Imam Abu Daud meriwayatkan hadis ini melalui hadis Al-A’masy, sedangkan Imam Nasai dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Al-Minhal ibnu Amr dengan sanad yang sama.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Yunus ibnu Habib, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Zadzan, dari Al-Barra ibnu Azib r.a. yang mengatakan, “Kami berangkat bersama Rasulullah Saw. melayat jenazah,” kemudian disebutkan hadis yang semisal. Di dalam riwayat ini disebutkan bahwa:
“حَتَّى إِذَا خَرَجَ رُوحُهُ صَلَّى عَلَيْهِ كُلُّ مَلَكٍ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، [وَكُلُّ مَلَكٍ فِي السَّمَاءِ] وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، لَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَابٍ إِلَّا وَهُمْ يَدْعُونَ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، أَنْ يَعْرُجَ بِرُوحِهِ مَنْ قِبَلِهِمْ”.
apabila rohnya telah keluar (dari jasad orang mukmin), maka memohonkan ampunan dan rahmat buatnya semua malaikat yang ada di antara langit dan bumi, demikian pula semua malaikat yang ada di langit. Dan semua pintu langit dibuka, tiada ahli suatu pintu langit pun melainkan mereka berdoa kepada Allah Swt. agar rohnya dinaikkan oleh mereka.
Di akhir hadis ini disebutkan,
“ثُمَّ يُقَيَّضُ لَهُ أَعْمَى أَصَمُّ أَبْكَمُ، وَفِي يَدِهِ مرزبَّة لَوْ ضُرِبَ بِهَا جَبَلٌ لَكَانَ تُرَابًا، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً فَيَصِيرُ تُرَابًا. ثُمَّ يُعِيدُهُ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا كَانَ، فَيَضْرِبُهُ ضَرْبَةً أُخْرَى فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ”. قَالَ الْبَرَاءُ: ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى النَّارِ، وَيُمَهَّدُ مِنْ فُرُشِ النَّارِ
“Lalu ia diserahkan kepada malaikat yang bengis, kejam, dan dingin serta tidak bicara; tangannya memegang gada, seandainya gada itu dipukulkan ke sebuah gunung, tentulah gunung itu hancur menjadi debu dengan sekali pukul. Lalu malaikat itu memukulnya sekali pukul, maka ia jadi debu, kemudian Allah mengembalikannya seperti semula; dan malaikat itu kembali memukulnya dengan pukulan yang lain, maka menjeritlah ia dengan jeritan yang sangat keras, suara jeritannya terdengar oleh segala sesuatu kecuali manusia dan jin.” Al-Barra mengatakan, “Lalu dibukakan baginya sebuah pintu yang menuju neraka dan dihamparkan baginya hamparan dari neraka.”
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari ayahnya, dari Khaisamah, dari Al-Barra sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27) Bahwa makna yang dimaksud ialah azab kubur.
Al-Mas’udi telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Mukhariq, dari ayahnya, dari Abdullah yang mengatakan bahwa sesungguhnya orang mukmin itu apabila mati, ia didudukkan di dalam kuburnya, lalu ditanyai, “Siapakah Tuhanmu, apakah agamamu, dan siapakah nabimu?” Maka Allah meneguhkannya, dan ia menjawab, “Tuhanku Allah, agamaku Islam, dan nabiku Muhammad Saw.” Lalu Abdullah membacakan firman-Nya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. (Ibrahim: 27)
Imam Abdu ibnu Humaid telah meriwayatkan di dalam kitab Musnad-nya:
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ قَتَادَةَ، حَدَّثَنَا أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ”. قَالَ: “فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ ” قَالَ: “فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ”. قَالَ: “فَيُقَالُ لَهُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ، قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ”. قَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَيَرَاهُمَا جميعا”. قال قَتَادَةُ: وَذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا، وَيُمْلَأُ عَلَيْهِ خَضِرًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abdur Rahman, dari Qatadah; telah menceritakan kepada kami Anas, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya seorang hamba itu apabila diletakkan di dalam kuburnya, dan teman-temannya telah berpaling meninggalkannya, sesungguhnya dia benar-benar mendengar suara terompah mereka, lalu ia didatangi oleh dua malaikat. Kedua malaikat itu mendudukkannya dan menanyainya, “Bagaimanakah menurutmu tentang lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?” Adapun orang mukmin, ia akan menjawab, “Saya bersaksi bahwa dia adalah hamba dan utusan Allah.” Lalu dikatakan kepadanya, “Lihatlah tempat dudukmu di neraka itu, kini Allah telah menggantinya untukmu dengan tempat duduk di surga.” Nabi Saw. bersabda, “Maka dia melihat keduanya itu.” Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa sesungguhnya diluaskan baginya tempat kuburnya seluas tujuh puluh hasta, dan dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan yang hijau segar sampai hari kiamat.
Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Abd ibnu Humaid. Imam Nasai mengetengahkannya melalui hadis Yunus ibnu Muhammad Al-Mu-addib dengan sanad yang sama.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْج، أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ، أَنَّهُ سَأَلَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَتَّاني الْقَبْرِ فَقَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا أُدْخِلَ الْمُؤْمِنُ قَبَرَهُ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَ مَلَكٌ شَدِيدُ الِانْتِهَارِ، فَيَقُولُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: أَقُولُ: إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ وَعَبْدُهُ. فَيَقُولُ لَهُ الْمَلَكُ: انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ الَّذِي كَانَ لَكَ فِي النَّارِ، قَدْ أَنْجَاكَ اللَّهُ مِنْهُ، وَأَبْدَلَكَ بِمَقْعَدِكَ الَّذِي تَرَى مِنَ النَّارِ مَقْعَدَكَ الَّذِي تَرَى مِنَ الْجَنَّةِ، فَيَرَاهُمَا كِلَيْهِمَا. فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ: دَعُونِي أُبَشِّرُ أَهْلِي. فَيُقَالُ لَهُ: اسْكُنْ. وَأَمَّا الْمُنَافِقُ فَيُقْعَدُ إِذَا تَوَلَّى عَنْهُ أَهْلُهُ، فَيُقَالُ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ؟ فَيَقُولُ: لَا أَدْرِي، أَقُولُ كَمَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ لَهُ: لَا دَرَيْتَ، هَذَا مَقْعَدُكَ الَّذِي كَانَ لَكَ فِي الْجَنَّةِ، قَدْ أُبْدِلْتَ مَكَانَهُ مَقْعَدَكَ مِنَ النَّارِ”. قَالَ جَابِرٌ: فَسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ فِي الْقَبْرِ عَلَى مَا مَاتَ، الْمُؤْمِنُ عَلَى إِيمَانِهِ، وَالْمُنَافِقُ عَلَى نِفَاقِهِ”.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ibnu Juraij; telah menceritakan kepadaku AbuzZubair, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang fitnah kubur. Maka Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya umat ini akan diuji di dalam kuburnya. Apabila seorang mukmin dimasukkan ke dalam kuburnya dan teman-temannya telah berpaling meninggalkannya, datanglah kepadanya malaikat yang sangat bengis. Lalu malaikat bertanya kepadanya, “Apakah yang kamu katakan sehubungan dengan lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.)?” Seorang mukmin akan menjawab bahwa sesungguhnya dia adalah utusan dan hamba Allah. Maka malaikat berkata kepadanya, “Lihatlah tempat tinggalmu yang telah disediakan untukmu di dalam neraka, kini Allah telah menyelamatkan kamu darinya dan menggantikannya dengan tempat tinggal di surga seperti yang kamu lihat sekarang.” Dia melihat kedua-duanya. Maka orang mukmin akan berkata, “Biarkanlah aku menyampaikan berita gembira ini kepada keluargaku.” Maka dikatakan kepadanya, “Tinggallah kamu di sini!” Adapun orang munafik, maka ia didudukkan; dan apabila semua keluarganya telah pergi meninggalkannya, dikatakan kepadanya, “Bagaimanakah pendapatmu tentang lelaki ini?” Ia menjawab, “Tidak tahu, saya hanya mengatakan seperti apayang dikatakan oleh orang lain.” Dikatakan kepadanya, “Kamu tidak tahu, sekarang inilah tempat tinggalmu yang telah disediakan di surga untukmu, kini telah diganti dengan tempat tinggal di dalam neraka buatmu.” Jabir mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Setiap hamba di dalam kuburnya dibangkitkan sesuai dengan iman yang dibawanya mati. Orang mukmin berada dalam keimanannya, dan orang munafik berada dalam kemunafikannya.