang sama. Arba’ah telah meriwayatkan hadis ini melalui Abdul
Malik ibnu Umair, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah dengan teks yang semisal dan juga kisahnya.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan’kepada kami Hasyraj, dari Abu Nadrah, dari Abu Asib maula Rasulullah
Saw. yang telah menceritakan bahwa di suatu malam Rasulullah Saw. keluar. lalu lewat di dekat rumahku, maka beliau memanggilku dan aku pun keluar menemaninya.
Lalu Nabi Saw. melewati rumah Abu Bakar dan memanggilnya, maka Abu Bakar keluar dan bergabung bersamanya. Nabi Saw. berangkat meneruskan perjalannya hingga
sampailah di sebuah kebun kurma milik seorang Ansar dan beliau memasukinya, lalu berkata kepada pemilik kebun itu, “Berilah kami makan.” Lalu pemilik kebun
itu datang dengan membawa setandan buah kurma, dan Rasulullah Saw. makan bersama sahabat-sahabatnya, kemudian meminta air sejuk dan minum, lalu bersabda:
Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang ini kelak di hari kiamat. Maka Umar mengambil ketandan buah kurma itu dan memukulkannya ke
tanah hingga buahnya yang gemading berceceran di hadapan Rasulullah Saw., kemudian Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita sungguh akan dimintai
pertanggungjawaban tentang ini kelak di hari kiamat?” Maka Rasulullah Saw. menjawab:
“نَعَمْ، إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: خِرْقَةٌ لَفَّ بِهَا الرَّجُلُ عَوْرَتَهُ، أَوْ كَسْرَةٌ سَدَّ بِهَا جَوْعَتَهُ، أَوْ جُحْرٌ تَدخَّل فِيهِ مِنَ الْحَرِّ
وَالْقَرِّ”
Ya, kecuali tiga hal, yaitu kain yang digunakan oleh seseorang untuk menutupi aurat tubuhnya, atau sepotong roti yang dimakan untuk menutup rasa laparnya,
atau rumah tempat bernaungnya dari kepanasan dan kedinginan.
Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ammar; ia pernah
mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah Saw., Abu Bakar, dan Umar memakan buah kurma dan minum air, setelah itu Rasulullah Saw. bersabda:
“هَذَا مِنَ النَّعِيمِ الَّذِي تُسْأَلُونَ عَنْهُ”
Ini termasuk nikmat yang kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Ammar ibnu Abu Ammar, dari Jabir dengan lafaz yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amr, dari Safwan ibnu Sulaim, dari Mahmud ibnur
Rabi’ yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. (At-Takatsur: 1) Ia meneruskan bacaannya sampai pada
firman-Nya: kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia ini). (At-Takatsur: 8) Maka para sahabat bertanya,
“Wahai Rasulullah, tentang nikmat apakah yang kami akan ditanyai mengenainya? Padahal sesungguhnya hanya kurma dan air, dan pedang kami yang selalu tersandang,
sedangkan musuh menghadang di hadapan. Lalu nikmat apakah yang akan dipertanyakan kepada kami?” Rasulullah Saw. menjawab, “Ingatlah, sesungguhnya pertanyaan
tentang hal itu pasti akan terjadi.”
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir alias Abdul Malik ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, telah
menceritakan kepada kami Mu’az ibnu Abdullah ibnu Habib, dari ayahnya, dari pamannya yang mengatakan bahwa kami berada di suatu majelis, lalu muncullah
Nabi Saw., sedangkan di kepala beliau terdapat bekas air. Maka kami berkata, “Wahai Rasulullah, kami melihat engkau dalam keadaan senang.” Rasulullah Saw.
menjawab, “Ya.” Kemudian orang-orang berbincang-bincang tentang kekayaan. Maka Rasulullah Saw. bersabda:
“لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى اللَّهَ، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى اللَّهَ خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى، وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النَّعِيمِ”
Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang yang bertakwa kepada Allah, dan sehat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa kepada Allah daripada kekayaan, dan
senang hati lebih baik daripada kesenangan.
Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Khalid ibnu Makhlad, dari Abdullah ibnu Sulaiman dengan sanad yang sama.
قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْعَلَاءِ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ عَرْزَمٍ الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ
عَنْهُ -يَعْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ-الْعَبْدُ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ: أَلَمْ نُصِحّ لك جسمك، ونُرْوكَ من الماء البارد؟ “