لَا يَبْعَدَن قَوْمِي الَّذِينَ همُو … سُمّ الْعُدَاةِ وَآفَةُ الجُزرِ …
النَّازِلِينَ بِكُلِّ مُعْتَرَكٍ… والطَّيّبُونَ مَعَاقِدَ الأزْرِ …
Kaum wanita itu pasti tidak akan jauh dari kaumku,
karena mereka adalah singa peperangan,
pembantai musuh, pantang mundur dalam semua medan peperangan,
tetapi mereka orang-orang yang baik lagi mengikat erat-erat kain sarungnya
(yakni memelihara kehormatannya).
Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa lafaz al-muqimina ini di-jar-kan karena di-‘ataf-kan kepada firman-Nya:
{بِمَا أُنزلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزلَ مِنْ قَبْلِكَ}
kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan sebelummu. (An-Nisa: 162)
Yaitu mereka juga mendirikan salat. Dengan kata lain, seakan-akan dikatakan bahwa mereka mengakui kewajiban salat dan kefarduannya atas diri mereka. Atau makna yang dimaksud dengan orang-orang yang mendirikan salat ini adalah para malaikat, seperti yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Dengan kata lain, mereka beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu serta beriman kepada para malaikat. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَالْمُؤْتُونَ الزَّكَاةَ}
dan orang-orang yang menunaikan zakat. (An-Nisa: 162)
Yang dimaksud dengan zakat pada ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai zakat harta benda, dapat diinterpretasikan zakat badan (fitrah), dapat pula diinterpretasikan dengan pengertian kedua-duanya.
{وَالْمُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ}
dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. (An-Nisa: 162)
Artinya, mereka percaya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mereka beriman dengan adanya hari berbangkit sesudah mati, dan hari pembalasan semua amal perbuatan, amal yang baik, dan amal yang buruk.
{أُولَئِكَ}
Orang-orang itulah. (An-Nisa: 162)
Lafaz ayat ini merupakan khabar dari jumlah yang sebelumnya.
{سَنُؤْتِيهِمْ أَجْرًا عَظِيمًا}
yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (An-Nisa: 162)
Yakni surga