102. SURAT AT-TAKATSUR

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur:
1-2) Dahulu mereka mengatakan, “Kami lebih banyak daripada Bani Fulan, dan kami lebih kuat daripada Bani Fulan,” setiap hari mereka saling menjatuhkan
yang lainnya tanpa henti-hentinya. Demi Allah, mereka akan terus-menerus demikian sehingga mereka semuanya masuk ke dalam kubur dan menjadi penghuninya.

Pendapat yang sahih menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: sampai kamu masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 2) Yakni hingga kalian dikubur dan
menjadi penghuninya, sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadis sahih:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم دَخَلَ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْأَعْرَابِ يَعُودُهُ، فَقَالَ: “لَا بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ”. فَقَالَ:
قُلْتَ: طَهُور؟! بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُورُ، عَلَى شَيْخٍ كَبِيرٍ، تُزيره الْقُبُورَ! قَالَ: “فَنَعَم إِذًا”

bahwa Rasulullah Saw. mendatangi seorang lelaki Badui dalam rangka menjenguknya, lalu bersabda: “Tidak mengapa, insya Allah disucikan.” Lelaki itu menjawab,
“Engkau katakan disucikan, tidak sebenarnya yang kurasakan adalah demam yang mengguncangkan seorang syekh (berusia lanjut) lagi sudah tua dan sudah dekat
ke Liang kuburnya.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Kalau begitu, itu yang terbaik.”

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id Al-Asbahani, telah menceritakan
kepada kami Hakkam ibnu Salim Ar-Razi, dari Amr ibnu Abu Qais, dari Al-Hajjaj, dari Al-Minhal, dari Zur ibnu Hubaisy, dari Ali yang mengatakan bahwa kami
masih tetap meragukan tentang adanya siksa kubur sebelum diturunkan firman-Nya: Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam
kubur. (At-Takatsur: 1 -2)

Imam Turmuzi telah meriwayatkan hadis ini dari Abu Kurajb, dari Hakkam ibnu Salim dengan sanad yang sama, lalu Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini
garib.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Daud Al-Irdi, telah menceritakan kepada kami
Abul Malih Ar-Ruqiy, dari Maimun ibnu Mahran yang mengatakan bahwa ketika aku sedang duduk di hadapan Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz, maka ia membaca firman-Nya:
Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1-2) Maka dia diam sebentar, lalu berkata, “Hai Maimun, tiadalah
kulihat kuburan itu melainkan dalam ziarahku, dan sudah merupakan keharusan bagi orang yang berziarah kembali ke tempat tinggalnya.” Abu Muhammad menjelaskan
bahwa makna yang dimaksud dengan kembali ke tempat tinggalnya ialah ke surga atau ke neraka.

Hal yang sama telah disebutkan, bahwa pernah ada seorang lelaki Badui mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya: sampai kalian masuk ke dalam kubur.
(At-Takatsur: 2) Lalu ia berkata, “Demi Tuhan yang menguasai Ka’bah, ini artinya hari berbangkit.” Yakni sesungguhnya bagi orang yang menziarahi kubur
pasti akan pergi dari kubur itu menuju ke tempat yang lain.

*******************

Firman Allah Swt.:

{كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ثُمَّ كَلا سَوْفَ تَعْلَمُونَ}

Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian itu); dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur. 3-4)

Al-Hasan mengatakan bahwa dalam ayat ini terkandung pengertian ancaman sesudah ancaman lainnya.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur: 4) Yakni hai orang-orang kafir.
janganlah begitu, jika kalian mengetahui. (At-Takatsur: 5) Yaitu hai orang-orang mukmin.

Dan mengenai firman selanjutnya, yaitu:

{كَلا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ}

Janganlah begitu, jika kalian mengetahui dengan pengetahuan ‘ainul yaqin. (At-Takatsur: 5)

Yakni seandainya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang sebenarnya, niscaya kalian tidak akan terlena dengan memperbanyak harta hingga lupa dari mencari
pahala akhirat, sampai kalian masuk ke dalam kubur. Kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya:

{لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ}

niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sesungguhnya kalian benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. (At-Takatsur: 6-7)

Ini merupakan penjelasan dari ancaman yang telah disebutkan di atas, yaitu pada firman-Nya: Janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan
kalian itu); dan janganlah begitu, kelak kalian akan mengetahui. (At-Takatsur: 3-4)

Allah mengancam mereka dengan keadaan tersebut, yaitu saat ahli neraka melihat neraka manakala neraka bergolak dengan sekali golak. Maka menyungkurlah
semua malaikat terdekat dan nabi yang diutus dengan bersideku di atas kedua lututnya masing-masing karena takut menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sangat
mengerikan itu, sebagaimana yang akan disebutkan dalam atsar yang menceritakan keadaan tersebut.

Firman Allah Swt.:

{ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ}

kemudian kalian pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia itu). (At-Takatsur: 8)

Yakni kemudian kalian benar-benar akan dimintai pertanggungjawaban di hari itu tentang mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada
kalian, seperti kesehatan, keamanan, rezeki, dan lain sebagainya, apakah kalian bersyukur dan beribadah kepada-Nya?

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya Al-Jazzar Al-Muqri, telah menceritakan
kepada kami Abdullah ibnu Isa alias Abu Khalid Al-Jazzar, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Ubaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas; ia pernah mendengar
Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa Rasulullah Saw. keluar di waktu tengah hari, dan beliau menjumpai Abu Bakar berada di dalam masjid. Maka Rasulullah
Saw. bertanya, “Apakah yang mendorongmu keluar di saat seperti ini?” Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, telah mengeluarkan aku Tuhan yang telah mengeluarkanmu.”
Lalu datanglah pula Umar ibnul Khattab, makaNabi Saw. bertanya, “Apakah yang menyebabkan kamu keluar, hai Ibnul Khattab?” Umar menjawab, “Tuhan yang telah
menyebabkan kamu berdua keluar.” Lalu Umar duduk, dan Rasulullah Saw. berbicara kepada keduanya, “Maukah kamu berdua aku ajak menuju ke kebun kurma itu,
maka kamu akan mendapat makanan, minuman, dan naungan?” Keduanya menjawab, “Kami mau.” Rasulullah Saw. bersabda, “Marilah kita singgah di rumah Ibnut Taihan
alias Abul Haisam Al-Ansari.” Maka Rasulullah Saw. berada di depan kami dan mengucapkan salam serta meminta izin sebanyak tiga kali, sedangkan Ummul Haisam
berada di balik pintu rumahnya mendengarkan ucapan Rasulullah Saw. dengan maksud ia mendapat tambahan dari salam Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw.
hendak pergi, Ummul Haisam keluar dan mengerjarnya dari belakang, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya aku mendengar suara salammu,
tetapi aku bermaksud ingin mendapat tambahan dari salammu.” Rasulullah Saw. menjawab, “Itu baik.” Rasulullah Saw. bertanya, “Mana Abul Haisam, aku tidak
melihatnya?” Ummul Haisam menjawab, “Wahai Rasulullah, dia pergi sebentar untuk menyejukkan air minum, sebentar lagi insya Allah dia akan datang, masuklah.”
Lalu Ummul Haisam menggelarkan permadani di bawah pohon kurma. Tidak lama kemudian datanglah Abul Haisam, dan ia merasa senang dengan kedatangan mereka,
lalu ia segera menaiki pohon kurma dan memetik beberapa tangkai buah kurma. Maka Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Itu sudah cukup, hai Abul Haisam.”
Abul Haisam berkata, “Wahai Rasulullah, engkau makan buahnya yang masih gemading dan yang telah masak,” lalu Abul Haisam menyuguhkan air minum buat mereka
dan mereka pun minum dari air yang disuguhkannya. Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda:

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.