Yaitu Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari mempunyai anak dan dari apa yang digambarkan oleh orang-orang zalim lagi pengingkar itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.
Firman Allah Swt.:
{إِلا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ}
Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (Ash-Shaffat: 160)
Istisna atau pengecualian di sini bersifat munqati, dan ia berasal dari kalam yang musbat, terkecuali damir yang terdapat di dalam firman-Nya:
{عَمَّا يَصِفُونَ}
Dari apa yang mereka sifatkan (Ash-Shaffat: 159)
kembali kepada semua manusia. Kemudian Allah mengecualikan dari mereka hamba-hamba Allah yang dibersihkan dari dosa-dosanya; mereka adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran yang diturunkan kepada semua nabi yang diangkat menjadi rasul.
Ibnu Jarir menganggap istis’na ini dari firman Allah Swt.: bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). (Ash-Shaffat: 158) Selanjutnya dikecualikanlah dari mereka: Kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (Ash-Shaffat: 160)
Akan tetapi, pendapat yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini masih diragukan kebenarannya; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui