{أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى مَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ يَتَفَيَّأُ ظِلالُهُ}
Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik. (An-Nahl: 48)
{قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ}
keduanya (langit dan bumi) menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat: 11)
{لَوْ أَنزلْنَا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ}
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung. (Al-Hasyr: 21)
{وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ}
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang telah menjadikan kami dapat berbicara ….” (Fushshilat: 21)
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
“هَذَا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ”
Gunung ini (yakni Gunung Uhud) adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya.
Hadis lainnya ialah seperti hadis yang menceritakan rintihan dan tangisan batang pohon kurma ketika ditinggalkan oleh Nabi Saw., seperti yang dijelaskan di dalam hadis yang mutawatir.
Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan sebuah hadis:
“إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلِيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ”
Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sebuah batu di Mekah yang pernah mengucapkan salam penghormatan kepadaku sebelum aku diangkat menjadi utusan (rasul); sesungguhnya aku sekarang benar-benar masih mengetahui tempatnya
Demikian pula hadis yang menceritakan tentang sifat hajar aswad. Di dalamnya disebutkan bahwa di hari kiamat kelak hajar aswad akan menjadi saksi yang membela orang yang pernah mengusapnya. Masih banyak hadis lainnya yang menceritakan hal yang semakna.
Imam Qurtubi mengetengahkan sebuah pendapat yang mengatakan bahwa huruf ‘ataf dalam ayat ini (Al-Baqarah: 74) mengandung makna takhyir, yakni misal untuk ini dan misal untuk itu. Contohnya dalam perkataan orang-orang Arab, “Jalisil hasana au Ibnu Sinn” (duduklah dengan Hasan atau Ibnu Sirin). Demikian pula yang diriwayatkan oleh Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya. Tetapi Ar-Razi menambahkan pendapat yang lain, yaitu yang mengatakan bahwa huruf ‘ataf yang ada dalam ayat ini menunjukkan makna ibham bila dihubungkan dengan mukhatab (lawan bicara). Perihalnya sama dengan ucapan seseorang kepada lawan bicaranya, “Kamu telah makan roti atau kurma,” padahal si pembicara mengetahui mana yang dimakan oleh si lawan bicara.
Pendapat lain mengatakan bahwa huruf ‘ataf dalam ayat ini semakna dengan ucapan seseorang, “Makanlah manisan atau asam-asaman.” Dengan kata lain, tidak dapat makan selain dari salah satu di antara keduanya. Yakni hati kalian telah menjadi keras seperti batu atau lebih keras lagi daripada itu. Dengan kata lain, keadaan hati mereka tidak keluar dari salah satu di antara kedua pengertian tersebut.
Para ulama bahasa Arab berbeda pendapat mengenai makna firman-Nya; maka hati mereka keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (Al-Baqarah: 74) sesudah adanya kesepakatan di antara mereka bahwa mustahil huruf ‘ataf’ ini bermakna syak (ragu). Sebagian dari mereka mengatakan bahwa huruf au dalam ayat ini bermakna sama dengan huruf wawu (bermakna dan). Bentuk lengkapnya adalah seperti berikut: Fahiya kal hijarati wa asyaddu qaswah (maka hati mereka keras seperti batu dan lebih keras lagi). Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
{وَلا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا}
dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al-Insan: 24)
عُذْراً أَوْ نُذْراً
untuk menolak alasan-alasan dan memberi peringatan. (Al-Mursalat: 6)
Juga seperti apa yang dikatakan oleh An-Nabigah Az-Zibyani (seorang penyair Jahiliah), yaitu:
الَتْ أَلَا لَيْتَمَا هَذَا الحمامُ لَنَا … إِلَى حَمامتنا أَوْ نِصفُه فَقدِ
Mereka mengatakan, “Aduhai, seandainya burung merpati ini menjadi milik kami menyatu dengan burung merpati milik kami dan separo darinya hilang.”
Menurut Ibnu Jarir, makna yang dimaksud ialah ‘mereka menghendaki burung merpati itu, juga separo dari merpati miliknya’. Penyair lainnya bernama Jarir ibnu Atiyyah mengatakan pula:
نَالَ الخِلافَةَ أَوْ كَانَتْ لَهُ قَدَرًا … كَمَا أَتَى ربَّه مُوسى عَلَى قَدَرِ
Dia (orang yang dipuji oleh penyair) memperoleh tampuk khalifah dan kekhalifahan itu sudah merupakan takdir baginya, sama halnya dengan Musa yang datang kepada Tuhannya di waktu yang telah ditentukan.
Ibnu Jarir mengatakan, makna yang dimaksud ialah bahwa si Mamduh memperoleh kekhalifahan yang sudah merupakan kepastian baginya.
Ulama lainnya mengatakan bahwa huruf au dalam ayat ini (Al-Baqarah: 74) bermakna bal (bahkan), hingga bentuk lengkapnya ialah seperti berikut: Fahiya kal hijarati bal asyaddu qaswah (maka hati mereka keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi). Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
{إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً}
tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat takut dari itu. (An-Nisa: 77)
{وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ}
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang, bahkan lebih. (Ash-Shaffat: 147)
{فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى}
Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah, bahkan lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9)
Ulama lainnya mengatakan bahwa makna au adalah menurut aslinya, yaitu: Maka hatinya keras seperti batu atau lebih keras lagi daripada batu yang biasa kalian lihat. Demikian menurut riwayat Ibnu Jarir.
Ulama lainnya mengatakan, makna yang dimaksud ialah ibham (menyamarkan pengertian) terhadap mukhatab (lawan bicara), seperti pengertian yang terdapat di dalam perkataan Abul Aswad, yaitu:
أُحِبُّ مُحَمَّدًا حُبا شَدِيدًا … وعبَّاسا وحمزةَ وَالْوَصِيَّا
فَإِنْ يَكُ حُبّهم رَشَدًا أُصِبْهُ … وَلَسْتُ بِمُخْطِئٍ إِنْ كَانَ غَيَّا
Aku cinta kepada Muhammad dengan kecintaan yang mendalam, juga (aku cinta kepada) Abbas, Hamzah, dan orang yang diwasiati (Ali). Maka apabila cinta kepada mereka dianggap sebagai jalan ke arah peiunjuk, maka aku mencintainya dengan kecintaan yang mendalam. Dan tidaklah keliru bila cinta kepada mereka dianggap sebagai suatu kesesatan.
Ibnu Jarir mengatakan, para ulama berpendapat bahwa Abul Aswad sama sekali tidak meragukan bahwa cinta kepada orang-orang yang telah dia sebut namanya itu dianggap sebagai jalan menuju ke arah petunjuk (hidayah), tetapi dia ungkapkan hal ini secara mubham (menyamarkan) terhadap lawan bicaranya.
Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa telah disebutkan suatu riwayat dari Abul Aswad sendiri ketika dia mengatakan bait-bait syair ini ada orang yang bertanya kepadanya, “Apakah engkau merasa ragu?” Maka ia menjawab, “Sama sekali tidak, demi Allah.” Kemudian ia membantahnya dengan membacakan firman-Nya:
{وَإِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلَى هُدًى أَوْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ}
dan sesungguhnya kami atau kalian (orang-orang musyrik) pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Saba’: 24)
Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa orang yang diberitakan hal ini berada dalam keraguan, siapakah di antara mereka yang mendapat petunjuk dan siapa pula yang sesat?