Thaha, ayat 40-44

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baikdan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl: 125)

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى}

mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha: 44)

Yakni barangkali saja Fir’aun sadar dari kesesatannya yang membinasakan dirinya itu, atau ia menjadi takut kepada Tuhannya, akhirnya ia mau taat kepada-Nya. Seperti yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا }

bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (Al-Furqan: 62)

Orang yang mau mengambil pelajaran akan sadar dan menghindari hal-hal yang terlarang, sedangkan rasa syukur ini timbul dari rasa takut kepada Allah dan sebagai ungkapan terima kasih kepada-Nya, akhirnya ia mengerjakan ketaatan kepada-Nya.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: mudah-mudahan ia ingat atau takut. (Thaha: 44) Yakni janganlah kamu berdua mendoakan kebinasaan untuknya sebelum kamu mengemukakan alasanmu kepadanya.

Sehubungan dengan hal ini saya akan mengemukakan syair Zaid ibnu Amr ibnu Nufail yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, menyitir kata-kata Umayyah ibnu Abus Silt:

وَأَنْتَ الَّذِي مِنْ فَضْلِ مَنٍّ وَرَحْمَةٍ … بَعَثْتَ إِلَى مُوسَى رَسُولًا مُنَادِيًا …

فَقُلْتَ لَهُ يَا اذْهَبْ وهارون فادعُوَا … إلى الله فرعون الذي كان بَاغِيَا …

فَقُولَا لَهُ هَلْ أَنْتَ سَوَّيْتَ هَذِهِ … بِلَا وَتَدٍ حَتَّى اسْتَقَلَّتْ كَمَا هِيَا …

وُقُولَا له أأنت رَفَّعت هذه … بلا عمد? أرفق إِذَنْ بِكَ بَانِيَا …

وَقُولَا لَهُ آأَنْتَ سَوَّيْتَ وَسْطَهَا … مُنِيرًا إِذَا مَا جَنَّه اللَّيْلُ هَادِيَا …

وَقُولَا لَهُ مَنْ يُخْرِجُ الشَّمْسَ بُكْرَةً … فَيُصْبِحُ مَا مَسَّتْ مِنَ الْأَرْضِ ضَاحِيَا …

وَقُولَا لَهُ مَنْ يُنْبِتُ الْحَبَّ فِي الثَّرَى … فَيُصْبِحُ مِنْهُ الْبَقْلُ يَهْتَزُّ رَابِيَا …

وَيُخْرِجُ مِنْهُ حَبَّهُ فِي رُءُوسِهِ فَفِي ذَاكَ آيَاتٌ لِمَنْ كَانَ وَاعِيَا

Engkaulah yang memberikan anugerah dan rahmat kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkau telah mengutus Musa sebagai rasul yang menyeru (Fir’aun untuk menyembah-Mu).

Maka Engkau berfirman kepadanya, “Pergilah kamu beserta Harun, serulah Fir’aun untuk menyembah Allah, dia adalah orang yang melampaui batas.

Katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘Apakah engkau mampu menghamparkan bumi ini tanpa pasak sehingga ia dapat terhampar seperti sekarang?’

Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘Apakah kamu mampu meninggikan langit ini tanpa tiang penyangga? Kalau begitu, cobalah bangun olehmu sendiri’.

Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘Apakah engkau yang menciptakan bintang-bintang yang bersinar bila malam hari sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman arah? ‘

Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, ‘Siapakah yang menerbitkan matahari di pagi hari, sehingga tiada suatu belahan bumi pun yang terkena sinarnya melainkan tampak dengan jelas?’

Dan katakanlah olehmu berdua kepadanya, “Siapakah yang menumbuhkah biji-bijian di bumi, sehingga tumbuhlah tetumbuhan dengan pesatnya, lalu dikeluarkan pula dari pucuk tetumbuhan itu biji-bijian?”

Dalam semuanya itu terkandung tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah bagi orang yang berakal.”

Berkatalah mereka berdua, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melewati batas.”

Allah berfirman.”Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.