Hud, ayat 44

مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ الزَّمْعِيِّ، عَنْ قَائِدٍ -مَوْلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ -أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ الصَّبِيِّ”، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “كَانَ نُوحٌ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، مَكَثَ فِي قَوْمِهِ أَلْفَ سَنَةٍ [إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا] ، يَعْنِي وَغَرَسَ مِائَةَ سَنَةٍ الشَّجَرَ، فَعَظُمَتْ وَذَهَبَتْ كُلَّ مَذْهَبٍ، ثُمَّ قَطَعَهَا، ثُمَّ جَعَلَهَا سَفِينَةً وَيَمُرُّونَ عَلَيْهِ وَيَسْخَرُونَ مِنْهُ وَيَقُولُونَ: تَعْمَلُ سَفِينَةً فِي البَرّ، فَكَيْفَ تَجْرِي؟ قَالَ: سَوْفَ تَعْلَمُونَ. فَلَمَّا فَرَغَ ونَبَع الْمَاءُ، وَصَارَ فِي السِّكَكِ خشِيت أُمُّ الصَّبِيِّ عَلَيْهِ، وَكَانَتْ تُحِبُّهُ حُبًّا شَدِيدًا، فَخَرَجَتْ إِلَى الْجَبَلِ، حَتَّى بَلَغَتْ ثُلُثَهُ فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ [ارْتَفَعَتْ حَتَّى بَلَغَتْ ثُلُثَيْهِ، فَلَمَّا بَلَغَهَا الْمَاءُ] خَرَجَتْ بِهِ حَتَّى اسْتَوَتْ عَلَى الْجَبَلِ، فَلَمَّا بَلَغَ رَقَبَتَهَا رَفَعَتْهُ بِيَدَيْهَا فَغَرِقَا فَلَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْهُمْ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ الصَّبِيِّ”

melalui hadis Ya’qub ibnu Musa Az-Zam’i, dari Qaid pelayan Ubaidillah ibnu Abu Rafi’, bahwa Ibrahim ibnu Abdur Rahman ibnu Abu Rabi’ah pernah bercerita kepadanya bahwa Siti Aisyah r.a. telah menceritakan kepadanya bahwa Nabi Saw. pernah bersabda: Seandainya Allah merahmati seseorang dari kalangan kaum Nuh, niscaya Dia membelaskasihani ibu bayi itu. Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya: Nuh a.s. tinggal di kalangan kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ia menanam pohon selama seratus tahun, dan pohon-pohon yang ditanamnya itu menjadi besar dan menjulang tinggi sekali. Lalu Nuh menebangnya dan menjadikannya perahu. Mereka (kaumnya) melewatinya dan mengejeknya seraya berkata, “Kamu buat perahu di daratan, bagaimana dapat berlayar?” Nuh menjawab, “Kelak kalian akan mengetahui.” Setelah Nuh selesai dari pembuatan perahunya, maka memancarlah air sehingga membanjiri jalan-jalan dan kawasan kota. Maka ibu si bayi itu takut akan keselamatan anaknya yang sangat dicintainya. Lalu ia keluar menaiki sebuah gunung hingga mencapai ketinggian sepertiganya. Ketika air mencapainya, maka ia naik lagi ke atas gunung itu hingga mencapai dua pertiga ketinggiannya. Dan ketika air bah mencapainya, maka ia naik ke atas puncak gunung itu. Dan ketika air mencapai lehernya, maka ia mengangkat bayinya dengan kedua tangannya, tetapi akhirnya keduanya tenggelam. Seandainya Allah mengasihani seseorang dari mereka, niscaya Dia mengasihani ibu si bayi itu.

Hadis ini garib bila ditinjau dari jalur ini. Kisah bayi dan ibunya ini telah diriwayatkan dari Ka’b Al-Ahbar, Mujahid ibnu Jubair dengan alur kisah yang semisal

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.