Al-Kahfi, ayat 45-46

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).

وَرَوَى مَالِكٌ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَيَّادٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ: “الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ” سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بَاللَّهِ.

Malik telah meriwayatkan dari Imarah ibnu Abdullah ibnu Shayyad, dari Sa’id ibnul Musayyab yang mengatakan bahwa al-baqiyatus salihat adalah kalimah: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar; dan tidak ada daya dan tidak ada ke­kuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

Muhammad ibnu Ajlan telah meriwayatkan dari Imarah, “Sa’id ibnul Musayyab pernah bertanya kepadaku tentang makna al-baqiyatus salihat, maka aku menjawab, ‘Salat dan saum.’ Sa’id ibnul Musayyab berkata, ‘Jawabanmu tidak tepat.’ Aku berkata, ‘Zakat dan haji.’ Sa’id ibnul Musayyab berkata, ‘Jawabanmu masih kurang tepat juga, tetapi sesungguhnya yang dimaksud dengannya adalah lima buah kalimat,’ yaitu:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, dan tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah’.”

وَقَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْم، عَنْ نَافِعٍ عَنْ سَرْجس، أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أنه سأل ابن عمر عن: {الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ} قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ.

Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Us­man ibnu Khaisam, dari Nafi’ ibnu Sarjis; ia pernah menceritakan kepada­nya bahwa ia bertanya kepada Ibnu Umar tentang apa yang dimaksud dengan istilah al-baqiyatus salihat. Maka Ibnu Umar r.a. menjawab: Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.

Ibnu Juraij dan Ata ibnu Abu Rabah mengatakan pula hal yang serupa dengan itu.

Mujahid mengatakan, yang dimaksud dengan al-baqiyatus salihat ialah ucapan:

سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Al-Hasan dan Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh. (Al-Kahfi: 46) Bahwa yang dimaksud dengannya ialah ucapan: Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, segala puji bagi Allah, dan Mahasuci Allah.

قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنِ الْحَسَنِ بْنِ الصَّبَاحِ الْبَزَّارِ، عَنْ أَبِي نَصْرٍ التَّمَّارِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، منَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ”

Ibnu Jarir mengatakan, “Saya menjumpai di dalam kitab saya sebuah hadis dari Al-Hasan ibnus Sabbah Al-Bazzar, dari Abu Nasr At-Tammar, dari Abdul Aziz ibnu Muslim, dari Muhammad ibnu Ajlan, dari Sa’id Al-Maqbari, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Mahabesar; semuanya itu adalah amalan-amalan yang kekal lagi saleh’.”

وَحَدَّثَنِي يُونُسُ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ أَنَّ دَرَّاجًا أَبَا السَّمْحِ حَدّثه، عَنِ ابْنِ الْهَيْثَمِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ: “اسْتَكْثِرُوا مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ”. قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “الْمِلَّةُ”. قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “التَّكْبِيرُ، وَالتَّهْلِيلُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ”.

Telah menceritakan pula kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris, bah­wa Darij (yaitu Abus Samah) pernah menceritakan kepadanya, dari Abul Haisam, dari Abu Sa’id, bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Perbanyaklah oleh kalian amalan-amalan yang kekal lagi sa­leh.” Ketika ditanyakan, “Apakah yang dimaksud dengannya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Al-millah (agama).” Di­tanyakan lagi, “Apakah yang dimaksud dengannya, wahai Ra­sulullah?” Rasulullah Saw. bersabda, “Takbir (Allah Mahabe­sar), tahlil (tidak ada Tuhan selain Allah), tasbih (Mahasuci Allah), dan segala puji bagi Allah serta tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.”

Imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini melalui riwayat Darij dengan sanad yang sama.

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Sakhr, bahwa Abdullah ibnu Abdur Rahman (pelayan Salim ibnu Abdullah) telah mence­ritakan kepadanya bahwa Salim pernah mengutusnya kepada Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi untuk suatu keperluan. Salim berpesan, “Sampaikan­lah kepadanya, hendaknya dia menemuiku di pinggir kuburan ini, karena aku mempunyai suatu keperluan dengannya.” Maka keduanya bertemu dan salah seorang mengucapkan salam kepada yang lainnya, kemudian Salim berkata kepadanya, “Bagaimanakah menurutmu makna al-baqiyatus salihat?’ Muhammad ibnu Ka’b Al-Qurazi menjawab, “Tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, Mahasuci Allah, dan tidak ada daya serta tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah.” Salim berkata kepada Ibnu Ka’b, “Sejak kapan engkau jadikan kalimah ‘La Haula Wala Ouwwata lila Billah’ ke dalam al-baqiyatus sdlihat?’ Ibnu Ka’ b menjawab, “Saya selalu menggabungkannya ke dalamnya.” Salim terus menanyainya sebanyak dua atau tiga kali, tetapi Ibnu Ka’b tetap teguh dengan pendiriannya. Akhirnya Ibnu Ka’b berkata, “Kamu memprotes?” Salim menjawab, “Ya, saya memprotes, karena sesungguhnya saya per­nah mendengar Abu Ayyub Al-Ansari menceritakan hadis berikut, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

“عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ فَأُرِيتُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، فَقَالَ: يَا جِبْرِيلُ مَنْ هَذَا مَعَكَ؟ فَقَالَ: مُحَمَّدٌ فَرَحَّبَ بِي وسَهَّل، ثُمَّ قَالَ: مُرْ أُمَّتَكَ فَلْتُكْثِرْ مِنْ غِرَاسِ الْجَنَّةِ، فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ وَأَرْضَهَا وَاسِعَةٌ. فَقُلْتُ: وَمَا غِرَاسُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ”

Aku dinaikkan ke langit, dan di langit aku melihat Ibrahim a.s. Maka Ibrahim bertanya, ‘Hai Jibril, siapakah orang yang bersamamu ini?’ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Maka Ibrahim menyambut kedatanganku dengan sambutan yang gembira lagi hangat. Kemudian Ibrahim berkata, ‘Perintahkanlah kepada umatmu agar mereka memperbanyak tanaman surga, karena sesungguhnya surga itu tanahnya wangi dan buminya luas sekali.’ Aku bertanya, ‘Apakah tanaman surga itu?’ Ibrahim menjawab: Tidak ada daya (untuk menghindarkan diri dari kedurhakaan) dan tidak ada kekuatan (untuk mengerjakan ibadah) kecuali dengan (pertolongan)Allah’.”

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنِ الْعَوَّامِ، حَدَّثَنِي رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، مِنْ آلِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ صَلَاةِ الْعِشَاءِ، فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ خَفَضَ، حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ، ثُمَّ قَالَ: “أَمَّا إِنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَمَالَأَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَا أَنَا مِنْهُ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُمَالِئْهُمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ. أَلَا وَإِنَّ “سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ هُنّ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتُ”

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.