Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan yang lebar. Tiba-tiba ia menjumpai seorang laki-laki yang sedang menyemaikan benihnya, lalu ia langsung menuai hasilnya yang berupa gandum yang bermutu tinggi lagi baik; Penjaga pintu itu berkata, “Itu merupakan gambaran tentang seorang laki-laki yang amal salehnya diterima dan dikembangkan pahalanya baginya.”
Pemuda itu melanjutkan kisahnya, bahwa ia melanjutkan perjalanannya hingga sampai di jalan yang lebar. Tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sedang terlentang, lalu lelaki itu berkata, “Hai hamba Allah, mendekatlah kepadaku, peganglah tanganku, dan dudukkanlah aku. Demi Allah, aku belum pernah duduk sejak diciptakan oleh Allah.” Maka aku (pemuda itu) memegang tangannya dan ia pun berdiri, lalu lari hingga hilang dari pandangan mataku.
Penjaga pintu itu berkata kepadanya, “Ini adalah usia orang yang dijauhkan yang telah habis. Aku adalah malaikat maut, dan aku jualah wanita yang datang kepadamu itu. Allah telah memerintahkan kepadaku agar mencabut nyawa orang yang dijauhkan di tempat ini, kemudian aku masukkan dia ke dalam neraka Jahannam.”
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa berkenaan dengan kisah yang semisal ayat berikut diturunkan, yaitu firman-Nya: Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini. (Saba: 54)
Asar ini garib, dan mengenai kesahihannya masih sangat diragukan.
Barangkali yang dimaksud oleh Ibnu Abbas sehubungan dengan kisah ini ialah bahwa orang-orang kafir itu semuanya bila dimatikan, arwah mereka dalam keadaan bergantung kepada kehidupan dunia (yaitu mencintainya). Sebagaimana yang terjadi dengan pemuda yang teperdaya ini lagi terfitnah dengan kekayaannya. Dia pergi untuk mencari apa yang didambakannya, tetapi tiba-tiba malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya sekonyong-konyong, sehingga terhalanglah dia dari apa yang diingininya.
*************
Firman Allah Swt.:
{كَمَا فُعِلَ بِأَشْيَاعِهِمْ مِنْ قَبْلُ}
sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. (Saba: 54)
Yakni sebagaimana yang telah dilakukan terhadap umat-umat terdahulu yang mendustakan para rasul; ketika azab Allah datang menimpa mereka, maka mereka berangan-angan seandainya saja mereka dahulu beriman. Tetapi nasi telah menjadi bubur, iman mereka saat itu tidak dapat diterima. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{فَلَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا قَالُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَحْدَهُ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهِ مُشْرِكِينَ. فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ إِيمَانُهُمْ لَمَّا رَأَوْا بَأْسَنَا سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ فِي عِبَادِهِ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكَافِرُونَ}
Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami mempersekutukan(nya) dengan Allah.” Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksaan Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (Al-Mu-min: 84-85)
**********
Adapun firman Allah Swt.:
{إِنَّهُمْ كَانُوا فِي شَكٍّ مُرِيبٍ}
Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam. (Saba: 54)
Yakni mereka dahulu sewaktu di dunia selalu berada dalam keraguan dan kebimbangan, karena itulah iman mereka tidak diterima saat mereka menyaksikan azab Allah.
Qatadah pernah mengatakan, “Janganlah kamu ragu dan bimbang. Karena sesungguhnya orang yang mati dalam keadaan bimbang dan ragu, maka ia dibangkitkan dalam keadaan seperti waktu ia mati. Dan barang siapa yang mati dalam keadaan yakin, maka ia akan dibangkitkan dalam keadaan yakni pula.
آخَرُ تَفْسِيرِ سورة “سبأ” ولله الحمد والمنة.