Sehubungan dengan hal ini Ibnu Ishaq telah menceritakan bahwa ketika mereka membongkar Ka’bah untuk memperbaharui bangunannya, mereka menjumpai sebuah batu pada batu fondasinya. Pada batu itu tertulis kata-kata bijak dan nasihat-nasihat, yang antara lain mengatakan, “Apakah kalian mengerjakan keburukan, lalu dibalas dengan kebaikan? Ya, perumpamaannya sama dengan memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”
Mujahid dan Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan lidahmereka mengucapkan kedustaan, yaitu bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. (An-Nahl: 62) Yakni para pelayan.
Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: bahwa sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. (An-Nahl: 62) Yaitu kelak di hari kiamat, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya, dan inilah pendapat yang benar.
Untuk itulah Allah Swt. membantah mereka sehubungan dengan angan-angan mereka itu melalui firman-Nya:
{لَا جَرَمَ}
Tiadalah diragukan. (An-Nahl: 62)
Maksudnya, memang benar dan pasti.
{أَنَّ لَهُمُ النَّارَ}
bahwa nerakalah bagi mereka. (An-Nahl: 62)
Yakni di hari kiamat kelak.
{وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ}
dan sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya). (An-Nahl: 62)
Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Qatadah, serta yang lainnya mengatakan bahwa makna lafaz mufarratun ialah terlupakan dan tersia-sia di dalam neraka. Pengertian ini sama dengan yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{فَالْيَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوا لِقَاءَ يَوْمِهِمْ هَذَا}
Maka pada hari (kiamat) ini Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini. (Al-A’raf: 51)
Dari Qatadah, disebutkan pula sehubungan dengan makna firman-Nya, “Mufarratun” yakni mereka disegerakan masuk ke neraka, berasal dari al-fart yang artinya paling dahulu sampai.
Di antara pendapat-pendapat yang disebutkan di atas tidak ada pertentangan, karena pada hakikatnya mereka disegerakan masuk ke neraka pada hari kiamat nanti, lalu mereka terlupakan di dalam neraka, yakni tinggal di dalam neraka selama-lamanya (kekal)