Al-Qashash, ayat 85-88

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (An-Nasr: 1), hingga akhir surat.

Bahwa makna ayat menunjukkan dekatnya masa kewafatan Nabi Saw. sebagai belasungkawa yang ditujukan kepadanya.

Hal ini dikemukakan oleh Ibnu Abbas di hadapan Khalifah Umar ibnul Khattab yang menyetujui pendapatnya itu, dan Umar mengatakan, “Aku tidak mengetahui selain dari apa yang kamu ketahui.” Karena itulah adakalanya Ibnu Abbas menafsirkan firman-Nya: benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (Al-Qashash: 85) dengan pengertian kematian, adakalanya pula dengan pengertian hari kiamat yang kejadiannya adalah sesudah kematian. Adakalanya pula, menafsirkannya dengan pengertian surga yang merupakan pahala dan tempat kembalinya sebagai imbalan dari tugas menunaikan risalah dan menyampaikannya kepada dua makhluk, yaitu jin dan manusia. Juga karena beliau adalah makhluk Allah yang paling sempurna dan paling fasih secara mutlak.

Firman Allah Swt.:

{قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ}

Katakanlah, “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Qashash: 85)

Yakni katakanlah kepada orang yang menentang dan mendustakanmu, hai Muhammad, dari kalangan kaummu yang musyrik dan orang-orang yang mengikuti kekafiran mereka, bahwasanya Tuhanku lebih mengetahui siapakah yang berhak mendapat petunjuk antara kalian dan aku. Dan kelak kalian akan mengetahui siapakah yang akan mendapat kesudahan yang baik, dan siapakah yang akan mendapat akibat yang terpuji dan pertolongan di dunia dan akhirat.

Kemudian Allah Swt. mengingatkan kepada Nabi-Nya akan nikmat-nikmat-Nya yang besar yang telah Dia anugerahkan kepadanya, juga kepada hamba-hamha-Nya yang dia diutus kepada mereka. Hal ini diungkapkan Allah melaui firman-Nya:

{وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ}

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu. (Al-Qashash: 86)

Maksudnya, apakah kamu mempunyai dugaan bahwa wahyu akan diturunkan kepadamu sebelum wahyu diturunkan kepadamu.

{إِلا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ}

tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu. (Al-Qashash: 86)

Yaitu sesungguhnya wahyu itu diturunkan kepadamu semata-mata dari Allah, dan dari rahmat-Nya kepadamu, juga kepada hamba-hamba-Nya dengan melaluimu. Apabila Dia telah menganugerahkan nikmat yang besar ini kepadamu,

{فَلا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ}

sebab itu jangan sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir. (Al-Qashash: 86)

tetapi menjauhlah dari mereka, dan tentanglah mereka.

{وَلا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنزلَتْ إِلَيْكَ}

Dan janganlah sekali-kali mereka dapat menghalangimu dari (menyampaikan) ayat-ayat Allah, sesudah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu. (Al-Qashash: 87)

Artinya, janganlah kamu terpengaruh oleh sikap orang-orang yang menentang dan menghambat jalanmu; janganlah kamu membelok dari jalanmu, dan janganlah engkau hiraukan mereka, karena sesungguhnya Allah pasti akan meninggikan kalimahmu, akan mendukung agamamu, serta akan memenangkan agamamu di atas semua agama yang lain. Karena itulah disebutkan oleh firman selanjutnya:

{وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ}

dan serulah (mereka) kepada (jalan) Tuhanmu. (Al-Qashash: 87)

Yakni menyembah Tuhanmu semata, tiada sekutu bagi-Nya.

{وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ}

dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Al-Qashash: 87)

Adapun firman Allah Swt.:

{وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ}

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apa pun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. (Al-Qashash: 88)

Penyembahan tidak layak dilakukan kecuali hanya kepada-Nya, dan tidak pantas menyandang sifat Tuhan kecuali hanya Dia dengan segala kebesaran-Nya.

Firman Allah Swt.:

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ}

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Al-Qashash: 88)

Ini merupakan kalimat berita yang menyatakan bahwa Allah adalah Zat Yang Kekal, Abadi, Hidup, Yang Maha Mengatur segalanya; semua makhluk mati, sedangkan Dia tidak mati. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

{كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ * وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ}

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Ar-Rahman: 26-27)

Kata wajah dalam ayat ini dimaksudkan Zat, begitu pula yang terdapat di dalam surat Al-Qashash ini, yaitu firman-Nya:

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ}

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah. (Al-Qashash: 88)

Yakni kecuali hanya Allah.

Di dalam kitab sahih disebutkan melalui jalur Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ [كَلِمَةُ] لَبِيَدٍ: أَلَا كلُّ شَيْء مَا خَلا اللهَ بَاطِلُ

Kalimat yang paling benar yang dikatakan oleh penyair adalah kata-kata Labid, yaitu: “Ingatlah, segala sesuatu selain Allah pasti binasa.”

Mujahid dan As-Sauri mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (Al-Qashash: 88) Yaitu terkecuali sesuatu yang dimaksudkan demi Dia; Imam Bukhari meriwayatkan pendapat ini di dalam kitab sahihnya seakan-akan dia menyetujuinya.

Menurut Ibnu Jarir, orang yang berpendapat demikian berpegang kepada perkataan seorang penyair yang mengatakan:

أسْتَغْفِرُ اللهَ ذنبًا لَسْتُ مُحْصِيَهُ … رَبّ العبَاد، إلَيه الوَجْهُ والعَمَلُ …

Aku memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang aku tidak dapat menghitungnya; Dia adalah Tuhan semua hamba, hanya kepada-Nyalah dihadapkan (ditujukan) wajah (niat) dan amal perbuatan.

Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat pertama,, karena pendapat ini menyatakan bahwa semua amal perbuatan itu sia-sia, terkecuali amal perbuatan yang dikerjakan demi Zat Allah semata, yaitu amal-amal saleh yang sesuai dengan kaidah syariat.

Sedangkan kesimpulan pendapat pertama menyatakan bahwa eksistensi segala sesuatu pasti binasa kecuali hanya Zat Allah Swt. Yang Mahasuci, karena sesungguhnya Dia Yang Pertama dan Dia pula Yang Akhir, dengan pengertian ‘pertamanya Dia tidak ada awalnya, dan terakhirnya Dia tidak ada akhirnya.’ Dia ada sebelum segala sesuatu ada, dan Dia tetap ada sesudah segala sesuatu tiada.

Abu Bakar Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abud Dunia mengatakan di dalam kitab Tafakkur wai I’tibar, bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Sulaim Al-Bahili, telah menceritakan kepada kami Abul Walid yang mengatakan bahwa Ibnu Umar r.a. apabila hendak membersihkan hatinya, ia mendatangi tempat yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya, lalu berdiri di depan pintunya dan berseru dengan suara yang sedih.”Kemanakah para penghunimu?” Kemudian merenungkan dirinya dan membaca firman-Nya: Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Zat Allah. (Al-Qashash: 88)

Adapun firman Allah Swt.:

{لَهُ الْحُكْمُ}

Bagi-Nyalah segala penentuan. (Al-Qashash: 88)

Artinya, Dialah Raja dan Yang Memerintah, tiada yang mempertanyakan terhadap ketentuan yang telah diputuskan-Nya.

{وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ}

dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Al-Qashash: 88)

Yakni kelak di hari kemudian, lalu Dia akan membalas semua amal perbuatan kalian. Jika amal kalian baik, maka balasannya baik; dan jika amal perbuatan kalian buruk, maka balasannya buruk pula.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.