Yusuf, ayat 109

Yakni orang-orang yang mendustakan kamu, hai Muhammad, mengapa mereka tidak bepergian di muka bumi.

{فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ}

lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. (Yusuf: 109)

dari kalangan umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul-rasul, bagaimana Allah membinasakan mereka dan orang-orang kafir yang semisal dengan mereka. Makna ayat ini semisal dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:

{أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ}

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami. (Al-Hajj: 46), hingga akhir ayat.

Apabila mereka mendengar berita itu, tentulah mereka berpikir bahwa Allah telah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mulariin. Itulah ketentuan hukum Allah pada makhluk-Nya. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:

{وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا}

dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. (Yusuf: 109)

Dengan kata lain, sebagaimana Kami selamatkan orang-orang mukmin di dunia ini, demikian pula Kami tetapkan keselamatan bagi mereka di dalam kehidupan akhirat nanti; dan kehidupan akhirat itu jauh lebih baik daripada kehidupan di dunia bagi mereka. Ayat ini semakna dengan firman-Nya yang mengatakan:

{إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ}

Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat), (yaitu) hari yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi mereka­lah laknat, dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. (Al-Mu’min: 51-52)

Lafaz ad-dar di-mudaf-kan kepada lafaz al-akhirah. Untuk itu disebutkan:

{وَلَدَارُ الآخِرَةِ}

dan sesungguhnya kampung akhirat. (Yusuf: 109)

Perihalnya sama dengan idafah yang ada pada lafaz “صَلَاةُ الْأُولَى”, مَسْجِدُ الْجَامِعِ, “عَامُ الْأَوَّلِ”, بَارِحَةُ الْأُولَى, dan يَوْمُ الْخَمِيسِ.

Seorang penyair mengatakan:

أَتَمْدَحُ فَقْعَسًا وَتذمّ عَبْسًا … أَلَا لِلَّهِ أمَّكَ مِنْ هَجين …

وَلو أقْوتْ عَلَيك ديارُ عَبْسٍ … عَرَفْتَ الذُّلَّ عرْفانَ اليَقين

Apakah engkau memuji Faq’asan dan mencela Abs?

Demi Allah, cegahlah kamu dari mencela,

seandainya aku ajak kamu keliling ke rumah-rumah Abs,

tentulah kamu mengetahui kehinaan (yang ada padanya) dengan pengetahuan yang meyakinkan

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.