Al-Furqan, ayat 48-50

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (darinya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari nikmat. (Al-Furqan: 50)

Yaitu agar mereka mengambil pelajaran melalui bumi yang dihidupkan oleh Allah Swt. sesudah matinya melalui air hujan, bahwa Allah Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang mati dan tulang-belulang yang telah hancur. Atau agar orang yang tidak beroleh hujan menjadi ingat bahwa sesungguhnya tidak sekali-kali ia mengalami musim kering hanyalah karena suatu dosa yang dilakukannya. Karena itu, ia sadar dan menghentikan perbuatan dosanya.

قَالَ عُمَر مَوْلَى غُفْرَة: كَانَ جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فِي مَوْضِعِ الْجَنَائِزِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا جِبْرِيلُ، إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَعْلَمَ أمْرَ السَّحَابِ؟ ” قَالَ: فَقَالَ جِبْرِيلُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، هَذَا مَلِكُ السَّحَابِ فَسَلْهُ. فَقَالَ: تَأْتِينَا صَكاك مُخَتَّمة: اسْقِ بِلَادَ كَذَا وَكَذَا، كَذَا وَكَذَا قَطْرَةً.

Umar maula Uqbah pernah mengatakan bahwa pada suatu ketika Jibril a.s. ikut mengantar jenazah hingga sampai di tempat pengebumian­nya. Maka Nabi Saw. bertanya, “Hai Jibril, sesungguhnya saya ingin mengetahui tentang hal ikhwal awan.” Maka Jibril menjawab, “Hai Nabi Allah, inilah malaikat penjaga awan, maka tanyakanlah langsung kepadanya.” Malaikat penjaga awan berkata, “Didatangkan kepada kami surat perintah yang bercap (di dalamnya tertulis perintah)’ Siramilah negeri anu dan anu dengan siraman hujan!’.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim, hadis berpredikat mursal.

****

Firman Allah Swt.:

{فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلا كُفُورًا}

maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari nikmat. (Al-Furqan: 50)

Ikrimah mengatakan bahwa manusia yang dimaksud ialah orang-orang yang mengatakan, “Kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu.” Apa yang diutarakan oleh Ikrimah ini senada dengan apa yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang diketengahkan di dalam kitabSahih Muslim yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. di suatu hari bersabda kepada para sahabatnya sehabis hujan di malam harinya:

“أَتَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ” قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: “قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَاكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ. وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَاكَ كَافِرٌ بِي، مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ”

“Tahukah kalian apa yang dikatakan oleh Tuhan Kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi Saw. bersabda, “Sebagian di antara hamba-hamba-Kupagi hari ini ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan berkat kemurahan dan rahmat Allah, ‘ maka dia adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Kami diberi hujan oleh bintang anu dan anu,’ maka orang itu kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang-bintang.

Tulisan ini dimuat dalam Tafsir Ibnu Katsir.