Yasin, ayat 68-70

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “لِأَنَّ يَمْتَلِئُ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا”.

Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Walid At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-A’masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Hendaklah seseorang di antara kalian memenuhi perutnya dengan nanah adalah lebih baik baginya daripada memenuhi dirinya dengan syair.

Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid dari jalur ini, sanadnya dengan syarat Syaikhain (dapat diterima), tetapi keduanya tidak mengetengahkannya.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا بُرَيْدٌ، حَدَّثَنَا قَزَعةُ بْنُ سُوَيْد الْبَاهِلِيُّ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ مَخْلَد، عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ، الصَّنْعَانِيِّ (ح) وَحَدَّثَنَا الْأَشْيَبُ فَقَالَ: عَنِ ابْنِ عَاصِمٍ، عَنْ [أَبِي] الْأَشْعَثِ عَنْ شَدَّاد بْنِ أَوْسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ قَرَضِ بَيْتَ شِعْرٍ بَعْدَ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صلاة تلك الليلة”.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Quza’ah ibnu Suwaid Al-Bahili, dari Asim ibnu Makhlad, dari Abul Asy’as As-San’ani, dan telah menceritakan kepada kami Al-Asy-yab, ia telah meriwayatkan dari Ibnu Asim, dari Al-Asy’as, dari Syaddad ibnu Aus r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang membuat satu bait syair sesudah salat Isya, maka tidak diterima darinya salat malam itu.

Hadis ini garib bila ditinjau dari segi jalurnya, tiada seorang pun dari Sittah yang mengetengahkannya. Yang dimaksud dalam hadis ini ialah membuat syair, bukan mengucapkannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Perlu diketahui bahwa di antara syair itu ada yang disyariatkan, misalnya syair untuk menyerang kaum musyrik seperti yang pernah dilakukan oleh para penyair Islam di masa Nabi Saw. Para tokohnya, antara lain Hassan ibnu Sabit, Ka’b ibnu Malik, Abdullah ibnu Rawwahah, dan lain-lainnya, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Di antara syair ada yang bersubjekkan hikmah-hikmah, pelajaran-pelajaran, dan etika-etika, seperti yang dijumpai pada syair sejumlah penyair masa Jahiliah yang antara lain Umayyah ibnu Abus Silt yang dinilai oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya:

“آمَنَ شِعْرُهُ وَكَفَرَ قَلْبُهُ”

Syairnya beriman, tetapi hatinya kafir.

Salah seorang sahabat pernah mendendangkan syair sebanyak seratus bait syair untuk Nabi Saw., dan sesudah tiap bait syair beliau Saw. me­ngatakan, “Terus,” yakni memintanya agar meneruskan bait-bait syairnya.

Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ubay ibnu Ka’b, Buraidah ibnul Khasib, serta Abdullah ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا، وَإِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكَمًا”

Sesungguhnya di dalam paramasastra itu terdapat pengaruh yang memukaukan seperti pengaruh sihir, dan sesungguhnya di antara syair itu ada yang mengandung hikmah.

Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:

{وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ}

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya. (Yasin: 69) Maksudnya, Allah tidak mengajarkan syair kepada Muhammad Saw.

{وَمَا يَنْبَغِي لَهُ}

dan bersyair itu tidak layak baginya. (Yasin: 69)

Yaitu tidak pantas baginya bersyair.

{إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ}

Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. (Yasin: 69)

Yakni apa yang Kami ajarkan kepadanya itu.

{إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ}

tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. (Yasin: 69)

Yakni yang jelas dan gamblang bagi orang yang mau merenungkan dan memikirkannya. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:

{لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا}

supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup. (Yasin: 70)

Supaya dengan Al-Qur’an yang memberi penerangan ini dia memberi peringatan kepada semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Ayat ini semakna dengan ayat lain yang mengatakan:

{لأنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ}

supaya dengan Al-Qur’an ini aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur’an (kepadanya). (Al-An’am: 19)

Dan firman Allah Swt.:

{وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ}

Dan barang siapa di antara mereka (kaum Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya. (Hud: 17)

Dan sesungguhnya orang yang mau menerima peringatannya hanyalah orang yang hidup hatinya lagi terang pandangan mata hatinya, seperti yang dikatakan oleh Qatadah hidup hatinya dan hidup pandangannya. Sedangkan menurut Ad-Dahhak, makna yang dimaksud ialah yang berakal.

{وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ}

supaya pastilah ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir. (Yasin: 70)

Artinya, Al-Qur’an itu merupakan rahmat bagi orang-orang mukmin dan hujah terhadap orang-orang kafir

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.