Ar-Ra’d, ayat 12-13

Sehubungan dengan peristiwa itu Lubaid ibnu Rabi’ah (saudara lelaki Arbad) mengatakan dalam bait syairnya yang mengungkapkan rasa belasungkawanya, “Aku merasa khawatir maut akan merenggut Arbad, tetapi aku tidak merasa takut akan keselamatannya terhadap hujan-Mu dan singa. Tetapi sangat mengejutkan aku halilintar dan guruh yang menggelegar menyambar seorang pendekar di hari yang sangat kubenci di Najd.”

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mas’adah ibnu Sa’id Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Imran, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman dan Abdullah (keduanya anak Zaid ibnu Aslam), dari ayahnya, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas, bahwa Arbad ibnu Qais ibnu Hazz ibnu Jalid ibnu Ja’far ibnu Kilab dan ‘Amir ibnut Tufail ibnu Malik tiba di Madinah untuk menjumpai Rasulullah Saw. Lalu keduanya menjumpainya, saat itu Rasulullah Saw. sedang duduk; maka keduanya duduk di hadapan Rasulullah Saw. Amir ibnut Tufail berkata, “Hai Muhammad, apakah yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?” Rasulullah Saw. bersabda, “Engkau akan memperoleh hak seperti kaum muslim lainnya dan mempunyai kewajiban yang sama dengan mereka.” Amir ibnut Tufail berkata lagi “Apabila aku masuk Islam, maukah engkau jika aku memegang tampuk pemerintahan sesudahmu?” Rasulullah Saw. bersabda, “Hal itu bukanlah untukmu, bukan pula untuk kaummu, tetapi engkau boleh memegang tali kendali kuda (memimpin pasukan berkuda).” Amir menjawab, “Sekarang saya adalah pemimpin pasukan berkuda Najd. Berikanlah kepadaku kekuasaan atas daerah-daerah pe­dalaman, dan engkau mempunyai kekuasaan di daerah-daerah perkotaan.” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak.” Ketika keduanya telah pergi dari hadapan Rasulullah Saw., berkatalah Amir, “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku akan memenuhi kota Madinah dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki untuk memerangimu.” Rasulullah Saw. menjawabnya, “Allah pasti mencegahmu.” Setelah Arbad dan Amir keluar dari sisi Rasulullah Saw., Amir berkata, “Hai Arbad, aku akan menyibukkan Muhammad darimu dengan pembicaraan, lalu pukullah dia olehmu dengan pedang. Karena sesungguhnya orang-orang Madinah itu —bila kamu membunuh Muhammad— paling tidak tuntutan mereka adalah diat. Mereka pasti tidak mau berperang, maka kita beri mereka diat-nya.” Arbad berkata, “Akan saya lakukan.” Keduanya kembali lagi menemui Rasulullah Saw. Amir berkata, “Hai Muhammad, kemarilah bersamaku, aku akan berbicara denganmu.” Rasulullah Saw. bangkit dan pergi bersama Amir, lalu keduanya duduk di dekat pagar kebun kurma. Amir berbincang-bincang dengan Rasulullah Saw., sedangkan Arbad menghunus pedangnya. Tetapi ketika Arbad meletakkan tangannya pada gagang pedang, tiba-tiba tangannya kaku dan menempel pada gagang pedangnya sehingga ia tidak dapat mencabut pedang. Ketika Arbad dalam keadaan demikian, dalam waktu yang cukup lama dirasakan oleh Amir, tiba-tiba Rasulullah Saw. berpaling ke belakang dan melihat Arbad dalam posisinya yang demikian, maka beliau pergi meninggalkan keduanya. Akhirnya Amir dan Arbad pergi dari hadapan Rasulullah Saw., dan ketika keduanya telah sampai di Al-Harrah —yaitu Harrah Raqim— keduanya turun beristirahat. Sa’d ibnu Mu’az dan Usaid ibnu Hudair keluar (dari Madinah) mengejar keduanya. Sa’d dan Usaid berkata, “Tampakkanlah dirimu, hai dua orang lelaki musuh Allah; semoga Allah melaknatmu berdua!” Amir bertanya, “Siapakah temanmu itu, hai Sa’d?” Sa’d menjawab, “Ini adalah Usaid ibnu Hudair, panglima pasukan.” Keduanya pergi dari Madinah. Ketika sampai di Ar-Raqm, Allah mengirimkan halilintar bagi Arbad, lalu halilintar menyambarnya hingga mati. Sedangkan Amir ketika ia sampai di Al-Kharim, Allah menimpakan penyakit bisul yang membinasakannya. Pada malam harinya ia sampai di rumah seorang wanita dari kalangan Bani Salul, lalu ia mengusap bisul di tenggorokannya seraya berkata, “Bisul seperti punuk unta di rumah seorang wanita Bani Salul,” dengan harapan dia ingin mati di rumah wanita itu. Pada keesokan harinya ia mengendarai kudanya pulang ke negerinya, tetapi di tengah jalan ia sekarat dan mati. Sehubungan dengan peristiwa kedua orang itu Allah menurunkan firman-Nya: Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan. (Ar-Ra’d: 8) sampai dengan firman-Nya: dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra’d: 11)

Perawi mengatakan bahwa malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran menjaga Nabi Muhammad Saw. atas perintah Allah. Kemudian perawi menyebutkan kisah Arbad dan kematiannya, lalu membacakan firman Allah Swt.: dan Allah melepaskan halilintar. (Ar-Ra’d: 13), hingga akhir ayat.

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{وَهُمْ يُجَادِلُونَ فِي اللَّهِ}

dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah. (Ar-Ra’d: 13)

Maksudnya, mereka meragukan kebesaran Allah yang sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia.

{وَهُوَ شَدِيدُ الْمِحَالِ}

dan Dialah Tuhan Yang Mahakeras siksa-Nya. (Ar-Ra’d: 13)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa siksaan Allah yang amat keras hanya ditujukan kepada orang yang kelewat batas terhadap-Nya serta berkepanjangan dalam kekufurannya. Ayat ini maknanya serupa dengan firman Allah Swt.:

{وَمَكَرُوا مَكْرًا وَمَكَرْنَا مَكْرًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ مَكْرِهِمْ أَنَّا دَمَّرْنَاهُمْ وَقَوْمَهُمْ أَجْمَعِينَ}

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. (An-Naml: 50-51)

Dari Ali r.a., disebutkan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan Dialah Tuhan YangMahakeras siksa-Nya. (Ar-Ra’d: 13) Yakni sangat keras pembalasan-Nya.

Mujahid mengatakan bahwa Allah sangat kuat (Mahakuat)

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.