Al-Waqi’ah, ayat 27-40

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ: أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ دَرَّاج، عَنِ ابْنِ حُجَيرة، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَهُ: أَنَطأ فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: “نَعَمْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ دَحْمًا دَحْمًا، فَإِذَا قَامَ عَنْهَا رَجَعتْ مُطهَّرة بِكْرًا”

Abdullah ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris. dari Darij, dari Abu Hujairah, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw., bahwa Abu Hurairah pernah bertanya, “Apakah kita bersetubuh di dalam surga?” Maka Rasulullah Saw. menjawab: Ya, demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, dengan dorongan yang kuat dan kuat sekali, manakala ia berdiri darinya (lalu mengulanginya), ia menjumpainya dalam keadaan perawan kembali seperti semula.

قَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ جَابِرٍ الْفَقِيهُ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الدَّقِيقُ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْوَاسِطِيُّ، حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ إِذَا جَامَعُوا نِسَاءَهُمْ عُدن أَبْكَارًا”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Jabir Al-Faqih Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Malik Ad-Daqiqi Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Ma’la ibnu Abdur Rahman Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Syarik, dari Asim Al-Ahwal, dari Abul Mutawakkil, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya ahli surga itu setiap kali menyetubuhi istri-istri mereka, dia menjumpainya dalam keadaan perawan.

وَقَالَ أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ: حَدَّثَنَا عِمْران، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةَ كَذَا وَكَذَا فِي النِّسَاءِ”. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَيُطِيقُ ذَلِكَ؟ قَالَ: “يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ”.

Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Imran, dari Qatadah, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Seorang mukmin di dalam surga diberi kekuatan sebanyak anu dan anu terhadap wanita.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah dia kuat melakukannya?” Rasulullah Saw. menjawab, ‘ Dia diberi kekuatan seratus kali lipat.”

Imam Turmuzi meriwayatkannya melalui hadis Abu Daud, dan ia mengatakan bahwa hadis ini sahih garib.

وَرَوَى أَبُو الْقَاسِمِ الطَّبَرَانِيُّ مِنْ حَدِيثِ حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ نَصِلُ إِلَى نِسَائِنَا فِي الْجَنَّةِ؟ قَالَ: “إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصِلُ فِي الْيَوْمِ إِلَى مِائَةِ عَذْرَاءَ”

Abul Qasim At-Tabrani telah meriwayatkan melalui hadis Husain ibnu Ali Al-Ju’fi, dari Zaidah, dari Hisyam ibnu Hassan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah Saw., “Wahai Rasulullah, apakah kita dapat menyetubuhi istri-istri kita di dalam surga?” Rasulullah Saw. menjawab: Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar setiap harinya dapat menggauli seratus orang perawan.

Al-Hafiz Abu Abdullah Al-Maqdisi mengatakan bahwa hadis ini menurut hemat saya dengan syarat disebutkan di dalam kitab sahih; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

Firman Allah Swt.:

{عُرُبًا}

penuh cinta. (Al-Waqi’ah: 37)

Sa’id ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah dicintai oleh suami-suami mereka, tidakkah engkau lihat unta yang cepat larinya, maka bidadari itu sama sepertinya (yakni disukai oleh pemiliknya).

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa al-‘urb artinya mencintai suami-suami mereka dan suami-suami mereka mencintai mereka. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdullah ibnu Sarjis. Mujahid, Ikrimah, Abul Aliyah, Yahya ibnu Abu Kasir, Atiyyah, Al-Hasan. Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

Saur ibnu Yazid telah meriwayatkan dari Ikrimah yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas pernah ditanya tentang makna firman-Nya: penuh cinta. (Al-Waqi’ah: 37) Yakni sangat mencintai suaminya.

Syu’bah telah meriwayatkan dari Sammak, dari Ikrimah, bahwa makna yang dimaksud ialah manja kepada suaminya. Al-Ahlaj ibnu Abdullah telah meriwayatkan dari Ikrimah. bahwa makna yang dimaksud ialah manja.

Saleh ibnu Hassan telah meriwayatkan dari Abdullah ibnu Buraidah sehubungan dengan makna firman-Nya: penuh cinta. (Al-Waqi’ah: 37) artinya syakilah menurut dialek penduduk Mekah dan ganjah menurut dialek penduduk Madinah. Artinya sama, yaitu manja. Menurut Tamim ibnu Hazlam, makna yang dimaksud ialah wanita yang bersikap baik kepada suaminya.

Zaid ibnu Aslam dan anaknya (yaitu Abdur Rahman) mengatakan bahwa al-‘urb artinya baik dan indah tutur katanya.

وَقَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: ذُكِرَ عَنْ سَهْلِ بْنِ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيِّ: حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلم: {عُرُبًا} قَالَ: “كَلَامُهُنَّ عَرَبِيٌّ”.

Ibnu Abu Hatim mengetengahkan dari Sahl ibnu Usman Al-Askari. bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Ali, dari Ja’far ibnu Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: ‘Urban artinya pembicaraan mereka memakai bahasa Arab.

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{أَتْرَابًا}

lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi’ah: 37)

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah usia mereka sama tiga puluh tiga tahun.

Mujahid mengatakan bahwa al-atrab artinya rata sebaya, dan menurut riwayat lain yang bersumber darinya semuanya berusia sama. Atiyyah mengatakan sepantar.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi’ah: 37) Yaitu akhlak mereka di antara sesamanya rukun dan damai, tiada permusuhan dan tidak ada rasa dengki atau iri hati di antara sesama mereka. Tidak sebagaimana halnya apa yang terjadi di antara para madu di dunia ini, yakni saling bermusuhan dan saling bersaing.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Abdullah ibnul Kahf, dari Al-Hasan dan Muhammad sehubungan dengan makna firman Allah Swt.: penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Al-Waqi’ah: 37)

Keduanya mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mereka berusia sebaya dan semuanya hidup dengan rukun dan main bersama-sama.

قَدْ رَوَى أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ، عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مَنِيعٍ، عَنْ أَبِي مُعَاوِيَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَمُجْتَمَعًا لِلْحُورِ الْعِينِ، يَرْفَعْنَ أَصْوَاتًا لَمْ تَسْمَعِ الْخَلَائِقُ بِمِثْلِهَا، يَقُلْنَ نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلَا نبِيد، وَنَحْنُ النَّاعِمَاتُ فَلَا نَبْأَسُ، وَنَحْنُ الرَّاضِيَاتُ فَلَا نَسْخَطُ، طُوبَى لِمَنْ كَانَ لَنَا وكُنَّا لَهُ”

Abu Isa At-Turmuzi telah meriwayatkan dari Ahmad ibnu Mani’, dari Abu Mu’awiyah, dari Abdur Rahman ibnu Ishaq, dari An-Nu’man ibnu Sa’d. dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya di dalam surga benar-benar terdapat tempat pertemuan bagi para bidadari yang bermatajeli, mereka bernyanyi dengan suara merdu yang oleh semua makhluk belum pernah terdengar suara semerdu suara mereka. Mereka mengatakan, “Kami wanita-wanita yang kekal dan tidak akan binasa, kami wanita-wanita yang hidup senang dan tidak akan sengsara, kami wanita-wanita yang hidup puas dan tidak akan marah, maka beruntunglah bagi orang yang kami adalah istrinya dan dia adalah suami kami.”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.