Ar-Ra’d, Ayat 8-9

Mak-hul mengatakan bahwa janin dalam perut ibunya tidak meminta, tidak bersedih, dan tidak merengek, melainkan rezekinya datang sendiri kepadanya dalam perut ibunya dari darah haidnya. Karena itulah wanita yang hamil tidak haid. Apabila bayi telah lahir, maka ia menangis, dan tangisannya itu merupakan reaksi terhadap dunianya yang baru. Apabila tali pusarnya telah dipotong, maka Allah memindahkan rezekinya kepada kedua susu ibunya agar ia tidak bersedih, tidak meminta, dan tidak merengek. Kemudian jadilah ia seorang anak balita yang dapat mengambil sesuatu dengan telapak tangannya, lalu memakannya. Tetapi apabila ia telah berusia balig dan mengatakan, “Matilah atau terbunuhlah (aku), dari manakah aku mendapat rezeki?” Maka Mak-hul menjawab, “Celakalah engkau, memang selagi kamu masih dalam kandungan ibumu Allah memberimu rezeki melalui ibumu. Tetapi bila kamu telah besar dan berakal, kamu katakan, ‘Matilah atau terbunuhlah (aku), dari mana rezekiku?’.” Kemudian Mak-hul membacakan firman-Nya: Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan. (Ar-Ra’d: 8), hingga akhir ayat

Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya. (Ar-Ra’d: 8) Yakni ada batas ajalnya.

Allah mencatat rezeki makhluk-Nya dan ajal mereka, dan Dia menjadikan hal tersebut ada batasannya yang telah ditentukan. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa salah seorang putri Nabi Saw. mengirimkan seorang pesuruh kepadanya untuk memberitahukan bahwa anak lelakinya sedang menjelang ajalnya, dan ia menginginkan Nabi Saw. datang menghadirinya. Maka Nabi Saw. mengirimkan pesuruh kepada putrinya itu untuk menyampaikan sabdanya yang mengatakan:

“إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى، فَمُرُوهَا فَلْتَصْبِرْ وَلِتَحْتَسِبْ”

Sesungguhnya Allah berhak mengambil, dan Dialah Yang memberi, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada balasan yang telah ditentukan­nya). Maka perintahkanlah kepadanya agar bersabar dan menghadapinya dengan harapan akan memperoleh pahala Allah.

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ}

Yang mengetahui semua yang gaib dan yang tampak. (Ar-Ra’d: 9)

Maksudnya, Allah mengetahui segala sesuatu yang tampak oleh hamba-hamba-Nya dan yang tidak tampak oleh mereka, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya:

{الْكَبِيرُ}

Yang Mahabesar. (Ar-Ra’d: 9)

Yakni Dia Mahabesar atas segala sesuatu.

{الْمُتَعَالِ}

lagi Mahatinggi. (Ar-Ra’d: 9)

Yaitu Mahatinggi atas segala sesuatu. Dalam ayat lain disebutkan: ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (Ath-Thalaq: 12) Dia berkuasa atas segala sesuatu. Maka tunduklah semua diri kepada­Nya, dan takluklah semua hamba kepada-Nya, baik dengan senang hati ataupun terpaksa

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.