Abdur Rahman An-Nasai telah meriwayatkan hadis ini di dalam kitab tafsir, bagian dari kitab Sunanul Kabir-nya tentang Firman Allah Swt.: dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Asy-Syu’ara’: 87)
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، حدَّثني أَبِي، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَان، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ المقبرِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “إِنَّ إِبْرَاهِيمَ رَأَى أَبَاهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ الغَبَرة والقَتَرة، وَقَالَ لَهُ: قَدْ نَهَيْتُكَ عَنْ هَذَا فَعَصَيْتَنِي. قَالَ: لَكِنِّي الْيَوْمَ لَا أَعْصِيكَ وَاحِدَةً. قَالَ: يَا رَبِّ، وَعَدْتَنِي أَنْ لَا تُخْزِينِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ، فَإِنْ أَخْزَيْتَ أَبَاهُ فَقَدْ أَخْزَيْتَ الْأَبْعَدَ. قَالَ: يَا إِبْرَاهِيمُ، إِنِّي حَرَّمْتُهَا عَلَى الْكَافِرِينَ. فَأُخِذَ مِنْهُ، قَالَ: يَا إِبْرَاهِيمُ، أَيْنَ أَبُوكَ؟ قَالَ: أَنْتَ أَخَذْتَهُ مِنِّي. قَالَ: انْظُرْ أَسْفَلَ مِنْكَ. فَنَظَرَ فَإِذَا ذِيخٌ يَتَمَرَّغُ فِي نَتَنِهِ، فَأُخِذَ بقوائمه فألقي في النار
Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Hafs ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Tahman, dari Muhammad ibnu Abdur Rahman, dari Sa’id ibnu Abu Sa’id Al-Maqbari, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Ibrahim melihat ayahnya di hari kiamat dalam keadaan penuh dengan debu dan berwarna hitam, lalu Ibrahim berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku telah melarangmu melakukan perbuatan (yang berakibat seperti) ini, tetapi engkau durhaka kepadaku.”Ayahnya menjawab, “Tetapi hari ini aku tidak akan durhaka lagi kepadamu barang sekali pun.” Ibrahim berdoa, “Wahai Tuhanku, Engkau telah menjanjikan kepadaku bahwa Engkau tidak akan menghinakanku di hari mereka dibangkitkan. Karena sesungguhnya barang siapa yang Engkau hinakan orang tuanya, maka sesungguhnya dia telah mendapat kehinaan yang sangat.” Allah berfirman, “Hai Ibrahim, sesungguhnya Aku mengharamkan surga atas orang-orang kafir.” Lalu bapak Ibrahim diambil darinya, dan Allah bertanya, “Hai Ibrahim, di manakah bapakmu?” Ibrahim menjawab, “Engkau telah mengambilnya dariku.” Allah berfirman, “Lihatlah ke arah bawahmu!” Maka Ibrahim memandang ke arah bawahnya. Tiba-tiba ia melihat hewan dubuk yang berbau busuk karena kotoran yang melumuri tubuhnya, lalu hewan itu diseret kakinya dan dicampakkan ke dalam neraka.
Sanad hadis ini garib, di dalamnya terdapat Nakarah. Az-Zaih artinya hewan dubuk (hyena) jantan, seakan-akan ayah Ibrahim (yaitu Azar) pada hari kiamat diubah bentuknya menjadi seekor hewan dubuk yang berlumuran dengan kotorannya, lalu dicampakkan ke dalam neraka.
Hadis yang sama telah diriwayatkan oleh Al-Bazzar berikut sanadnya melalui hadis Hammad ibnu Salamah, dari Ayub, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw., hanya di dalamnya masih terdapat hal yang garib. Al-Bazzar telah meriwayatkannya pula melalui hadis Qatadah, dari Ja’far ibnu Abdul Gafir, dari Abu Sa’id, dari Nabi Saw. dengan lafaz yang semisal.
****
Firman Allah Swt.:
{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ}
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. (Asy-Syu’ara’: 88)
Yakni tiada yang dapat melindungi seseorang dari azab Allah harta bendanya, sekalipun ia memiliki emas sepenuh bumi. Tidak dapat pula menebusnya dari azab Allah, sekalipun dengan seluruh manusia yang ada di bumi. Tiada yang bermanfaat pada hari itu kecuali iman kepada Allah dan mengikhlaskan diri hanya kepada-Nya dalam beragama serta berlepas diri dari kemusyrikan dan para penganutnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:
{إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ}
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’ara’: 89)
Yaitu bersih dari keyakinan yang kotor dan kemusyrikan. Ibnu Sirin mengatakan bahwa hati yang bersih itu ialah bila pemiliknya mengetahui bahwa Allah adalah hak, dan hari kiamat pasti terjadi tiada keraguan padanya, dan bahwa Allah akan membangkitkan semua makhluk dari kuburnya.
Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (Asy-Syu’ara’: 89) Hati yang bersih ialah yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.
Mujahid dan Al-Hasan serta lain-lainnya mengatakan, hati yang bersih maksudnya bersih dari kemusyrikan.
Sa’id ibnul Musayyab mengatakan bahwa hati yang bersih ialah hati yang sehat, yaitu hatinya orang mukmin, karena hati orang kafirdan orang munafik sakit. Allah Swt. telah bertiman:
{فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ}
Dalam hati mereka ada penyakit. (Al-Baqarah: 10)
Abu Usman An-Naisaburi mengatakan bahwa hati yang bersih ialah yang bersih dari bid’ah dan mantap serta tenang dengan sunnah