Hadis ini sahih, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah sepakat dengan hadis ini dalam pengetengahannya melalui riwayat Az-Zuhri. Akan tetapi, di dalam riwayat Imam Bukhari tidak disebutkan Habibah, dan hanya di dalam riwayat Imam Muslim yang disebutkan. Di dalam hadis ini terdapat banyak hal yang jarang terjadi dalam isnad-nya. Antara lain ialah riwayat Az-Zuhri dari Urwah, padahal kedua-duanya adalah Tabi’in. Hal yang jarang lainnya ialah di dalam sanad hadis ini terdapat empat orang wanita yang sebagian darinya meriwayatkan hadis ini dari sebagian yang lainnya, kemudian mereka semua adalah sahabat. Dua orang wanita di antaranya adalah anak tiri Nabi Saw., sedangkan dua wanita lainnya adalah istri-istri Nabi Saw.
Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Hurairah pula.
فَقَالَ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا مُؤمَّل بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنِ ابْنِ طَاوُسٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: “فُتِح الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذَا” وَعَقَدَ التِّسْعِينَ.
Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Wahb, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Pada hari ini telah dibuka sebagian dari bendungan Ya-juj dan Ma-juj selebar ini. Lalu Nabi Saw. mengisyaratkan dengan (jari-jari) tangannya menunjukkan bilangan sembilan puluh sembilan.’
Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Wahb dengan sanad yang sama.
*******************
Firman Allah Swt.:
{قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي}
Zulqarnain berkata, “(bendungan) ini adalah rahmat dari Tuhanku.” (Al-Kahfi: 98)
Zulqarnain setelah membangun bendungan (dinding) itu berkata: (bendungan) ini adalah rahmat Tuhanku. (Al-Kahfi: 98) buat umat manusia, karena bendungan tersebut mendindingi antara mereka (manusia) dengan Ya-juj dan Ma-juj, sehingga Ya-juj dan Ma-juj tidak dapat mengacau dan merusak bumi (tempat manusia tinggal).
{فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي}
maka bila telah datang janji Tuhanku. (Al-Kahfi: 98)
maksudnya apabila telah dekat janji yang benar, yakni hari kiamat.
{جَعَلَهُ دَكَّاءَ}
Dia akan menjadikannya hancur luluh. (Al-Kahfi: 98)
Yakni rata dengan tanah. Orang-orang Arab mengatakan sehubungan dengan makna dakka, bahwa naqatun dakka’ artinya unta yang tidak ada punuk pada punggungnya sehingga punggungnya rata. Allah Swt. telah berfirman dalam ayat lain:
{فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا}
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh. (Al-A’raf: 143)
Yaitu rata dengan tanah.
Ikrimah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: maka apabila sudah datang janji Tuhanku. Dia akan menjadikannya hancur luluh. (Al-Kahfi: 98) Maksudnya, menjadi jalan seperti semula sebelum dibangun dinding itu. dan janji Tuhanku adalah benar. (Al-Kahfi: 98) Yakni pasti terjadi.
*******************
Firman Allah Swt.:
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ
Kami biarkan sebagian dari mereka. (Al-Kahfi: 99)
Yaitu sebagian dari manusia.
يَوْمَئِذٍ
di hari itu. (Al-Kahfi: 99)
Yakni pada hari hancurnya bendungan itu, lalu Ya-juj dan Ma-juj keluar dari dinding itu menuju ke dunia manusia, maka Ya-juj dan Ma-juj datang bergelombang menyerang manusia dengan menimbulkan kerusakan pada harta benda dan menghancurkan segala sesuatu yang dimiliki manusia.
Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Saddi sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain. (Al-Kahfi: 99) Demikian itu terjadi ketika Ya-juj dan Ma-juj keluar menuju ke dunia manusia. Hal ini terjadi sebelum hari kiamat dan sesudah peristiwa Dajjal, seperti yang akan dijelaskan nanti dalam tafsir firman Allah Swt. yang mengatakan:
{حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ * وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ}
Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit). (Al-Anbiya: 96-97)
Dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:
{وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ}
Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain. (Al-Kahfi: 99)
Bahwa hal ini merupakan permulaan hari kiamat,
{وَنُفِخَ فِي الصُّورِ}
kemudian ditiup lagi sangkakala. (Al-Kahfi: 99)
Yakni sesudah peristiwa itu.
{فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا}
lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya. (Al-Kahfi: 99)
Ulama lainnya berpendapat sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lainnya. (Al-Kahfi: 99) Bahwa hal ini menceritakan tentang jin dan manusia pada hari kiamat nanti, mereka bercampur aduk dengan yang lainnya menjadi satu.
Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Humaid, dari Ya’qub Al-Qummi, dari Harun ibnu Antrah, dari seorang guru dari kalangan Bani Fazzarah sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain. (Al-Kahfi: 99) Bahwa apabila jin dan manusia bercampur aduk menjadi satu, iblis berkata, “Aku akan mencari berita tentang perkara ini buat kalian.” Maka iblis pergi ke arah timur, ia menjumpai para malaikat telah menghadangnya. Kemudian iblis pergi ke arah barat, maka ia menjumpai para malaikat yang telah menjaga bumi kawasan itu. Iblis berkata, “Tidak ada jalan.” Lalu ia pergi ke arah kanan dan kiri sampai ke ujung dunia, maka ia menjumpai para malaikat menjaganya, hingga iblis berkata, “Tidak ada jalan bagiku.” Ketika iblis dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba di tengah jalan muncul sesuatu seperti jaring, maka jaring itu menangkap iblis dan keturunannya. Ketika iblis dan keturunannya telah masuk ke dalam perangkap itu, tiba-tiba neraka bergejolak, dari dalamnya Allah mengeluarkan salah seorang malaikat penjaganya. Malaikat itu berkata.”Hai iblis, bukankah dahulu kamu mempunyai kedudukan di sisi Tuhanmu, bukankah kamu dahulu tinggal di dalam surga?” Iblis menjawab, “‘Hari ini bukanlah hari celaan. Seandainya Allah memfardukan kepada diriku suatu kewajiban, niscaya aku akan menyembah-Nya dalam menunaikan kewajiban itu dengan amal ibadah yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun semisalnya dari kalangan makhluk-Nya.” Malaikat penjaga neraka itu berkata, “Sesungguhnya Allah telah memfardukan kepadamu suatu kewajiban’ Iblis bertanya, “kewajiban apakah itu?” Malaikat menjawab, “Allah memerintahkan kepadamu agar masuk neraka.” Maka malaikat itu mengibaskan sayapnya kepada iblis dan keturunannya, sehingga iblis dan keturunannya terlempar ke dalam neraka. Saat itu neraka bergemuruh menggelegar dengan suara yang dahsyat; tiada seorang malaikat terdekat, dan tiada seorang nabi yang diutus pun melainkan terduduk bersideku di atas lututnya (karena ketakutan).
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Ya’qub Al-Qummi dengan sanad yang sama. Kemudian ia meriwayatkannya pula melalui jalur lain, dari Ya’qub, dari Harun, dari Antrah, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain. (Al-Kahfi: 99) Bahwa makna yang dimaksud ialah jin dan manusia bercampur aduk antara satu dengan yang lainnya, menjadi satu.