Al-Mu’min, ayat 60

“من لَا يَسْأَلِ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ”

Barang siapa yang tidak pernah meminta kepada Allah, maka Dia murka terhadapnya.

قَالَ الْحَافِظُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرامهُرْمزي: حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَسَنِ، حَدَّثَنَا نَائِلُ بْنُ نَجِيحٍ، حَدَّثَنِي عَائِذُ بْنُ حَبِيبٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ قَالَ: لَمَّا مَاتَ مُحَمَّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ الْأَنْصَارِيُّ، وَجَدْنَا فِي ذُؤَابَةِ سَيْفِهِ كِتَابًا: “بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، سَمِعْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: “إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي بَقِيَّةِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ ، فَتَعَرَّضُوا لَهُ، لَعَلَّ دَعْوَةً أَنْ تُوَافِقَ رَحْمَةً فَيَسْعَدَ بِهَا صَاحِبُهَا سَعَادَةً لَا يَخْسَرُ بَعْدَهَا أَبَدًا”

Al-Hafiz Abu Muhammad Al-Hasan ibnu Abdur Rahman Ar-Ramhurmuzi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Na’il ibnu Najih, telah menceritakan kepadaku Aiz ibnu Habib, dari Muhammad ibnu Sa’id yang mengatakan bahwa ketika Muhammad ibnu Maslamah Al-Ansari meninggal dunia, kami menjumpai pada gantungan pedangnya sebuah tulisan: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya pada sisa hari-hari usia kalian terdapat limpahan rahmat Tuhan kalian, maka memohonlah kalian kepada-Nya, mudah-mudahan ada suatu doa yang bertepatan dengan limpahan rahmat itu yang akan membuat bahagia pelakunya dengan kebahagiaan yang dia tidak akan merugi lagi sesudahnya untuk selama-lamanya.

************

Firman Allah Swt.:

{إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي}

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku. (Al-Mu’min: 60)

Yakni dari berdoa kepada-Ku dan dari mengesakan-Ku, kelak akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina, yakni terhina lagi dikecilkan.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “يُحْشَر الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ، فِي صُوَرِ النَّاسِ، يَعْلُوهُمْ كُلُّ شَيْءٍ مِنَ الصَّغَارِ حَتَّى يَدْخُلُوا سِجْنًا فِي جَهَنَّمَ -يُقَالُ لَهُ: بُولَسُ-تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ، يُسْقَوْنَ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ: عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Ibnu Ajlan, telah menceritakan kepadaku Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Orang-orang yang sombong digiring pada hari kiamat seperti semut-semut kecil, tetapi berupa manusia; mereka diliputi oleh segala sesuatu kehinaan, hingga dimasukkan ke dalam suatu penjara di dalam neraka Jahanam yang dikenal dengan nama Bulis. Tempat itu diliputi oleh intinya api neraka; mereka diberi minuman dari Tinatul Khabal alias perasan keringat penghuni neraka.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu Yazid ibnu Khunais yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar dari Wuhaib ibnul Ward mengatakan, telah menceritakan kepadanya seorang lelaki yang mengatakan bahwa pada suatu hari ia berjalan di negeri Romawi, lalu ia mendengar ada suara tanpa rupa dari puncak bukit yang mengatakan, “Ya Tuhanku, aku merasa heran dengan orang yang mengenal-Mu, mengapa dia berharap kepada seseorang selain Engkau. Ya Tuhanku, aku merasa heran terhadap orang yang mengenal-Mu, mengapa dia meminta keperluan-keperluannya kepada seseorang selain Engkau.” Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia pergi dan selanjutnya terjadilah malapetaka yang amat besar. Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa kemudian suara itu menyerukan lagi, “Ya Tuhanku, aku heran kepada orang yang mengenal-Mu, mengapa dia melakukan sesuatu yang menyebabkan Engkau murka, sedangkan dia memuaskan selain Engkau.” Wuhaib mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan petaka yang amat besar. Lelaki itu melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia berseru terhadap suara itu, “Jin atau manusiakah engkau?” Suara itu menjawab, “Tidak, aku adalah seorang manusia, sibukkanlah dirimu dengan urusanmu dan janganlah mencampuri yang bukan urusanmu!

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.