Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa diturunkan kepada Isa putra Maryam dan kaum Hawariyyin sebuah piring besar yang berisikan roti dan ikan, mereka dapat memakannya di mana pun mereka berada apabila mereka menyukainya.
Khasif telah meriwayatkan dari Ikrimah dan Miqsam, dari Ibnu Abbas, bahwa hidangan itu berisi ikan dan beberapa potong roti.
Mujahid mengatakan bahwa hidangan itu berupa makanan yang diturunkan kepada mereka (Bani Israil) di mana pun mereka berada.
Abu Abdur Rahman As-Sulami mengatakan, hidangan itu diturunkan berupa roti dan ikan.
Atiyyah Al-Aufi mengatakan bahwa hidangan itu berupa ikan yang mengandung rasa semua jenis makanan.
Wahb ibnu Munabbih mengatakan, Allah menurunkan hidangan itu dari langit kepada kaum Bani Israil, dan diturunkan kepada mereka setiap harinya yang isinya terdiri atas buah-buahan surgawi, maka mereka dapat memakan semua jenis buah-buahan yang mereka kehendaki. Dan tersebutlah bahwa hidangan itu dimakan oleh empat ribu orang; apabila mereka telah makan, maka Allah menurunkan hidangan lagi sebagai gantinya untuk sejumlah orang yang sama bilangannya dengan mereka. Mereka tinggal dalam keadaan demikian dalam masa yang dikehendaki oleh Allah Swt.
Wahb ibnu Munabbih mengatakan bahwa diturunkan kepada mereka sepotong roti terbuat dari jewawut dan beberapa ekor ikan, kemudian Allah melipatgandakan keberkahan makanan itu. Maka sejumlah kaum datang memakannya, lalu keluar, kemudian datang sejumlah kaum lainnya, lalu memakannya dan setelah itu mereka pergi, hingga semuanya makan dan hidangan itu masih lebih.
Al-A’masy telah meriwayatkan dari Muslim, dari Sa’id ibnu Jubair, bahwa dalam hidangan itu terdapat segala jenis makanan, kecuali daging.
Sufyan As-Sauri telah meriwayatkan dari Ata ibnus Saib, dari Zazan, dari Maisarah, sedangkan Jarir meriwayatkannya dari Ata, dari Maisarah, bahwa hidangan yang diturunkan kepada kaum Bani Israil itu penuh dengan berbagai jenis makanan, kecuali daging.
Dari Ikrimah, disebutkan bahwa roti hidangan itu terbuat dari beras, menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Ali melalui surat yang ditujukan kepada kami, bahwa telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abu Uwais, telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah (yaitu Abdul Quddus ibnu Ibrahim ibnu Abu Ubaidillah ibnu Mirdas Al-Abdari maula Bani Abdud Dar), dari Ibrahim ibnu Umar, dari Wahb ibnu Munabbih, dari Abu Usman An-Nahdi, dari Salmanul Khair. Disebutkan bahwa Salman pernah menceritakan, “Ketika kaum Hawariyyin meminta hidangan kepada Isa ibnu Maryam, maka Isa ibnu Maryam sangat tidak menyukai permintaan itu. Ia berkata, ‘Terimalah dengan lapang dada apa yang direzekikan oleh Allah kepada kalian di bumi ini, dan janganlah kalian meminta hidangan dari langit. Karena sesungguhnya jika hidangan itu diturunkan kepada kalian, maka ia akan menjadi tanda mukjizat dari Tuhan kalian. Dan sesungguhnya telah binasa kaum Samud ketika mereka meminta kepada nabinya suatu tanda mukjizat, lalu mereka diuji dengan mukjizat itu, hingga pada akhirnya menjadi penyebab bagi kebinasaan mereka’.” Akan tetapi, mereka tetap bersikeras meminta hidangan itu. Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya: Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu, dan supaya tenteram hati kami.” (Al-Maidah: 113), hingga akhir ayat. Ketika Nabi Isa melihat mereka tetap bersikeras meminta agar ia berdoa untuk memohon hidangan itu bagi mereka, maka ia bangkit dan melucutkan jubah wolnya, lalu ia memakai jubah dari kain bulu yang kasar dan kain ‘aba-ah dari bulu yang kasar. Kemudian Isa melakukan wudu dan mandi, lalu masuk ke dalam tempat salatnya, dan melakukan salat selama yang dikehendaki oleh Allah. Sesudah melakukan salat, Isa berdiri seraya menghadap ke arah kiblat dan menyejajarkan kedua telapak kakinya hingga sejajar dengan menempelkan bagian belakang kedua telapak kakinya dengan yang lain dan menyejajarkan semua jemarinya. Lalu ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dadanya seraya memejamkan pandangan matanya dan menundukkan kepalanya dengan penuh rasa khusyuk. Saat itulah kedua matanya mengeluarkan air mata, dan air matanya terus mengalir pada kedua pipinya, lalu menetes melalui ujung janggutnya hingga membasahi tanah yang ada di bawah kepalanya karena khusyuknya. Dalam keadaan demikian Isa berdoa kepada Allah: Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit. (Al-Maidah: 114); Maka Allah menurunkan kepada mereka suatu hidangan pada piring besar yang berwarna merah di antara dua buah awan yang di atas dan bawahnya diapit oleh awan. Mereka memandangnya di udara, turun dari cakrawala langit menukik ke arah mereka. Sedangkan Nabi Isa dalam keadaan menangis karena takut kepada persyaratan yang telah diambil oleh Allah atas mereka mengenainya, yaitu bahwa Dia akan mengazab siapa pun di antara mereka yang mengingkari hidangan itu sesudah diturunkannya dengan siksaan yang tidak pernah Dia timpakan kepada seorang manusia pun. Nabi Isa tetap dalam keadaan berdoa di tempatnya seraya berkata, “Ya Allah, jadikanlah hidangan ini sebagai rahmat buat mereka, dan janganlah Engkau jadikan hidangan ini berakibat azab. Ya Tuhanku, sudah banyak perkara ajaib yang kumintakan kepada-Mu, lalu Engkau memberikannya kepadaku. Ya Tuhanku, jadikanlah kami orang-orang yang bersyukur kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu bila Engkau menurunkan hidangan ini sebagai pertanda murka dan azab. Ya Tuhan-Ku, jadikanlah hidangan ini sebagai keselamatan dan kesehatan, dan janganlah Engkau menjadikannya sebagai cobaan dan siksaan.” Nabi Isa terus-menerus berdoa hingga hidangan itu berada di hadapannya, sedangkan kaum Hawariyyin dan semua sahabatnya berada di sekelilingnya; mereka mencium bau yang sangat harum, sebelum itu mereka sama sekali tidak pernah mencium bebauan yang seharum itu. Isa dan kaum Hawariyyin menyungkur bersujud kepada Allah sebagai terima kasih mereka kepada-Nya, karena Allah memberi mereka rezeki dari arah yang tidak mereka duga-duga, dan Allah telah memperlihatkan kepada mereka suatu tanda yang besar lagi sangat menakjubkan dan mengandung pelajaran (akan kekuasaan Allah). Orang-orang Yahudi berdatangan melihat suatu peristiwa yang menakjubkan itu yang membuat diri mereka dipenuhi oleh rasa sedih dan susah, lalu mereka pergi dengan perasaan yang penuh dengan kemarahan. Kemudian Nabi Isa, kaum Hawariyyin, dan teman-temannya datang. Mereka langsung duduk di sekitar hidangan itu. Tiba-tiba di atas hidangan itu mereka menjumpai kain penutupnya. Maka Nabi Isa berkata, “Siapakah yang berani membuka kain penutup hidangan ini dan paling percaya kepada dirinya serta paling taat di antara kita kepada Tuhannya? Hendaklah dia membukanya dari hidangan ini, hingga kita dapat melihat isinya, lalu memuji kepada Tuhan kita dengan menyebut asma-Nya, kemudian memakan rezeki yang telah Dia berikan kepada kita ini.” Kaum Hawariyyin berkata, “Wahai Ruhullah dan kalimah-Nya, engkaulah orang yang paling utama di antara kami untuk melakukan hal tersebut, dan engkaulah orang yang paling berhak membukanya.” Maka Isa bangkit dan melakukan wudu lagi, lalu masuk ke dalam tempat salatnya dan melakukan salat beberapa kali dan menangis lama sekali. Kemudian ia berdoa kepada Allah, memohon izin untuk membuka penutup hidangan itu dan memohon agar Dia menjadikan berkah pada hidangan itu bagi dirinya dan kaumnya, dan sebagai rezeki. Setelah itu ia pergi dan duduk di dekat hidangan, lalu mengucapkan doa, “Dengan menyebut nama Allah Pemberi rezeki yang Paling Utama.” Nabi Isa membuka penutup hidangan itu, ternyata pada hidangan tersebut terdapat seekor ikan besar yang telah dipanggang tanpa ada kulitnya dan bagian dalamnya tidak ada durinya, minyak samin meleleh darinya, di sekelilingnya terdapat salad (lalap) dari berbagai macam jenis sayuran, kecuali daun bawang. Pada bagian kepalanya terdapat cuka, sedangkan pada bagian ekornya terdapat garam. Dan di sekitar salad terdapat lima buah roti yang pada salah satunya terdapat zaitun, pada yang lainnya terdapat buah kurma, sedangkan pada yang lainnya lagi terdapat lima buah delima. Pemimpin kaum Hawariyyin —yaitu Syam’un— berkata kepada Nabi Isa, “Wahai Ruhullah dan kalimah-Nya, apakah ini berasal dari makanan dunia ataukah dari makanan surga?” Isa menjawab, “Ingatlah, sekarang sudah masanya bagi kalian mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran kekuasaan Allah yang kalian lihat ini, dan hentikanlah oleh kalian semua pertanyaan. Hal yang paling kutakutkan pada diri kalian ialah bila kalian mendapat siksaan disebabkan turunnya tanda kekuasaan ini.” Syam’un berkata kepadanya, “Tidak, demi Tuhan Israil (Nabi Ya’qub), saya tidak bermaksud akan mengajukan pertanyaan tentangnya, wahai putra wanita yang siddiqah.” Isa a.s. berkata, “Apa yang kalian lihat ini bukan berasal dari makanan dunia, bukan pula makanan dari surga, melainkan makanan ini adalah sesuatu yang diciptakan oleh Allah di udara melalui kekuasaanNya Yang Mahamenang lagi Mahaperkasa; kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah ia. Kejadiannya lebih cepat daripada kejapan mata. Maka makanlah hidangan yang kalian minta ini dengan menyebut nama Allah, dan pujilah Tuhan kalian yang telah menurunkannya, niscaya Dia akan memberikan tambahannya kepada kalian, karena sesungguhnya Dia Maha Pencipta, Mahakuasa lagi Maha Membalas pahala.” Lalu mereka berkata, “Wahai Ruhullah dan kalimah-Nya, sesungguhnya kami ingin bila Allah menampakkan suatu tanda kekuasaan-Nya pada hidangan ini.” Isa a.s. menjawab, “Mahasuci Allah, tidakkah kalian cukup dengan apa yang kalian lihat dari bukti ini dan tidak usah meminta tanda bukti yang lainnya?” Kemudian Isa a.s. memandang ke arah ikan panggang tersebut, lalu berkata, “Hai ikan, kembalilah kamu dengan seizin Allah menjadi hidup kembali seperti semula.” Maka Allah menghidupkan ikan itu dengan kekuasaan-Nya, lalu ikan itu bergerak-gerak dan kembali hidup dengan izin Allah seraya membuka-buka mulutnya bagaikan harimau, matanya yang mengilat berkedip-kedip, dan semua sisiknya kembali seperti semula. Maka kaum merasa terkejut terhadap ikan itu dan menjauh darinya. Ketika Nabi Isa melihat sikap mereka yang demikian itu, ia berkata, “Mengapa kalian ini, bukankah kalian telah meminta suatu tanda kekuasaan Allah; tetapi setelah Dia memperlihatkannya kepada kalian, lalu kalian tidak menyukainya? Hal yang paling kutakutkan pada kalian ialah bila kalian disiksa karena perbuatan kalian sendiri. Hai ikan, kembalilah kamu dengan seizin Allah seperti keadaan semula.” Maka ikan —dengan izin Allah— kembali dalam keadaan telah dipanggang seperti kejadian semula. Mereka berkata, “Hai Isa, jadilah engkau wahai Ruhullah, orang yang mulai memakannya, sesudah itu baru kami.” Isa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu, bukankah yang memulai itu seharusnya orang yang memintanya?” Ketika kaum Hawariyyin dan teman-teman Nabi Isa melihat bahwa Nabi Isa tidak mau menyantap hidangan itu, maka mereka merasa takut bila turunnya hidangan ini mengakibatkan murka Allah dan azab-Nya bila memakannya. Karena itu, mereka menjauhinya. Setelah Nabi Isa melihat bahwa mereka tidak mau memakannya, maka ia mengundang semua orang miskin dan orang-orang yang sakit menahun untuk menyantap hidangan itu. Nabi Isa mengatakan kepada mereka, “Makanlah rezeki dari Tuhan kalian ini berkat doa nabi kalian, dan akhirilah dengan memuji kepada Allah.” Maka mereka melakukannya, terhitung ada seribu tiga ratus orang yang memakannya, baik laki-laki maupun wanita. Setiap orang makan hingga kenyang dan puas. Sedangkan Nabi Isa dan kaum Hawariyyin hanya memperhatikan, dan tiba-tiba hidangan itu masih dalam keadaan utuh seperti ketika baru turun dari langit, tiada sesuatu pun yang kurang darinya. Setelah itu hidangan tersebut diangkat ke langit, sedangkan mereka menyaksikannya. Setiap orang miskin merasa cukup hanya dengan sekali memakannya, dan setiap orang yang sakit menahun yang memakannya menjadi sembuh, dalam keadaan berkecukupan serta sehat wal afiat hingga akhir usianya. Sedangkan orang-orang Hawariyyin dan teman-teman Nabi Isa yang tidak mau makan hidangan itu merasa menyesal. Mereka hanya bisa memandang hidangan itu dengan air liur yang mengalir, sementara dalam hati mereka terpendam rasa penyesalan hingga akhir usia mereka. Disebutkan bahwa apabila hidangan itu turun dari langit sesudah itu, maka berdatanganlah kepadanya kaum Bani Israil seraya berlari-lari dari segala penjuru, sebagian dari mereka mendesak sebagian yang lain, orang-orang kaya, orang-orang miskin, anak-anak, orang-orang dewasa, dan orang-orang yang sehat serta orang-orang yang sakit, semuanya ikut memakannya; sebagian dari mereka mendesak sebagian yang lain hingga tumpang tindih karena berebutan. Melihat gejala tersebut, maka Nabi Isa menjadikan hidangan itu digilirkan di antara mereka, yakni sehari turun dan sehari lainnya tidak turun. Keadaan demikian tetap berlangsung pada mereka selama empat puluh hari. Hidangan itu turun selang sehari kepada mereka di saat siang hari mulai tampak meninggi. Hidangan itu tetap dalam keadaan tersedia dan terus dimakan, hingga tiba saatnya diangkat ke langit meninggalkan mereka dengan izin Allah, sedangkan mereka dapat melihat bayangannya di tanah hingga lenyap dari pandangan mereka. Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Isa a.s., “Jadikanlah rezeki-Ku yang berupa hidangan ini untuk kaum fakir miskin, anak-anak yatim, serta orang-orang yang sakit menahun saja, bukan untuk orang-orang kaya.” Ketika ketentuan tersebut diberlakukan, maka kalangan hartawan mereka mulai merasa ragu dan menyimpan rasa dendam akan adanya hukum tersebut, hingga tertanam dalam diri mereka rasa ragu dan bimbang, kemudian mereka berupaya membuat kedustaan agar orang-orang ikut ragu seperti mereka. Lalu mereka menyiarkan berita yang buruk dan kemungkaran terhadap hidangan tersebut. Saat itulah setan menemukan jalannya yang didambakan, kemudian setan menanamkan rasa waswas ke dalam hati kaum Rabbaniyyin, sehingga mereka mengatakan kepada Isa, “Ceritakanlah kepada kami tentang hidangan ini dan masalah turunnya dari langit, apakah memang benar? Karena sesungguhnya banyak orang dari kalangan kami yang meragukannya.” Nabi Isa a.s. berkata, “Binasalah kalian. Demi Tuhanku, kalian telah meminta kepada nabi kalian supaya memohonkan kepada Tuhan kalian akan hidangan ini, tetapi setelah Tuhan mengabulkannya dan menurunkannya kepada kalian karena belas kasihan kepada kalian dan sebagai rezeki buat kalian, serta diperlihatkan-Nya tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kalian untuk kalian jadikan sebagai pelajaran, ternyata kalian balas mendustakan dan meragukannya. Maka tunggulah azab yang pasti akan menimpa kalian, kecuali bila Allah merahmati kalian.” Maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Isa a.s., bahwasanya Dia akan menghukum orang-orang yang berdusta sesuai dengan syarat yang telah dikemukakan-Nya. Sesungguhnya Dia akan mengazab di antara mereka orang-orang yang ingkar terhadap hidangan itu sesudah ia diturunkan, yaitu dengan azab yang belum pernah Dia timpakan kepada seseorang pun dari umat manusia. Kemudian pada petang harinya ketika orang-orang yang ragu itu mulai pergi ke tempat peraduannya bersama istri-istrinya dalam keadaan yang baik lagi selamat, tiba-tiba di penghujung malam harinya Allah mengutuk mereka menjadi babi. Selanjutnya pada pagi harinya mereka pergi ke tempat-tempat yang kotor, yaitu tempat-tempat pembuangan sampah, sebagaimana layaknya babi.