Al Mu’minun, ayat 84-90

Maka si anak berkata, “Sesungguhnya sekarang aku telah mendengar perihal tentang Allah.” Lalu ia melemparkan dirinya dari ketinggian bukit itu, sehingga tubuhnya hancur.

Ibnu Umar mengatakan, “Dahulu Rasulullah Saw. sering menceritakan kisah ini kepada kami.”

Abdullah ibnu Dinar mengatakan, “Dahulu Ibnu Umar sering menceritakan kisah ini kepada kami (para Tabi’in, pent.).”

Menurut saya, di dalam sanad kisah ini terdapat Ubaidillah ibnu Ja’far Al-Madini, putra Imam Ali ibnul Madini; para ahli hadis banyak yang memperbincangkan tentang predikatnya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

*******************

{قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ}

Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu.” (Al Mu’minun: 88)

Maksudnya, siapakah yang memiliki semua kerajaan ini.

{مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا}

Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. (Hud: 56)

Yakni yang menguasainya.

Rasulullah Saw. pun sering mengatakan dalam sabdanya:

“لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ”، وَكَانَ إِذَا اجْتَهَدَ فِي الْيَمِينِ قَالَ: ” لَا وَمُقَلِّبَ الْقُلُوبِ”

Tidak, demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan (Kekuasaan)-Nya. Dan apabila Nabi Saw. bersungguh-sungguh dalam sumpahnya, beliau mengucapkan: Tidak, demi (Tuhan) Yang membolak-balikkan hati.

Allah Swt. adalah Yang Maha Pencipta, Yang Maha Memiliki (Menguasai), Yang Maha Mengatur.

{وَهُوَ يُجِيرُ وَلا يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ}

sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kalian mengetahui. (Al Mu’minun: 88)

Dahulu di kalangan orang-orang Arab apabila seseorang dari pemimpin mereka memberikan suaka kepada seseorang, maka orang itu berada dalam lindungannya, tidak boleh ada seseorang yang melanggar perlin­dungannya dari kalangan kabilahnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya: sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya. (Al Mu’minun: 88) Yakni Dia adalah Tuhan Yang Mahabesar, tiada yang lebih besar daripada-Nya. Milik-Nyalah semua makhluk dan perintah, tiada yang mempertanyakan tentang keputusan-Nya yang tidak dapat dicegah dan tidak dapat ditentang. Apa yang Dia kehendaki, pasti ada; dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak ada. Allah Swt. telah berfirman:

{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ}

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya: 23)

Artinya, tiada yang dapat menanyai apa yang diperbuat-Nya karena Keagungan, Kebesaran, Keperkasaan, Kemuliaan, Hikmah, dan Keadilan-Nya, sedangkan semua makhluk akan ditanyai tentang amal perbuatan mereka. Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ}

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al-Hijr: 92-93)

*******************

Adapun firman Allah Swt.:

{سَيَقُولُونَ لِلَّهِ}

Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” (Al Mu’minun: 89)

Yakni mereka mengakui bahwa Tuhan Yang Mahabesar yang mem­berikan perlindungan dan tidak ada yang dapat dilindungi dari azab-Nya adalah Allah Swt. semata, tiada sekutu bagi-Nya.

{قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَ}

Katakanlah, “(Kalau demikian) maka dari jalan manakah kalian ditipu?” (Al Mu’minun: 89)

Maksudnya mengapa akal sehat kalian bisa hilang sehingga kalian menyembah selain-Nya bersama Dia, padahal kalian mengakui dan mengetahui bahwa hanya Allah-lah yang patut disembah. Kemudian Allah Swt. berfirman:

{بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِالْحَقِّ}

Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka. (Al Mu’minun: 90)

Yakni maklumat yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah kecuali hanya Allah. Dan Kami telah menegakkan dalil-dalil yang sahih lagi jelas dan pasti yang menunjukkan ke arah itu.

{وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ}

dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (Al Mu’minun: 90)

Yaitu dalam penyembahan mereka yang mempersekutukan Allah dengan yang lain, tiada dalil bagi mereka yang memperkuat perbuatan mereka itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam akhir surat ini melalui firman-Nya: .

{وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ}

Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (Al Mu’minun: 117)

Orang-orang musyrik melakukan hal tersebut tanpa suatu dalil pun yang mendorong mereka melakukan kebohongan dan kesesatannya. Sesungguhnya mereka melakukan hal tersebut hanyalah semata-mata mengikuti jejak nenek moyang mereka dan para pendahulu yang tidak punya pegangan lagi bodoh, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:

{إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ}

Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka. (Az-Zukhruf: 23

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.