Tetapi pendapat yang sangat jauh dari kebenaran —bahkan sangat keliru— ialah yang mengatakan bahwa lelaki itu telah diberi kenabian, lalu ia melepaskan kenabian itu. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari sebagian di antara mereka (ulama), tetapi tidak sahih.
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Musa dan orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal’am (yang bertempat tinggal di negeri itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya. Lalu mereka berkata, “Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan mempunyai bala tentara yang banyak. Sesungguhnya dia jika menang atas kita, niscaya dia akan membinasakan kita. Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia mengusir Musa dan bala tentaranya dari kita. Bal’am menjawab, “Sesungguhnya jika aku berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan orang-orang yang bersamanya dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan akhiratku.” Mereka terus mendesaknya hingga akhirnya Bal’am mau berdoa. Maka Allah melucuti apa yang ada pada dirinya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda). (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat.
As-Saddi mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang disebutkan di dalam firman Nya : maka sesungguhnya negeri ini diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Al-Maidah: 26) Maka Allah mengutus Yusya’ ibnu Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya’ menyeru kaum Bani Israil (untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang yang gagah perkasa. Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal’am berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa. Dia adalah orang yang mengetahui tentang Ismul A’zam yang rahasia (apabila dibaca, maka semua permintaannya dikabulkan seketika). Tetapi ia kafir dan berkata kepada orang-orang yang gagah perkasa, “Janganlah kalian takut kepada Bani Israil. Karena sesungguhnya jika kalian berangkat untuk memerangi mereka, maka saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan akhirnya mereka pasti hancur.” Bal’am hidup di kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara duniawi yang dikehendakinya, hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan wanita karena wanita orang-orang yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya. Maka Bal’am hanya dapat menggauli keledainya. Kisah inilah yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A’raf: I75)
*******************
Firman Allah Swt.:
{فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ}
lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda). (Al-A’raf: 175)
Artinya, setan telah menguasai dirinya dan urusannya; sehingga apabila setan menganjurkan sesuatu kepadanya, ia langsung mengerjakan dan menaatinya. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan :
{فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ}
makajadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-A’raf: 175)
Ia termasuk orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.
Sehubungan dengan makna ayat ini terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، عَنِ الصَّلْتِ بْنِ بَهْرام، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا جُنْدُب الْبَجَلِيُّ في هذا المسجد؛ أن حذيفة -يعني بن الْيَمَانِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -حَدَّثَهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: “أن مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَيْكُمْ رجُل قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُؤِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ وَكَانَ رِدْء الْإِسْلَامِ اعْتَرَاهُ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، انْسَلَخَ مِنْهُ، وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ، وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ”. قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا أَوْلَى بِالشِّرْكِ: الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: “بَلِ الرَّامِي”.
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakar, dari As-Silt ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Jundub Al-Jabali di masjid ini; Huzaifah ibnul Yaman r.a. pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan terhadap kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an, hingga manakala keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah sikap dan perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, maka ia melepaskan diri dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an ia lemparkan di belakang punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan senjata dan menuduhnya telah musyrik. Huzaifah ibnul Yaman bertanya, “Wahai Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang yang dituduhnya ataukah si penuduhnya?” Rasulullah Saw. menjawab, “Tidak, bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik).”
Sanad hadis ini berpredikat jayyid. As-Silt ibnu Bahram termasuk ulama siqah dari kalangan penduduk Kufah, dia tidak pernah dituduh melakukan sesuatu hal yang membuatnya cela selain dari Irja (salah satu aliran dalam mazhab tauhid). Imam Ahmad ibnu Hambal menilainya siqah, demikian pula Yahya ibnu Mu’in dan lain-lainnya.
*******************
Firman Allah Swt.:
{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ}
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. (Al-A’raf: 176)
Sedangkan firman Allah Swt.:
{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا}
Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 176)
Maksudnya, niscaya Kami mengangkatnya dari pencemaran kekotoran duniawi dengan ayat-ayat yang telah Kami berikan kepadanya.
{وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ}
tetapi dia cenderung kepada dunia. (Al-A’raf: 176)
Yakni cenderung kepada perhiasan kehidupan dunia dan kegemerlapannya. Dia lebih menyukai kelezatan, kenikmatan, dan bujuk rayunya. Dia teperdaya oleh kesenangan duniawi sebagaimana teperdaya orang-orang yang tidak mempunyai pandangan hati dan akal.
Abu Rahawaih telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi dia cenderung kepada dunia (Al-A’raf: 176) Bahwa setan menampakkan dirinya kepada dia di atas ketinggian sebuah jembatan di Banias, lalu keledai yang dinaikinya bersujud kepada Allah, tetapi dia sendiri (yakni Bal’am) sujud kepada setan itu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu Mafir dan ulama lainnya yang bukan hanya seorang.
Imam Abu Ja’far ibnu Jarir mengatakan bahwa, kisah yang menyangkut lelaki ini antara lain ialah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Abdul A’la. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Mu’tamir, dari ayahnya yang ditanya mengenai makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi AlKitab). (Al-A’raf: 175) Maka ayahnya menceritakan kisah yang pernah ia terima dari Sayyar, bahwa dahulu kala ada seorang lelaki yang dikenal dengan nama Bal’am. Bal’am adalah orang yang doanya dikabulkan. Kemudian Nabi Musa berangkat dengan pasukan kaum Bani Israil menuju negeri tempat Bal’am berada, atau negeri Syam. Lalu penduduk negeri tersebut merasa sangat takut dan gentar terhadap Musa a.s. Maka mereka mendatangi Bal’am dan mengatakan kepadanya, “Doakanlah kepada Allah untuk kehancuran lelaki ini (yakni Nabi Musa a.s.) dan bala tentaranya.” Bal’am menjawab, “Tunggulah sampai aku meminta saran dari Tuhanku, atau aku diberi izin oleh-Nya.” Bal’am meminta saran dari Tuhannya dalam doanya yang memohon untuk kehancuran Musa dan pasukannya. Maka dijawab, “Janganlah kamu mendoakan buat kehancuran mereka, karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Ku, dan di antara mereka terdapat nabi mereka.” Maka Bal’am melapor kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku dalam doaku yang memohon untuk kehancuran mereka, tetapi aku dilarang melakukannya. Maka mereka memberikan suatu hadiah kepada Bal’am dan Bal’am menerimanya. Kemudian mereka kembali kepada Bal’am dan mengatakan kepadanya, “Doakanlah untuk kehancuran mereka,” Bal’am menjawab, ‘Tunggulah, aku akan meminta saran kepada Tuhanku.” Lalu Bal’am meminta saran Kepada Nya, ternyata Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadanya. Maka Bal’am berkata (kepada kaumnya), “Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku, tetapi Dia tidak memerintahkan sesuatu pun kepadaku.” Kaumnya berkata, “Sekiranya Tuhanmu tidak suka engkau mendoakan untuk kehancuran mereka, niscaya Dia akan melarangmu pula sebagaimana Dia melarangmu pada pertama kalinya.” Bal’am terpaksa berdoa untuk kebinasaan mereka. Tetapi apabila ia mendoakan untuk kehancuran mereka (Musa dan pasukannya), maka yang terucapkan oleh lisannya justru mendoakan untuk kehancuran kaumnya. Dan apabila ia mendoakan untuk kemenangan kaumnya, justru lisannya mendoakan untuk kemenangan Musa dan pasukannya atau hal yang semacam itu, seperti apa yang dikehendaki oleh Allah. Maka kaumnya berkata, “Kami tidak melihatmu berdoa melainkan hanya untuk kehancuran kami.” Bal’am menjawab, “Tiada yang terucapkan oleh lisanku melainkan hanya itu. Sekiranya aku tetap mendoakan untuk kehancurannya, niscaya aku tidak diperkenankan. Tetapi aku akan menunjukkan kepada kalian suatu perkara yang mudah-mudahan dapat menghancurkan mereka. Sesungguhnya Allah murka terhadap perbuatan zina, dan sesungguhnya jika mereka terjerumus ke dalam perbuatan zina, niscaya mereka akan binasa; dan aku berharap semoga Allah membinasakan mereka melalui jalan ini.” Bal’am melanjutkan ucapannya, “Karena itu, keluarkanlah kaum wanita kalian untuk menyambut mereka. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sedang musafir, mudah-mudahan saja mereka mau berzina sehingga binasalah mereka.” Kemudian mereka melakukan hal itu dan mengeluarkan kaum wanita mereka menyambut pasukan Nabi Musa a.s. Tersebutlah bahwa raja mereka mempunyai seorang anak perempuan, perawi menyebutkan perihal kebesaran tubuhnya yang kenyataannya hanya Allah yang mengetahuinya. Lalu ayahnya atau Bal’am berpesan kepadanya, “Janganlah engkau serahkan dirimu selain kepada Musa.” Akhirnya pasukan Bani Israil terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kemudian datanglah kepada wanita tadi seorang pemimpin dari salah satu kabilah Bani Israil yang menginginkan dirinya. Maka wanita itu berkata, “Saya tidak mau menyerahkan diri saya selain kepada Musa.” Pemimpin suatu Kabilah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu adalah anu dan anu, dan keadaanku anu dan anu.” Akhirnya si wanita mengirim utusan kepada ayahnya meminta saran darinya. Maka ayahnya berkata kepadanya, “Serahkanlah dirimu kepadanya.” Lalu pemimpin kabilah itu menzinainya. Ketika mereka berdua sedang berzina, datanglah seorang lelaki dari Bani Harun seraya membawa tombak, lalu menusuk keduanya. Allah memberinya kekuatan yang dahsyat sehingga keduanya menjadi satu tersatekan oleh tombaknya, kemudian ia mengangkat keduanya dengan tombaknya itu, sehingga semua orang melihatnya. Maka Allah menimpakan penyakit ta’un kepada mereka, sehingga matilah tujuh puluh ribu orang dari kalangan pasukan Bani Israil.