Al-Waqi’ah, ayat 88-96

Kesahihan hal ini dibuktikan pula dengan hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Imam Muhammad ibnu Idris Asy-Syafii, dari Imam Malik ibnu Anas, dari Az-Zuhri, dari Abdur Rahman ibnu Ka’b ibnu Malik, dari ayahnya, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:

“إِنَّمَا نَسَمة الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ فِي شَجِرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ يَبْعَثُهُ”

Sesungguhnya jiwa orang mukmin itu berupa burung yang bergantung di pepohonan surga hingga Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.

Sanad hadis ini hebat dan matannya dapat dipertanggungjawabkan.

Di dalam hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

“إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طَيْرٍ خُضْرٍ تَسْرَحُ فِي الْجَنَّةِ (4) حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مُعَلَّقَةٍ بِالْعَرْشِ”

Sesungguhnya arwah para syuhada itu berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di taman-taman surga sekehendak hatinya, kemudian hinggap di lentera-lentera yang bergantungan di Arasy.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ قَالَ: كَانَ أَوَّلُ يَوْمٍ عَرَفْتُ فِيهِ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى: رَأَيْتُ شَيْخًا أَبْيَضَ الرَّأْسِ وَاللِّحْيَةِ عَلَى حِمَارٍ، وَهُوَ يَتْبَعُ جِنَازَةً، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: حَدَّثَنِي فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ”. قَالَ: فَأَكَبَّ الْقَوْمُ يَبْكُونَ فَقَالَ: “مَا يُبكيكم؟ ” فَقَالُوا: إِنَّا نَكْرَهُ الْمَوْتَ. قَالَ: “لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّهُ إِذَا حُضِر {فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ. فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ} ، فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَاللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، لِلِقَائِهِ أَحَبُّ {وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ. فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ [وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ] } فَإِذَا بُشِّر بِذَلِكَ كَرِهَ لِقَاءَ الله، والله للقاءه أَكْرَهُ.

Imam Ahmad mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ata ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa pada hari pertama mula-mula ia mengenal Abdur Rahman ibnu Abu Laila, ia melihatnya sebagai seorang syekh yang telah beruban rambut dan jenggotnya, sedang mengendarai keledai mengiringi jenazah. Lalu ia mendengarnya mengata­kan bahwa Fulan bin Fulan yang telah mendengar dari Rasulullah Saw. telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Barang siapa yang mencintai (hari) perjumpaannya dengan Allah, maka Allah suka berjumpa dengannya; dan barang siapa yang benci akan perjumpaannya dengan Allah, maka Allah benci pula berjumpa dengannya. Maka kaum yang ada menangis, lalu Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa kalian menangis?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami benci mati.” Rasulullah Saw. bersabda, bahwa bukan itu yang dimaksud, tetapi apabila menjelang ajalnya. adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan. (Al-Waqi’ah: 88-89) Apabila ia mendapat berita gembira tersebut, maka timbullah rasa cintanya untuk bersua dengan Allah, sedangkan Allah Swt. lebih suka darinya untuk bersua dengannya. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 92-94) Apabila dia telah mendapat berita tersebut, maka dia benci untuk bersua dengan Allah, dan Allah lebih benci untuk bersua dengannya.

Hal yang semakna telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Di dalam kitab sahih disebutkan dari Aisyah r.a. hadis yang menguatkan maknanya.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ}

Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan. (Al-Waqi’ah: 90)

Yakni apabila orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk golongan kanan,

{فَسَلامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ}

maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. (Al-Waqi’ah:91)

Yaitu para malaikat menyampaikan berita gembira ini kepada mereka. Berkata malaikat kepada salah seorang dari mereka, “Salaimun laka” artinya kamu dalam keadaan baik-baik saja dan selamat, kamu termasuk golongan kanan.

Qatadah dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah para malaikat mengucapkan kepadanya, “Selamatlah kamu dari azab Allah,” dan para malaikat mengucapkan salam penghormatan kepadanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah, bahwa para malaikat mengucapkan salam kepadanya dan memberitahukan kepadanya bahwa dia termasuk golongan kanan.

Pendapat ini merupakan pendapat yang baik, dan pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ}

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah, ” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu mem­peroleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Fushshilat: 30-32)

Imam Bukhari telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: maka keselamatan bagimu. (Al-Waqi’ah: 91) Yakni kamu diselamatkan karena kamu termasuk golongan kanan, kemudian dalam bahasa Arabnya dipersingkat ungkapannya yaitu dengan membuang huruf an, tetapi maknanya masih tetap. Sebagaimana kamu katakan, “Kamu benar akan melakukan perjalanan sebentar lagi,” bilamana sebelumnya ia mengatakan, “Sesungguhnya aku akan bepergian sebentar lagi.” Dan adakalanya ungkapan, “Salamun laka” ini mengandung doa, sebagaimana ucapanmu, uSuqyan laka minar rijali,” semoga kamu mendapat pengairan karena kamu termasuk laki-laki; ini jika lafaz salamun dibaca rafa’, maka termasuk doa.

Demikianlah apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari sebagian ulama bahasa yang kemudian dipilih oleh Ibnu Jarir; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ. فَنزلٌ مِنْ حَمِيمٍ وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ}

Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 92-94)

Maksudnya, jika orang yang sedang menjelang kematiannya itu termasuk orang yang mendustakan kebenaran lagi sesat dari jalan petunjuk.

{فَنزلٌ}

maka dia mendapat hidangan. (Al-Waqi’ah: 93)

Yakni sajian.

{مِنْ حَمِيمٍ}

air yang mendidih. (Al-Waqi’aht93)

Artinya, air yang mendidih yang dapat menghancurkan semua isi perut dan kulitnya.

{وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ}

dan dibakar di dalam neraka. (Al-Waqi’ah: 94)

Ini mengukuhkan keberadaannya di dalam neraka yang mengepungnya dari segala penjuru.

Kemudian Allah Swt. berfirman:

{إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ}

Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. (Al-Waqi’ah: 95)

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.