Ali Imran, ayat 154-155

*******************

Kemudian Allah Swt. memberitakan perihal mereka yang munafik itu melalui firman-Nya:

{يَقُولُونَ}

Mereka berkata. (Ali Imran: 154)

Yakni dalam keadaan seperti itu.

{هَلْ لَنَا مِنَ الأمْرِ مِنْ شَيْءٍ}

“Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” (Ali Imran: 154)

Maka dijawab oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{قُلْ إِنَّ الأمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ مَا لَا يُبْدُونَ لَكَ}

Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan (kekuasaan) Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Ali Imran: 154)

Kemudian apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka itu dibeberkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya:

{يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الأمْرِ شَيْءٌ مَا قُتِلْنَا هَاهُنَا}

Mereka berkata, “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” (Ali Imran: 154)

Maksudnya, mereka menyembunyikan ucapan ini dari pengetahuan Rasulullah Saw.

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Yahya Ibnu Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari ayahnya, dari Abdullah ibnuz Zubair yang menceritakan bahwa Az-Zubair pernah menceritakan hadis berikut: Ketika aku sedang bersama Rasulullah Saw., yaitu di saat rasa takut sangat mencekam kami, maka Allah mengirimkan kantuk yang meliputi diri kami. Maka tidak ada seorang lelaki pun dari kami melainkan dagunya menempel pada dadanya (karena tertidur). Az-Zubair melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, aku benar-benar mendengar suara Mu’tib ibnu Qusyair yang suaranya kudengar seperti hanya dalam mimpi. ia mengatakan: ‘Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Kata-kata itu selalu kuingat.” Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Mereka berkata, ‘”Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” (Ali Imran: 154) karena perkataan Mu’tib itu. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

*******************

Firman Allah Swt.:

قُلْ لَوْ كُنْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلى مَضاجِعِهِمْ

Katakanlah, “Sekiranya kalian berada di rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (Ali Imran: 154)

Yakni hal ini merupakan takdir yang ditentukan oleh Allah Swt. Dan merupakan keputusan-Nya yang tidak dapat dielakkan lagi darinya dan tidak ada jalan selamat baginya.

Firman Allah Swt.:

وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ

Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dada kalian dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kalian. (Ali Imran: 154)

Yaitu menguji kalian melalui apa yang terjadi pada diri kalian agar dapat dibedakan antara yang buruk dan yang baik, dan akan tampak nyata perbedaan antara orang mukmin dan orang munafik di mata orang-orang, baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

{وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ}

Allah mengetahui isi hati. (Ali Imran: 154)

Yakni mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati berupa rahasia dan hal-hal yang terpendam padanya.

*******************

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا}

Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu, tiada lain mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat. (Ali Imran: 155)

Yaitu karena sebagian dosa-dosa yang mereka perbuat di masa silam. Perihalnya sama seperti apa yang dikatakan oleh seorang ulama Salaf, bahwa sesungguhnya termasuk pahala kebaikan ialah kebaikan sesudahnya, dan sesungguhnya termasuk balasan keburukan ialah keburukan sesudahnya.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ}

dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka. (Ali Imran: 155)

Maksudnya, memaafkan perbuatan yang pernah mereka lakukan, yaitu lari dari medan perang.

{إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ}

Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (Ali Imran: 155)

Yakni Yang mengampuni dosa, Yang sabar terhadap makhluk-Nya, dan Yang memaafkan kesalahan mereka.

Dalam hadis sahabat Ibnu Umar disebutkan perihal sahabat Usman, yakni tentang perbuatan melarikan diri dari medan Uhud, bahwa Allah telah memaafkannya bersama orang-orang yang diberi maaf oleh-Nya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya: dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. (Ali Imran: 152)

Dalam pembahasan ini sangat sesuai bila disebutkan apa yang telah dikatakan oleh Imam Ahmad,

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرو، حَدَّثَنَا زَائِدَةُ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ شَقِيقٍ، قَالَ: لَقِيَ عبدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ الْوَلِيدَ بْنَ عُقْبَةَ فَقَالَ لَهُ الْوَلِيدُ: مَا لِي أَرَاكَ جفوتَ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ عثمانَ؟ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ: أَبْلِغْهُ أَنِّي لَمْ أَفِرَّ يَوْمَ عَيْنَيْن -قَالَ عَاصِمٌ: يَقُولُ يَوْمَ أُحُدٍ-وَلَمْ أَتَخَلَّفْ عَنْ بَدْرٍ، وَلَمْ أَتْرُكْ سُنة عُمَرَ. قَالَ: فَانْطَلَقَ فَخَبر ذَلِكَ عُثْمَانَ، قَالَ: فَقَالَ: أَمَّا قَوْلُهُ: إِنِّي لَمْ أَفِرَّ يَوْمَ عَيْنَيْن َكَيْفَ يعَيرني بذَنْب قَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: {إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ} وَأَمَّا قولُهُ: إِنِّي تَخَلَّفْتُ يَوْمَ بَدْرٍ فَإِنِّي كُنْتُ أُمَرِّضُ رقَيَّة بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى مَاتَتْ، وَقَدْ ضَرَبَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَهْمٍ، وَمَنْ ضَرَبَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَهْمٍ فَقَدْ شهِد. وَأَمَّا قَوْلُهُ: “إِنِّي لَمْ أَتْرُكْ سنَّة عُمَرَ” فَإِنِّي لَا أُطِيقُهَا وَلَا هُوَ، فَأْتِهِ فَحَدِّثْهُ بذلك

telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Zaidah, dari Asim, dari Syaqiq yang mengatakan bahwa sahabat Abdur Rahman ibnu Auf bersua dengan Al-Walid ibnu Uqbah. Maka Al-Walid bertanya kepadanya, “Mengapa aku melihatmu selalu menjauh dari Amirul Mukminin Usman?” Abdur Rahman menjawabnya, “Sampaikanlah kepadanya bahwa aku tidak lari dalam Perang Hunain —Asim mengatakan, yang dimaksud oleh Abdur Rahman ialah Perang Uhud—Aku tidak absen dalam Perang Badar, aku tidak meninggalkan sunnah Umar.” Lalu Al-Walid berangkat dan menyampaikan hal tersebut kepada Usman. Maka Usman menjawab, “Mengenai ucapannya yang mengatakan bahwa ia tidak lari dalam Perang Hunain, mengapa dia begitu tega mencela diriku dengan kata-kata tersebut, padahal Allah telah memaafkan kejadikan itu melalui firman-Nya: ‘Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kalian pada hari bertemu dua pasukan itu, tiada lain mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau) dan sesungguhnya Allah telah memberi maaf kepada mereka’ (Ali Imran: 155). Ucapannya yang mengatakan bahwa aku tidak ikut dalam Perang Badar, sesungguhnya aku saat itu sedang merawat Ruqayyah binti Rasulullah Saw. hingga wafat, dan Rasulullah Saw. telah memberikan suatu bagian untukku; dan barang siapa yang telah dibuatkan untuknya satu bagian oleh Rasulullah Saw., berarti dia dianggap ikut dalam perang tersebut. Ucapannya yang mengatakan bahwa aku meninggalkan sunnah Umar, sesungguhnya aku tidak mampu mengerjakannya, begitu pula dirinya. Kembalilah kamu kepadanya dan ceritakanlah hal ini kepadanya!

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.