Kemudian ia menyebutkan perihal seorang lelaki muslim yang dicintai di kalangan kaumnya. Ketika ia mati, mereka mendiami sekitar kuburnya. Hal ini terjadi di suatu tempat di negeri Babil, sikap demikian itu karena kedukaan mereka atas kepergiannya. Ketika iblis melihat kedukaan mereka atas meninggalnya lelaki itu, maka ia mengubah dirinya menjadi seorang manusia, lalu berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku melihat duka cita kalian atas kepergian laki-laki ini, maka bolehkah aku membuat patung untuk kalian yang serupa dengan bentuk laki-laki ini di tempat perkumpulan kalian, sehingga kalian dapat mengingatnya?”
Mereka menjawab, “Baiklah.” Lalu iblis membuat patung lelaki itu, kemudian mereka meletakkan patung itu di tempat perkumpulan mereka, dan karenanya mereka selalu mengingatnya. Ketika iblis melihat kerinduan mereka kepada laki-laki itu, ia berkata, “Bolehkah aku buat sebuah patung untuk tiap-tiap rumah seseorang dari kamu, sehingga di dalam rumahnya terdapat patungnya, dan ia dapat selalu mengingatnya?” Mereka menjawab, “Boleh.” Maka setan membuat bagi tiap-tiap ahli bait sebuah patung yang mirip dengan lelaki muslim yang mereka cintai itu. Mereka menerimanya dan selalu mengingatnya dengan adanya patung itu di tiap-tiap rumah mereka.
Kemudian anak-anak mereka menjumpai apa yang diperbuat oleh orang tua-orang tua mereka, lalu mereka mengikuti jejaknya, kemudian mereka berkembang biak dan telah punah kisah mereka tentang patung lelaki muslim itu, pada akhirnya generasi-generasi berikutnya menjadikan patung itu sebagai sesembahan mereka selain Allah. Maka patung yang mula-mula disembah selain Allah adalah berhala yang mereka namai Wadd.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا}
Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia). (Nuh: 24)
Yakni berhala-berhala yang dijadikan sembahan oleh mereka itu telah menyesatkan banyak manusia, dan penyembahan terhadap berhala-berhala itu masih tetap berlangsung sampai zaman kita sekarang ini, baik di kalangan bangsa Arab, non-Arab, maupun bangsa Bahi Adam lainnya. Al-Khalil dalam doanya mengatakan:
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنامَ رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ
Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala, Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. (Ibrahim: 35-36)
Firman Allah Swt.:
{وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا}
Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan. (Nuh: 24)
Ini merupakan doa Nuh terhadap kaumnya karena ia melihat pembangkangan mereka, kekafiran, dan keingkaran mereka yang sangat parah. Sebagaimana doa Musa terhadap Fir’aun dan pemimpin-pemimpin kaumnya, yang disitir oleh firman Allah Swt.:
رَبَّنَا اطْمِسْ عَلى أَمْوالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلى قُلُوبِهِمْ فَلا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذابَ الْأَلِيمَ
Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka; maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih. (Yunus: 88)
Allah Swt. telah memperkenankan doa masing-masing nabi terhadap kaumnya. Dan Allah menenggelamkan kaum Nuh disebabkan kedustaan mereka kepada apa yang disampaikan oleh Nuh kepada mereka