Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{سُبْحَانَ رَبِّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ}
Mahasuci Tuhan yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya ‘Arasy dari apa yang mereka sifatkan. (Az-Zukhruf: 82)
Yakni Mahasuci, Mahatinggi, lagi Mahabersih Allah Pencipta segala sesuatu dari sifat beranak. Karena sesungguhnya Dia Maha Esa, bergantung kepada-Nya segala sesuatu, tiada tandingan dan tiada saingan bagi-Nya, maka tiada anak bagi-Nya.
*************
Firman Allah Swt.:
{فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا}
Maka biarlah mereka tenggelam. (Az-Zukhruf: 83)
Yaitu dalam kebodohan dan kesesatan mereka.
{وَيَلْعَبُوا}
dan bermain-main. (Az-Zukhruf: 83)
dalam dunia mereka.
{حَتَّى يُلاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ}
sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. (Az-Zukhruf: 83)
Yaitu hari kiamat, kelak mereka akan mengetahui ke manakah tempat kembali mereka dan nasib yang akan mereka alami pada hari itu.
***********
Firman Allah Swt.:.
{وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الأرْضِ إِلَهٌ}
Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi. (Az-Zukhruf: 84)
Dia adalah Tuhan yang disembah oleh makhluk di langit, dan Tuhan yang disembah oleh makhluk yang di bumi, semuanya tunduk dan merendahkan diri di hadapan-Nya.
{وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ}
dan Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. (Az-Zukhruf: 84)
Ayat ini semakna dengan firman Allah Swt.:
{وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَوَاتِ وَفِي الأرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ}
Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan. (Al-An’am: 3)
Yakni Dialah Tuhan yang disembah di langit dan di bumi.
************
{وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا}
Dan Mahasuci Tuhan Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan apa saja yang ada di antara keduanya. (Az-Zukhruf: 85)
Dialah Yang menciptakan, yang memiliki dan Yang mengatur keduanya tanpa ada yang menyaingi dan menentangnya. Maka Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari beranak. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa sudah merupakan suatu ketetapan bagi-Nya bersih dari semua cela dan sifat kekurangan, karena Dia adalah Tuhan Yang Mahatinggi, Mahabesar, Yang memiliki segala sesuatu, Yang di tangan kekuasaan-Nyalah kendali semua urusan dipegang, terlaksana atau tidaknya.
{وَعِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ}
dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 85)
Yakni tiada yang mengetahui waktunya kecuali hanya Dia.
{وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}
dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Az-Zukhruf: 85)
Maka Dia akan memberikan pembalasan kepada setiap orang sesuai., dengan amal perbuatannya. Jika amalnya baik, maka balasannya baik; dan jika amalnya buruk, maka balasannya buruk pula. Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
{وَلا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ} أَيْ: مِنَ الْأَصْنَامِ وَالْأَوْثَانِ {الشَّفَاعَةَ}
Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat. (Az-Zukhruf: 86)
Artinya, berhala-berhala dan sekutu-sekutu itu tidak mampu memberikan syafaat kepada mereka yang menyembahnya,
{إِلا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ}
tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). (Az-Zukhruf: 86)
Istisna atau pengecualian dalam ayat ini bersifat munqati’ yang artinya ‘tetapi orang yang meyakini perkara yang hak dengan penuh kesadaran dan pengetahuan, maka syafaat yang diberikannya itu dapat memberi manfaat dengan seizin dari Allah Swt.’.
Kemudian disebutkan dalam firman berikutnya:
{وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ}
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Az-Zukhruf: 87)
Yakni seandainya kamu tanyakan kepada mereka yang mempersekutukan Allah, yang menyembah selain-Nya di samping Dia.
{مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ}
Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ (Az-Zukhruf: 87)
Mereka mengakui bahwa Dialah Allah Yang menciptakan segala sesuatu keseluruhannya, hanya Dia semata tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ini. Tetapi sekalipun dengan pengakuan ini, mereka masih tetap menyembah selain-Nya di samping Dia, yaitu menyembah makhluk yang tidak memiliki sesuatu pun dan tidak mampu berbuat sesuatu pun. Dengan demikian, berarti mereka dengan perbuatannya itu adalah orang-orang yang sangat bodoh, pandir dan sangat lemah akalnya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
{فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ}
maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? (Az-Zukhruf: 87)
***********
Adapun firman Allah Swt.:
{وَقِيلِهِ يَا رَبِّ إِنَّ هَؤُلاءِ قَوْمٌ لَا يُؤْمِنُونَ}
dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” (Az-Zukhruf: 88)
Yakni Nabi Muhammad Saw. mengadu kepada Tuhannya tentang perbuatan kaumnya yang mendustakannya. Untuk itu dia mengatakan: Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman. (Az-Zukhruf: 88)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman’-Nya:
{وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا}
Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan.” (Al-Furqan: 30)
Apa yang telah kami kemukakan merupakan pendapat Ibnu Mas’ud r.a. Mujahid, serta Qatadah, dan berdasarkan pendapat inilah Ibnu Jarir menafsirkannya.
Imam Bukhari mengatakan bahwa Abdullah (yakni Ibnu Mas’ud r.a.) membaca ayat ini dengan bacaan:
“وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ”
waqalar rasulu, ya Rabbi (dan rasul berkata, “Ya Tuhanku”).
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad, “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman.” Bahwa Allah mendengar ucapan Muhammad Saw. itu.
Qatadah mengatakan bahwa dia adalah nabi kalian yang mengadu kepada Tuhannya tentang kaumnya yang tidak mau beriman.
Kemudian Ibnu Jarir meriwayatkan sehubungan dengan firman-Nya: dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad, “Ya Tuhanku (Az-Zukhruf: 88) Bahwa ada dua qiraat mengenainya; salah satunya membacanya dengan bacaan nasab, yakni waqilahu. Bacaan ini mempunyai dua alasan yang salah satunya ialah di- ataf-kan kepada firman Allah Swt.: bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka. (Az-Zukhruf: 80)
Alasan kedua ialah diperkirakan adanya fi’il (kata kerja) yang ada sebelumnya. Bentuk lengkapnya ialah Waqala qilahu (dan Muhammad mengucapkan pengaduannya). Bacaan yang kedua ialah membacanya dengan kasrah, yakni qilihi, yang menurut suatu pendapat karena di-ataf-kan kepada firman-Nya: dan di sisi-Nyalah pengetahuan tentang hari kiamat. (Az-Zukhruf: 85)
Bentuk lengkapnya ialah ‘dan pengetahuan tentang ucapannya.’
*********
Firman Allah Swt.:
{فَاصْفَحْ عَنْهُمْ}
Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka. (Az-Zukhruf: 89)
Maksudnya, dari orang-orang musyrik itu.
{وَقُلْ سَلامٌ}
dan katakanlah, “Salam (selamat tinggal).” (Az-Zukhruf: 89)
Yakni janganlah engkau menjawab perkataan mereka yang ditujukan kepadamu, berupa ucapan yang buruk. Tetapi bujuklah mereka dan maafkanlah mereka melalui sikap dan ucapan.