Yasin, ayat 63-67

Imam Muslim dan Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah secara panjang lebar.

قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، رَحِمَهُ اللَّهُ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، حَدَّثَنَا ضَمْضَم بْنُ زُرْعَة عَنْ شُرَيْح بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ أَوَّلَ عَظْمٍ مِنَ الْإِنْسَانِ يَتَكَلَّمُ يَوْمَ يُختَم عَلَى الْأَفْوَاهِ، فَخذُه مِنَ الرِّجل الْيُسْرَى”.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, telah menceritakan kepada kami Damdam ibnu Zur’ah, dari Syuraih ibnu Ubaid, dari Uqbah ibnu Amir r.a., bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya anggota tubuh manusia yang mula-mula ber­bicara di hari semua mulut dibungkam adalah paha kaki kirinya.

Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Auf dari Abdullah ibnul Mubarak dari Ismail ibnu Iyasy dengan sanad dan lafaz yang semisal.

Imam Ahmad menilai jayyid sanad hadis ini. Untuk itu dia mengatakan:

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ ضَمْضَم بْنِ زُرْعَة، عَنْ شُرَيْح بْنِ عُبَيد الْحَضْرَمِيِّ، عَمَّنْ حَدَّثه عَنْ عُقْبَةَ بن عامر؛ أنه سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ أَوَّلَ عَظْمٍ مِنَ الْإِنْسَانِ يَتَكَلَّمُ يَوْمَ يُختَم عَلَى الْأَفْوَاهِ، فَخذه مِنَ الرِّجْلِ الشِّمَالِ”.

telah menceritakan kepada kami Al-Hakam ibnu Nafi’, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Iyasy, dan Damdam ibnu Zur’ah dari Syuraih ibnu Ubaid Al-Hadrami dari seseorang yang menceritakan hadis ini kepadanya, dari Uqbah ibnu Amir r.a. bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya anggota tubuh manusia yang mula-mula berbicara di hari semua mulut dikunci ialah paha kaki kirinya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Aliyyah, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Ubaid, dari Humaid ibnu Hilal yang mengatakan bahwa Abu Burdah pernah mengatakan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari r.a. telah berkata bahwa kelak di hari kiamat orang mukmin dipanggil untuk menjalani perhitungan amal perbuatan. Lalu Tuhannya menampakkan kepadanya semua amal perbuatannya antara Dia dan orang mukmin itu. Maka orang mukmin itu mengakuinya dan mengatakan, “Benar, ya Tuhanku, aku telah melakukan anu dan anu dan anu.” Maka Allah Swt. mengampuni semua dosanya dan menutupi sebagian darinya. Tiada seorang makhluk pun yang melihat dosa-dosa tersebut barang sedikit pun, dan yang tampak hanyalah kebaikan-kebaikannya saja, sehingga orang mukmin itu menginginkan andaikata semua manusia melihatnya. Dan orang kafir serta orang munafik dipanggil untuk menjalani hisab amal perbuatannya, maka Tuhannya membeberkan kepadanya semua amal perbuatannya. Tetapi ia mengingkarinya dan berkata, “Ya Tuhanku, demi Keagungan-Mu, sesungguhnya malaikat ini telah mencatat pada buku amalku hal-hal yang tidak aku kerjakan.” Maka malaikat pencatat amal perbuatan berkata kepadanya, “Bukankah kamu telah melakukan anu di hari anu di tempat anu?” Ia menjawab, “Tidak, demi keagungan-Mu, ya Tuhanku, aku tidak melakukannya.” Apabila ia mengingkari semuanya itu, maka Allah Swt. membungkam mulutnya. Abu Musa Al-Asy’ari r.a. melanjutkan, bahwa sesungguhnya ia menduga anggota tubuhnya yang mula-mula berbicara ialah paha kanannya. Kemudian Abu Musa Al-Asy’ari membaca firman-Nya: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin: 65)

************

Adapun firman Allah Swt.:

{وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ}

Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah mereka dapat melihatnya). (Yasin: 66)

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan tafsir ayat ini. Ibnu Abbas mengatakan bahwa seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami sesatkan mereka dari jalan petunjuk, maka betapakah mereka dapat melihatnya. Di lain kesempatan Ibnu Abbas mengartikan tamasna dengan pengertian ‘Kami butakan’.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan, “Jikalau Allah menghendaki, tentulah mata mereka dibutakan-Nya sehingga mereka menjadi buta dan tidak dapat melihat jalan yang ditempuhnya.”

As-Saddi mengatakan bahwa seandainya Kami menghendaki, tentulah Kami butakan penglihatan mereka.

Mujahid, Abu Saleh, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan bahwa lalu mereka berlomba-lomba menuju sirat yakni jalan.

Ibnu Zaid mengatakan, yang dimaksud dengan sirat dalam ayat ini ialah kebenaran, maka betapakah mereka dapat melihatnya karena Kami telah membutakan penglihatan mereka.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa makna fa-anna yubsirun ialah mereka tidak dapat melihat perkara hak.

*********

Firman Allah Swt.:

{وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِم}

Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada. (Yasin: 67)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa makna masakhnahum ialah Kami binasakan mereka.

As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Kamu ubah bentuk mereka.

Abu Saleh mengatakan, maksudnya Kami jadikan mereka batu-batuan.

Al-Hasan Al-Basri dan Qatadah mengatakan bahwa tentulah Allah menjadikan mereka terduduk di atas kaki mereka.

Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

{فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا}

maka mereka tidak sanggup berjalan lagi. (Yasin: 67)

Yakni melangkah ke arah depan.

{وَلا يَرْجِعُونَ}

dan tidak (pula) sanggup kembali. (Yasin: 67)

Yaitu ke arah belakang, bahkan mereka tetap berada di tempatnya, tidak dapat maju dan tidak dapat mundur

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.